Sonata Cinta
beri aku waktu, memeram bebuah rindu
beri aku masa, menanak bebulir cinta
beri aku bebuah rindu, menjamu kejernihan kalbu
beri aku bebulir cinta, menyuguhi kebeningan sukma
beri aku jernih kalbu, menyunting bebunga nurani gaharu:
di tanjung gairah syahdu yang menyihir debur laut biru
beri aku bening sukma, memetik kembang surgawi nan jelita:
di jazirah gelora jiwa yang mengguna-guna ombak segara
hai...beri aku dirimu, biar kugapai puncak keselamatan hidupku
Malang, 1998/2012
Sumber: Arung Diri (2013)
Analisis Puisi:
Puisi “Sonata Cinta” karya Djoko Saryono memiliki tema utama tentang cinta yang bersifat spiritual dan transendental. Cinta dalam puisi ini tidak sekadar dimaknai sebagai hubungan manusia dengan sesama, tetapi sebagai energi suci yang menyucikan jiwa dan menuntun menuju keselamatan batin. Kata “sonata” sendiri, yang berasal dari dunia musik, memberi nuansa harmoni — menunjukkan bahwa cinta adalah melodi kehidupan yang menghubungkan antara rindu, gairah, dan kebeningan kalbu. Tema cinta di sini bukan hanya romantis, tetapi juga cinta yang menyatukan manusia dengan keindahan dan kesucian ilahi.
Puisi ini bercerita tentang perjalanan batin seseorang dalam menafsirkan dan mengalami cinta yang mendalam dan menyeluruh. Penyair menggambarkan cinta bukan sebagai sesuatu yang dangkal, tetapi sebagai proses spiritual dan penyucian diri.
Baris pembuka seperti:
“Beri aku waktu, memeram bebuah rindu
Beri aku masa, menanak bebulir cinta”
menunjukkan bahwa cinta memerlukan waktu, kesabaran, dan kedewasaan untuk tumbuh menjadi sesuatu yang murni.
Cinta diibaratkan sebagai sesuatu yang harus “diperam” dan “dimasak” — menggambarkan proses alami menuju kematangan jiwa.
Lalu di bait berikutnya, penyair melanjutkan perjalanan itu dengan permohonan akan kejernihan hati dan kebeningan sukma — dua hal yang menjadi inti spiritualitas dan kesejatian cinta.
Pada akhirnya, penyair berkata:
“Hai... beri aku dirimu, biar kugapai puncak keselamatan hidupku”
yang menandakan bahwa cinta sejati membawa manusia menuju keselamatan dan keutuhan hidup.
Jadi, puisi ini bercerita tentang perjalanan menuju cinta sejati — cinta yang tidak hanya menimbulkan gairah, tetapi juga menyucikan jiwa.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi “Sonata Cinta” adalah bahwa cinta merupakan jalan menuju penyucian diri dan keselamatan spiritual. Penyair menafsirkan cinta sebagai kekuatan yang dapat menuntun manusia menemukan kebeningan hati (kalbu) dan kejernihan jiwa (sukma).
Kata-kata seperti “memeram bebuah rindu” dan “menanak bebulir cinta” menyiratkan proses batin yang panjang dan penuh kesabaran. Artinya, cinta sejati tidak datang seketika, melainkan melalui proses pematangan batin dan pengendalian diri.
Selain itu, puisi ini juga menyiratkan bahwa cinta memiliki dua dimensi: keindahan duniawi dan keindahan rohani.
Ketika penyair menulis “memetik kembang surgawi nan jelita” dan “di jazirah gelora jiwa yang mengguna-guna ombak segara”, ada makna bahwa cinta bisa menjadi perjalanan yang menggairahkan sekaligus menyucikan.
Pada akhirnya, makna terdalam dari puisi ini adalah bahwa cinta sejati adalah bentuk penyatuan antara manusia dan nilai-nilai ilahi yang tertinggi.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi “Sonata Cinta” terasa lembut, mistis, dan penuh kekaguman terhadap keindahan cinta. Nada yang muncul adalah nada kontemplatif dan memohon, seolah penyair sedang berdialog dengan kekasih batinnya — entah itu manusia, cinta sejati, atau Tuhan sendiri.
