Pengakuan
kekasih, boleh jadi mulutku terjepit capit lupa
tiada kuasa mendaras indah bacaan sempurna
kekasih, tak mustahil bibirku terjahit jarum alpa
tiada sanggup melantunkan bacaan sempurna
kekasih, barangkali batinku terhimpit bongkah noda
tiada daya mencerna kilau makna bacaan sempurna
kekasih, jangan-jangan kalbuku tertindih berat dosa
tiada mampu membentang pesan bacaan sempurna
kekasih, bisa jadi jiwaku tertimbun arang prasangka
tiada kekuatan membabarkan isi bacaan sempurna
kekasih, mungkin memang aku tak pantas tinggal di surga
sebab buta hakikat bacaan sempurna – alpa mewujudkannya
kekasih, mungkin pantasku cuma menghuni jahanam neraka
tapi pasti kau tahu, apatah aku sanggup hidup sekejab di sana
lalu bagaimana: kekasih, aku rindu kau bersuara, ujarkan sabda!
Malang, 2001/2012
Sumber: Arung Diri (2013)
Analisis Puisi:
Puisi “Pengakuan” karya Djoko Saryono mengangkat tema penyesalan, pencarian spiritual, dan introspeksi diri di hadapan Tuhan. Penyair menyampaikan perasaan manusia yang sadar akan kelemahannya — bahwa ia sering lalai, berdosa, dan gagal memahami hakikat kebenaran sejati. Tema ini mencerminkan perjalanan batin seseorang yang merindukan ampunan dan bimbingan Ilahi setelah menyadari dirinya jauh dari kesempurnaan moral maupun spiritual.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang sedang mengakui dosa dan kelemahannya di hadapan Sang Kekasih Ilahi. “Kekasih” dalam puisi ini dapat ditafsirkan sebagai simbol Tuhan, sumber kasih dan kebenaran sejati.
Melalui serangkaian pengakuan yang diulang-ulang, penyair menggambarkan rasa bersalah dan kerinduan mendalam untuk kembali pada jalan spiritual yang benar. Setiap bait menampilkan kondisi batin yang berbeda-beda namun berporos pada satu kesadaran: manusia sering gagal memahami dan menjalankan ajaran suci.
“kekasih, boleh jadi mulutku terjepit capit lupa
tiada kuasa mendaras indah bacaan sempurna”
Baris ini menggambarkan seseorang yang tak mampu lagi mengucap doa atau membaca ayat dengan benar karena terjepit oleh kelalaian dan lupa akan Tuhan.
“kekasih, jangan-jangan kalbuku tertindih berat dosatiada mampu membentang pesan bacaan sempurna”
Di sini, penyair menegaskan bahwa dosa menumpuk hingga menghalangi cahaya makna dari firman-firman Ilahi.
“kekasih, mungkin memang aku tak pantas tinggal di surgasebab buta hakikat bacaan sempurna – alpa mewujudkannya”
Akhirnya, penyair mengakui secara jujur bahwa dirinya tidak layak berada di surga karena belum mampu memahami dan mengamalkan nilai-nilai suci yang seharusnya diwujudkan dalam kehidupan.
Namun, meski diselimuti rasa bersalah, penyair tetap menutup puisinya dengan kerinduan akan suara ilahi:
“lalu bagaimana: kekasih, aku rindu kau bersuara, ujarkan sabda!”
Bagian ini menandakan kerinduan pada petunjuk dan ampunan Tuhan — sekaligus bentuk penyerahan total dari jiwa yang telah melalui pergulatan batin panjang.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah kesadaran manusia atas keterbatasannya di hadapan Tuhan dan pentingnya kerendahan hati dalam mencari ampunan serta pemahaman spiritual sejati.
Kata “bacaan sempurna” yang terus diulang-ulang tidak sekadar merujuk pada teks religius, tetapi merupakan metafora dari ajaran Ilahi, nilai-nilai moral, dan kebenaran spiritual. Penyair menegaskan bahwa memahami teks suci secara harfiah tidaklah cukup — yang lebih penting adalah menghayati dan mewujudkannya dalam kehidupan nyata.
Dengan nada reflektif, Djoko Saryono juga menyiratkan bahwa manusia sering terjebak dalam rutinitas keagamaan tanpa memahami maknanya. Mereka bisa membaca, menghafal, bahkan mengajarkan ayat-ayat suci, namun gagal menjalankan esensi ajaran itu dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, makna tersirat lainnya adalah kerinduan manusia akan keselamatan dan cahaya ilahi. Penyair menempatkan dirinya dalam posisi yang paling rendah, penuh penyesalan, dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan — menunjukkan kerendahan hati sebagai jalan menuju pencerahan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini adalah muram, penuh penyesalan, dan sarat spiritualitas. Pembaca bisa merasakan pergumulan batin seorang manusia yang berjuang melawan rasa bersalah dan ketakutan terhadap dosa, namun di saat yang sama dipenuhi harapan dan kerinduan pada kasih Tuhan.
