Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Deideng, PNB Karya Indah (Karya Yehezkiel)

Puisi “Deideng, PNB Karya Indah” karya Yehezkiel bercerita tentang pelaksanaan ritual keagamaan dan kebudayaan dalam tradisi Batak, yang dilakukan ...

Deideng, PNB Karya Indah

Sorakan 𝘩𝘰𝘳𝘢𝘴 bergema,
Sontak 𝘵𝘰𝘳-𝘵𝘰𝘳 beriringan dengan tabuhan 𝘨𝘰𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨.
Di balik liuk tarian 𝘚𝘪𝘨𝘢𝘭𝘦-𝘨𝘢𝘭𝘦,
Hantar puja pada Pencipta.

Senin suci, dalam cawan air suci,
Semerbak aroma jeruk purut membayangi,
Sesajen suci pada 𝘔𝘶𝘭𝘢𝘫𝘢𝘥𝘪, 𝘕𝘢𝘱𝘶𝘯𝘢 𝘛𝘢𝘯𝘰 𝘥𝘰𝘩𝘰𝘵 𝘗𝘰𝘳𝘵𝘪𝘣𝘪.
Lengkingan 𝘴𝘢𝘳𝘶𝘯𝘦, gemuruh 𝘨𝘰𝘯𝘨, siulan 𝘴𝘶𝘭𝘪𝘮.

𝘎𝘰𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘉𝘰𝘭𝘰𝘯 dikumandangkan,
Memuja leluhur pembimbing jiwa,
𝘉𝘰𝘳𝘢𝘴 𝘗𝘪𝘳𝘯𝘪𝘵𝘰𝘯𝘥𝘪, agar umatnya teguh berdiri.
Menyandang gelar bangsawan sejati,
Sebagai putra dan putri raja.

𝘋𝘢𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘕𝘢𝘵𝘰𝘭𝘶, amanat raja agung laksana,
𝘚𝘪𝘴𝘪𝘯𝘨𝘢𝘮𝘢𝘯𝘨𝘢𝘳𝘢𝘫𝘢 pemimpin suci 𝘈𝘭𝘪𝘮 ternama,
𝘕𝘢𝘮𝘢𝘥𝘢𝘣𝘶 𝘴𝘪𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵 𝘮𝘢𝘱𝘶𝘭𝘵𝘢𝘬𝘬 𝘴𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘭𝘶.

Aceh, 31 Oktober 2025
Catatan:
  • Deideng: lantunan syair dalam pemujaan leluhur dan Tuhan dalam agama Parmalim Batak Toba
  • PNB Karya Indah : organisasi kepemudaan tradisi kedewasaan pemuda Batak yang lahir dan berdomisili di desa karya indah, kecamatan Lawe Sigala-Gala, Aceh Tenggara
  • Horas: ucapan salam suku Batak
  • Tor tor: tarian Batak
  • Gondang: alat musik ansambel tradisional Batak
  • Sigale-Gale: patung berwujud anak si Raja Batak, konon menari setelah dirasuki roh leluhur
  • Mulajadi, Napuna Tano dohot Portibi: nama Dewa Batak, awal dari segalanya, pencipta langit dan semesta
  • Sarune: alat musik tiup tradisional Batak
  • Gong: alat musik Batak
  • Sulim: alat musik Batak (seruling)
  • Gondang Bolon: pemujaan besar dalam budaya Batak
  • Boras Pirnitondi: pemberkatan jiwa dan roh dengan menggunakan media beras
  • Dalihan Natolu: prinsip kehidupan, filosofi Batak
  • Sisingamangaraja: Kepala pemerintahan, kepala adat, sekaligus kepala agama Parmalim yang dianut suku Batak
  • Alim: agama Batak, agama ini sering disebut sesuatu nama pengikutnya, penganut agama ini disebut sebagai Parmalim
  • Namadabu sian langit, mapultak sian bulu: filosofi awal penciptaan manusia menurut agama Batak/Parmalim (jatuh dari langit, keluar dari bambu)

Analisis Puisi:

