Puisi: Si Anak Hilang (Karya Sitor Situmorang)

Puisi “Si Anak Hilang” karya Sitor Situmorang bercerita tentang seorang anak yang lama merantau dan akhirnya pulang ke kampung. Ibu menyambutnya ...
Si Anak Hilang
Sumber: Dalam Sajak (Dunia Pustaka Jaya, 1955)

Pada terik tengah hari
Titik perahu timbul di danau
Ibu cemas ke pantai berlari
Menyambut anak lama ditunggu.

Perahu titik menjadi nyata
Pandang berlinang air mata
Anak tiba dari rantau
Sebaik turun dipeluk ibu.

Bapak duduk di pusat rumah
Seakan tak acuh menanti
Anak di sisi ibu gundah
- Laki-laki layak menahan hati -

Anak duduk disuruh bercerita
Ayam disembelih nasi dimasak
Seluruh desa bertanya-tanya?
Sudah beristri sudah beranak?

Si anak hilang kini kembali
Tak seorang dikenalnya lagi
Berapa kali panen sudah
Apa saja telah terjadi?

Seluruh desa bertanya-tanya?
Sudah beranak sudah berapa?
Si anak hilang berdiam saja
Ia lebih hendak bertanya.

Selesai makan ketika senja
Ibu menghampiri ingin disapa
Anak memandang ibu bertanya
Ingin tahu dingin Eropa.

Anak diam mengenang lupa
Dingin Eropa musim kotanya
Ibu diam berhenti berkata
Tiada sesal hanya gembira.

Malam tiba ibu tertidur
Bapa sudah lama mendengkur
Di pantai pasir berdesir gelombang
Tahu si anak tiada pulang.

Si Anak Hilang
Sumber: Angin Danau (Sinar Harapan, 1982)

Seorang kaya mempunyai dua putra,
Dua remaja berlainan perangai,
Si Bapak sama-sama sayang,
Bagaimana akan memisah darah?

Putra sulung rajin lagi tekun,
Bertani, bertukang, merawat hewan,
Sepanjang hari bekerja di kebun,
Memelihara warisan nenek moyang.

Putra bungsu suka ke tempat pesta,
Pesiar di mana orang muda berkumpul,
Padi di ladang, hewan berbiak di gunung,
Menjadi haknya, tanpa kerja.

Malam pergi, pulang di pagi buta,
Kerja si Bungsu sepanjang tahun,
Tinggalkan si Sulung membanting tulang,
Kembali malam menutup kandang.

Akhirnya desa terlalu sepi,
Bagi si perlente, jagoan pasar,
Putus kata - Ia akan ke kota, pergi,
Berbekal warisan pemberian Ayah.

Kota jaya penuh warna dunia,
Membuat si Bungsu mabuk bahagia,
Makan, minum, bersenda gurau,
Dengan sahabat pandai berlagu.

Harta pun habis - Negeri dilanda lapar,
Wabah mengamuk membawa sengsara,
Teringat si Bungsu, betapa senangnya,
Andai ia pelayan saja di rumah Ayah.

Untuk hidup, si Bungsu ambil kerja,
Pelayan di rumah orang, tingkat terendah,
Kandang hewan jadi penginapan,
Untuk makan, diberi sisa makanan.

Si Bungsu lalu sadar, ia harus pulang,
(melambai kampung halaman)
Dekat Ayah di antara budak belian,
jadi pembantu si Abang

Suatu sore ia dari jauh datang,
Nampak pada Ayah di pematang,
Tempatnya tertunggu tiap sore,
Doakan si anak teringat pulang.

Si Ayah berlari menjumpai anaknya,
Dipeluknya sambil tersedu-sedu,
Si Bungsu terharu, lalu sujud:
"Ayah, aku berdosa. Aku pantas budakmu."

Si Ayah segera memanggil kerabat,
Minta sapi-domba disiapkan korban,
Merayakan hari bahagia umat –
Anakku hilang, kembali ke pangkuan!

Dari ladang, kembali si Sulung,
Mendengar orang ramai berdendang,
Ayahku pesta, apa gerangan hal baru,
Alasan beria, di luar pengetahuanku?

Tetangga berkata: Belumkah kau tahu?
Adikmu pulang, dari perantauan,
Karenanya kita pesta, menuang madu,
Minum anggur sepuas hati.

Si Sulung berpaling, pergi menyendiri.
Di tengah ladang sedih berdiri,
Pikirkan nasib, betapa sia-sia,
Habiskan umur kerja dengan setia.

Si ayah merasa, si Ayah melihat,
Anak setia bermuram durja,
Ia datangi, membujuk penuh kasih:
Tak kau bahagia anakku sayang?
Adikmu pulang, setelah lama hilang!
Kasihku padamu. Hartaku semua
Adalah milikmu. Adikmu ini
lebih dari domba, pantas dikasihani!

Si Sulung berpaling, lalu lari ke rumah,
Menjumpai adiknya, berdiri di ambang,
Mereka berhadapan, tangan hendak membunuh,
Lunglai - membelai ubun adik tersayang.

Analisis Puisi:

Puisi “Si Anak Hilang” karya Sitor Situmorang hadir dalam dua versi dengan judul yang sama, masing-masing termuat dalam buku Dalam Sajak (1955) dan Angin Danau (1982). Meski judulnya identik, keduanya menampilkan pendekatan yang berbeda dalam mengolah tema tentang kepulangan, keluarga, dan keterasingan. Versi pertama lebih liris dan intim, sedangkan versi kedua bersifat naratif dan alegoris, menyerupai kisah perumpamaan.