Nada puisinya juga kontemplatif, seperti doa malam yang disampaikan dalam keheningan, di mana setiap kata terasa berat dan bermakna.
Meskipun didominasi suasana kelam, pada bagian akhir muncul nuansa kerinduan yang lembut dan spiritual — tanda bahwa penyair tidak putus asa, melainkan berharap akan pengampunan dan cahaya petunjuk.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang dapat diambil dari puisi ini adalah pentingnya introspeksi diri dan kesadaran akan kelemahan manusia di hadapan Tuhan. Penyair ingin mengingatkan bahwa kesempurnaan spiritual tidak hanya terletak pada ucapan atau ritual, tetapi pada pemahaman dan pengamalan nilai-nilai luhur dalam kehidupan.
Pesan lainnya adalah kerendahan hati dan kejujuran dalam mengakui dosa. Dengan mengakui kesalahan, manusia membuka jalan untuk dimaafkan dan dipulihkan.
Djoko Saryono juga menegaskan bahwa kerinduan pada Tuhan adalah bentuk tertinggi dari iman. Ketika seseorang menyadari betapa dalamnya ia jatuh dalam dosa namun tetap rindu akan sabda ilahi, di situlah letak keagungan spiritual manusia sejati.
Imaji
Puisi ini sarat dengan imaji religius dan simbolik yang memperkuat pengalaman batin sang penyair. Beberapa di antaranya:
Imaji visual:
- “Mulutku terjepit capit lupa” — menggambarkan kelalaian sebagai kekuatan yang menjerat, seolah fisik menolak mengucap doa.
- “Kalbuku tertindih berat dosa” — menciptakan gambaran konkret dari beban moral yang menghimpit hati.
- “Jiwaku tertimbun arang prasangka” — menghadirkan visual gelap yang menunjukkan hilangnya kejernihan batin akibat dosa.
Imaji auditori (pendengaran):
- “Aku rindu kau bersuara, ujarkan sabda” — menciptakan harapan akan kehadiran suara ilahi yang membawa pencerahan dan ketenangan jiwa.
Imaji-imaji tersebut menghadirkan perpaduan antara kesunyian dan kerinduan spiritual, membuat pembaca ikut merasakan intensitas emosional dalam pengakuan sang penyair.
Majas
Puisi ini menggunakan berbagai majas yang memperkuat ekspresi spiritual dan emosionalnya, antara lain:
Metafora:
- “Mulutku terjepit capit lupa” — lupa digambarkan sebagai makhluk yang menjepit, melumpuhkan kemampuan berbicara.
- “Kalbuku tertindih berat dosa” — dosa diibaratkan sebagai beban fisik yang menghimpit hati.
- “Jiwaku tertimbun arang prasangka” — prasangka digambarkan sebagai arang yang menutupi jiwa.
Personifikasi:
- “Batinku terhimpit bongkah noda” — noda digambarkan seolah memiliki kekuatan untuk menindas.
Repetisi:
- Pengulangan kata “kekasih” pada setiap bait menimbulkan efek spiritual dan puitis, seperti zikir atau doa yang terus diucapkan dengan khusyuk.
Hiperbola:
- “Mungkin pantasku cuma menghuni jahanam neraka” — ungkapan ekstrem untuk menggambarkan rasa penyesalan dan rendah diri yang mendalam.
Majas-majas ini memperkuat nuansa religius dan emosional, menjadikan puisi “Pengakuan” terasa seperti doa yang penuh makna dan kejujuran.
Puisi “Pengakuan” karya Djoko Saryono adalah refleksi mendalam tentang hubungan manusia dan Tuhan, yang disampaikan melalui bahasa puitis, repetitif, dan penuh simbol spiritual. Dengan tema introspeksi dan penyesalan, penyair berhasil menggambarkan kerapuhan manusia yang diliputi rasa bersalah namun tetap haus akan ampunan dan kasih Ilahi.
Makna tersiratnya mengajak pembaca untuk merenungkan kembali hakikat ibadah dan keimanan, bahwa yang penting bukan sekadar “bacaan sempurna”, melainkan pemahaman dan penghayatan nilai-nilai suci dalam tindakan nyata. Melalui gaya bahasanya yang kontemplatif dan penuh imaji religius, Djoko Saryono menunjukkan bahwa pengakuan dosa adalah bentuk tertinggi dari kesadaran spiritual.
Puisi ini mengajarkan bahwa kerinduan pada Tuhan adalah cahaya yang tak akan padam — bahkan dalam kegelapan hati manusia.
Karya: Djoko Saryono
Biodata Djoko Saryono:
- Prof. Dr. Djoko Saryono lahir pada tanggal 27 Maret 1962 di kota Madiun.