Puisi “Deideng, PNB Karya Indah” mengangkat tema tentang spiritualitas dan kebanggaan terhadap warisan budaya Batak Toba, terutama yang berkaitan dengan keagamaan Parmalim dan tradisi pemujaan leluhur. Yehezkiel menampilkan semangat sakral dan kebudayaan lokal yang berpadu dengan nilai-nilai religius, memperlihatkan bagaimana tradisi bukan sekadar seremonial, melainkan wujud kesadaran spiritual dan penghormatan terhadap asal-usul manusia Batak. Tema ini memperlihatkan bahwa kehidupan masyarakat tradisional tidak pernah lepas dari keseimbangan antara manusia, leluhur, dan pencipta — sesuatu yang menjadi inti ajaran Dalihan Natolu dan Alim (agama Batak).

Puisi ini bercerita tentang pelaksanaan ritual keagamaan dan kebudayaan dalam tradisi Batak, yang dilakukan oleh komunitas PNB Karya Indah — organisasi pemuda yang menjaga tradisi dan nilai-nilai kedewasaan spiritual di Desa Karya Indah, Aceh Tenggara.

Puisi dimulai dengan suasana upacara yang meriah:

“Sorakan horas bergema, / Sontak tor-tor beriringan dengan tabuhan gondang.”

Adegan ini menggambarkan momen sakral penuh semangat, di mana musik, tarian, dan doa berpadu sebagai bentuk penghormatan kepada Mulajadi, Napuna Tano dohot Portibi, Dewa pencipta alam semesta.

Lalu, penyair membawa pembaca ke lapisan makna yang lebih dalam — bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga pemujaan leluhur dan penghormatan terhadap Sisingamangaraja, sosok pemimpin spiritual dan pelindung adat Batak.

Puisi ini memvisualkan keseimbangan antara alam, manusia, dan dunia spiritual, sekaligus menggambarkan identitas Batak sebagai bangsa yang menjunjung nilai religius, hormat leluhur, dan keteguhan jiwa.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah ajakan untuk menjaga dan menghormati tradisi leluhur sebagai bagian dari jati diri dan spiritualitas bangsa. Yehezkiel menyampaikan bahwa ritual seperti Deideng dan Gondang Bolon bukan sekadar warisan budaya, tetapi penanda hubungan suci antara manusia dan penciptanya.

Baris:

“Gondang Bolon dikumandangkan, memuja leluhur pembimbing jiwa”

menunjukkan kesadaran bahwa jiwa manusia tidak pernah berjalan sendiri. Ia dibimbing oleh leluhur dan diterangi oleh doa suci agar tetap teguh di jalan kebenaran.

Makna lain yang tersirat adalah pembangkitan semangat generasi muda Batak (khususnya PNB Karya Indah) untuk tetap menjaga identitas mereka di tengah modernitas.

Dengan menghidupkan kembali nilai-nilai spiritual dan tradisi kuno, mereka memperkuat akar budaya agar tidak punah. Yehezkiel seolah berkata: modernitas boleh datang, tapi akar budaya dan keimanan tak boleh hilang.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini sakral, megah, dan khusyuk, berpadu dengan nuansa kebanggaan dan penghormatan. Pembaca seolah mendengar denting gondang, tiupan sarune, dan nyanyian Deideng yang mengalun dalam udara ritual. Kesan spiritual yang kuat terasa pada penggambaran:

“Senin suci, dalam cawan air suci, / Semerbak aroma jeruk purut membayangi.”

Suasana yang dihadirkan bukan hanya seremonial, tapi juga penuh ketenangan dan kekhidmatan — menggambarkan hubungan mendalam antara manusia, leluhur, dan Tuhan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang ingin disampaikan penyair adalah bahwa setiap manusia harus mengenali, menghargai, dan menjaga warisan budaya serta spiritual leluhurnya. Dalam konteks puisi ini, Yehezkiel menegaskan pentingnya kebanggaan menjadi bagian dari tradisi Batak — yang kaya makna, filosofi, dan nilai religius.

Puisi ini juga menyiratkan pesan tentang pentingnya kesadaran spiritual dan keseimbangan hidup. Manusia tidak boleh melupakan asal-usulnya, karena dalam penghormatan kepada leluhur dan pencipta terdapat kekuatan batin yang membuat jiwa teguh, seperti dalam baris:

“Boras Pirnitondi, agar umatnya teguh berdiri.”