1. “Si Anak Hilang” (Dalam Sajak, 1955)

Tema

Tema utama puisi ini adalah keterasingan setelah pulang, jarak batin antara anak dan kampung halaman, serta benturan pengalaman lokal dan dunia luar. Ada pula tema kerinduan orang tua yang tidak sepenuhnya terjawab oleh kepulangan fisik.

Puisi ini bercerita tentang seorang anak yang lama merantau dan akhirnya pulang ke kampung. Ibu menyambutnya dengan haru, ayah menahan perasaan, dan seluruh desa penasaran pada kisah hidupnya di perantauan. Namun, meskipun ia telah kembali, anak itu justru merasa asing. Ia tidak lagi mengenal orang-orang desanya. Bahkan ketika ibunya ingin bercakap, ia lebih tertarik membayangkan “dingin Eropa musim kotanya.”

Pada akhirnya, malam tiba dan orang tua tertidur. Gelombang di pantai berdesir—dan tersirat bahwa si anak kembali pergi. Kepulangannya ternyata hanya sementara, atau mungkin hanya secara fisik, bukan secara jiwa.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa pengalaman merantau dapat mengubah identitas seseorang secara mendalam. Kepulangan tidak selalu berarti kembali menjadi bagian dari tempat asal. Ada jurang pengalaman dan cara pandang yang sulit dijembatani.

Dingin Eropa menjadi simbol modernitas, pengalaman asing, dan dunia yang berbeda dari kampung halaman. Anak itu terjebak dalam nostalgia akan rantau, sementara desa hidup dalam ritme yang sama seperti dulu. Ia menjadi “asing” di tanah sendiri.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi bergerak dari haru dan penuh harapan (saat ibu menyambut) menuju canggung dan hening, lalu berakhir dalam kesunyian yang getir. Ada kesedihan halus yang tidak meledak, melainkan mengendap.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini seakan menyampaikan pesan bahwa akar dan identitas bukan sekadar soal tempat pulang, melainkan juga kesiapan hati untuk kembali menyatu. Modernitas dan pengalaman dunia luar tidak selalu membuat seseorang lebih utuh; bisa jadi justru menjadikannya terbelah.

2. “Si Anak Hilang” (Angin Danau, 1982)

Versi kedua ini jauh lebih naratif dan jelas merujuk pada kisah perumpamaan “anak yang hilang” (prodigal son). Namun, penyair tetap memberi sentuhan emosional dan sosial khasnya.

Tema

Tema puisi ini adalah pengampunan, kasih orang tua, kecemburuan saudara, serta pertobatan dan penerimaan kembali.

Puisi ini bercerita tentang seorang ayah dengan dua putra: si sulung yang rajin dan setia bekerja, serta si bungsu yang gemar bersenang-senang. Si bungsu meminta warisan, pergi ke kota, menghabiskan hartanya, lalu jatuh miskin dan menderita. Dalam kesengsaraan, ia sadar dan memutuskan pulang.

Sang ayah menyambutnya dengan pelukan dan pesta. Namun, si sulung merasa kecewa dan tidak adil. Di akhir puisi, konflik batin si sulung mereda ketika ia berhadapan langsung dengan adiknya.

Makna Tersirat

Makna tersiratnya adalah bahwa kasih orang tua (atau kasih Ilahi) melampaui perhitungan untung-rugi. Pengampunan tidak selalu mengikuti logika keadilan manusia.

Selain itu, puisi ini juga menyentuh sisi kemanusiaan: rasa iri, pengorbanan yang merasa tak dihargai, dan pergulatan batin antara keadilan dan belas kasih.

Suasana dalam Puisi

Suasana berubah-ubah:
  • Awal: tenang dan deskriptif.
  • Tengah: gemerlap dan penuh semu kebahagiaan di kota.
  • Saat jatuh miskin: muram dan getir.
  • Saat pulang: haru dan penuh kasih.
  • Pada konflik sulung: tegang lalu melunak.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat ditangkap adalah pentingnya pertobatan dan keluasan hati untuk menerima kembali mereka yang pernah tersesat. Selain itu, puisi ini mengajak pembaca memahami bahwa kasih sejati tidak bersyarat.

Perbandingan Kedua Puisi

Meskipun judulnya sama, kedua puisi ini berbeda dalam pendekatan:
  • Versi 1955 lebih psikologis dan modern, menyoroti keterasingan dan krisis identitas.
  • Versi 1982 lebih naratif dan moralistis, menekankan pengampunan dan rekonsiliasi keluarga.
Jika versi pertama menunjukkan anak yang tidak benar-benar kembali, versi kedua menghadirkan anak yang benar-benar pulang—baik secara fisik maupun batin.

Keduanya sama-sama berbicara tentang rumah, tentang jarak, dan tentang arti kepulangan. Namun satu menyisakan kesunyian, sementara yang lain menutup cerita dengan pelukan dan pengampunan.

Puisi: Si Anak Hilang
Puisi: Si Anak Hilang
Karya: Sitor Situmorang

Biodata Sitor Situmorang:
  • Sitor Situmorang lahir pada tanggal 2 Oktober 1923 di Harianboho, Tapanuli Utara, Sumatra Utara.
  • Sitor Situmorang meninggal dunia pada tanggal 21 Desember 2014 di Apeldoorn, Belanda.
  • Sitor Situmorang adalah salah satu Sastrawan Angkatan 45; yang juga menggeluti profesi sebagai wartawan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.