Kata-kata seperti “jernih kalbu”, “bening sukma”, dan “bebunga nurani gaharu” membangkitkan suasana tenang, khusyuk, dan penuh kesejukan jiwa.
Namun di sisi lain, terdapat pula nuansa gairah dan kerinduan, tampak dari frasa “di tanjung gairah syahdu yang menyihir debur laut biru.”
Dengan demikian, suasana puisi ini memadukan antara kehangatan cinta dan keteduhan spiritual, seperti musik sonata yang lembut namun penuh dinamika rasa.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang dapat diambil dari puisi ini adalah bahwa cinta sejati bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal jiwa dan penyucian batin. Penyair ingin menyampaikan bahwa cinta yang tulus dapat membawa manusia menuju kejernihan hati, kebeningan jiwa, dan keselamatan hidup.
Pesan lainnya adalah bahwa cinta memerlukan waktu, proses, dan kesabaran. Cinta yang tergesa-gesa hanya melahirkan keinginan, bukan kebijaksanaan. Sebaliknya, cinta yang diperam dengan hati yang bening akan berbuah keindahan sejati.
Selain itu, puisi ini juga menyiratkan bahwa dalam cinta terdapat dimensi spiritual, di mana manusia bisa merasakan kehadiran Tuhan melalui keindahan dan ketulusan mencintai. Dengan kata lain, cinta adalah jalan menuju pencerahan jiwa dan keselamatan hidup.
Imaji
Puisi ini sangat kaya dengan imaji visual, imaji rasa, dan imaji spiritual.
Imaji visual:
- “di tanjung gairah syahdu yang menyihir debur laut biru” menghadirkan pemandangan alam yang indah dan menenangkan.
- “memetik kembang surgawi nan jelita” membangkitkan gambaran simbolik tentang keindahan spiritual yang murni.
Imaji rasa:
- “memeram bebuah rindu” dan “menanak bebulir cinta” menciptakan rasa hangat dan mendalam — menggambarkan proses batin yang lembut dan penuh kesabaran.
Imaji spiritual:
- “bebunga nurani gaharu” dan “bening sukma” melambangkan pencerahan hati, kebersihan batin, dan pencapaian rohani.
Kehadiran imaji-imaji ini menjadikan puisi terasa hidup, estetis, dan mengandung getaran batin yang mendalam.
Majas
Puisi ini menggunakan beragam majas yang memperkuat keindahan bahasanya:
- Metafora: “memeram bebuah rindu”, “menanak bebulir cinta”, dan “memetik kembang surgawi” adalah metafora yang menyamakan cinta dan rindu dengan proses alamiah seperti menanam, memasak, dan memetik buah — simbol pertumbuhan jiwa.
- Personifikasi: “jalan cahaya” dan “kembang surgawi nan jelita” memberi kesan bahwa unsur alam memiliki kehidupan dan keindahan spiritual.
- Repetisi: Pengulangan frasa “beri aku” di awal beberapa baris menegaskan permohonan batin yang penuh intensitas dan kesungguhan.
- Hiperbola: “puncak keselamatan hidupku” adalah bentuk penguatan bahwa cinta sejati dianggap sebagai tujuan tertinggi manusia.
Majas-majas ini tidak hanya memperindah diksi, tetapi juga memperdalam simbolisme cinta yang diusung penyair.
Puisi “Sonata Cinta” karya Djoko Saryono merupakan karya yang memadukan cinta, spiritualitas, dan keindahan bahasa dalam harmoni puitik yang lembut. Dengan gaya metaforis yang khas, penyair berhasil menggambarkan cinta sebagai proses penyucian diri menuju kebeningan jiwa dan keselamatan hidup.
Melalui tema cinta spiritual, imaji indah, dan majas simbolik, puisi ini tidak hanya bicara tentang rasa, tetapi juga tentang makna hidup dan perjalanan batin manusia. Cinta di sini menjadi “sonata” — melodi abadi yang menyatukan rindu, doa, dan ketenangan hati dalam satu irama harmoni kehidupan.
Puisi ini mengajarkan bahwa cinta sejati adalah cahaya yang menuntun manusia menuju keselamatan dan kebeningan sukma.
Karya: Djoko Saryono
Biodata Djoko Saryono:
- Prof. Dr. Djoko Saryono lahir pada tanggal 27 Maret 1962 di kota Madiun.