Selain itu, puisi ini menjadi seruan moral bagi generasi muda PNB Karya Indah, agar tetap melanjutkan tradisi dengan penuh rasa hormat dan kesadaran, bukan sekadar seremoni kosong.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji bunyi, gerak, dan aroma yang membawa pembaca pada pengalaman ritual yang hidup:

Imaji bunyi:
  • “Tor-tor beriringan dengan tabuhan gondang,”
  • “Lengkingan sarune, gemuruh gong, siulan sulim”
menghadirkan suasana audio khas upacara adat Batak yang megah dan menggema.

Imaji gerak:
  • “Liuk tarian Sigale-Gale” menampilkan gerak ritmis sakral yang menghubungkan manusia dengan roh leluhur.
Imaji aroma:
  • “Semerbak aroma jeruk purut membayangi” — menghadirkan nuansa spiritual yang lembut, simbol penyucian diri dan kesakralan.
Imaji visual:
  • Gambaran “cawan air suci”, “sesajen suci”, dan “putra dan putri raja” memperkuat keindahan simbolik bahwa manusia Batak adalah keturunan yang luhur dan harus menjaga kemuliaan leluhurnya.

Majas

Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:

Personifikasi
  • “Terik kehidupan memeluk seorang gadis” (dalam karya lain Yehezkiel menggunakan gaya ini, dan dalam puisi ini gaya serupa tampak pada penggambaran tarian dan alat musik yang seolah hidup).
  • Gondang Bolon dikumandangkan, memuja leluhur pembimbing jiwa — alat musik diberi peran spiritual, seolah memiliki kesadaran untuk memuja.
Metafora
  • “Boras Pirnitondi” sebagai lambang pemberkatan jiwa.
  • “Putra dan putri raja” menjadi simbol generasi Batak yang berharga dan terhormat di hadapan leluhur.
Simbolisme
  • Hampir seluruh unsur budaya Batak dalam puisi ini (gondang, tor-tor, sesajen, sigale-gale) berfungsi sebagai simbol spiritualitas dan hubungan transenden antara manusia dan pencipta.
Puisi “Deideng, PNB Karya Indah” karya Yehezkiel merupakan karya yang menghidupkan spiritualitas dan budaya Batak Toba dalam bentuk yang sakral dan puitis. Melalui simbol-simbol tradisi seperti Gondang Bolon, Sigale-Gale, dan pemujaan kepada Mulajadi, Napuna Tano dohot Portibi, penyair menegaskan pentingnya menjaga jati diri dan menghormati leluhur. Dengan tema kebanggaan budaya dan spiritualitas, makna tersirat tentang kesetiaan pada akar leluhur, imaji ritual yang kuat, serta majas yang memperkuat nuansa sakral, puisi ini menjadi pengingat bahwa tradisi bukan masa lalu — tetapi nyawa yang terus hidup dalam setiap jiwa yang mengingat asalnya.

Puisi ini bukan sekadar doa, tetapi juga nyanyian penghormatan terhadap Tuhan, leluhur, dan tanah Batak itu sendiri.

Puisi Yehezkiel
Puisi: Deideng, PNB Karya Indah
Karya: Yehezkiel

Biodata Yehezkiel:
  • Yehezkiel Pernando Sihombing lahir pada tanggal 29 Agustus 2003 di Cikampak. Ia pernah beberapa kali mendapatkan gelar juara saat kompetisi puisi antar sekolah tingkat kecamatan saat menjadi pelajar di SD Swasta Grahadura Leidong Prima Kabupaten Labuhan Batu Utara Provinsi Sumatera Utara. Yehezkiel merupakan seorang misionaris pendoa Katolik Devosi wajah kudus sejak bulan September 2025. Ia juga aktif di kelas Asqa Imagination School (AIS) #61 mulai bulan Agustus 2025. Penulis bisa disapa di Instagram @yehezkiels1h0mb1n9
© Sepenuhnya. All rights reserved.