Barang Bekas sebagai Kanvas: Cara Mahasiswa UNS Mengenalkan Upcycling pada Anak-Anak Lewat Seni

Yuk intip cara mahasiswa UNS mengajak anak-anak mencintai lingkungan lewat seni lukis dan barang bekas. Kreatif, edukatif, dan penuh makna!

Sore itu, tawa anak-anak mengiringi cipratan warna dan deretan barang bekas yang siap dipermak. Di tangan anak-anak, benda sederhana yang biasanya dipakai sehari-hari menjelma menjadi ruang imajinasi. Mereka melukis, bereksperimen dengan warna, dan tanpa sadar sedang belajar mencintai lingkungan.

Barang Bekas sebagai Kanvas

Kegiatan ini digagas oleh sekelompok mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) yang tergabung dalam kelompok bernama Jejak Rupa. Sesuai namanya, Jejak Rupa tidak sekadar meninggalkan jejak visual melalui seni, tetapi juga jejak kesadaran tentang bagaimana kreativitas bisa berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan.

Melalui pendekatan seni lukis, mahasiswa UNS mengajak anak-anak di sekitar lokasi kegiatan untuk memanfaatkan barang pakai sebagai media berkarya. Benda yang kerap dianggap biasa, bahkan luput dari perhatian, diolah kembali menjadi sesuatu yang personal dan bermakna. Di sinilah konsep upcycling diperkenalkan secara halus: bukan sebagai istilah rumit, melainkan sebagai praktik sehari-hari yang menyenangkan.

Cara Mahasiswa UNS Mengenalkan Upcycling pada Anak-Anak Lewat Seni

Anak-anak diberi kebebasan penuh mengekspresikan diri. Ada yang melukis bentuk alam, ada pula yang menuangkan imajinasi abstrak dengan warna-warna berani. Setiap goresan menjadi cerita kecil tentang dunia versi mereka. Sementara itu, mahasiswa Jejak Rupa berperan sebagai pendamping, mengamati, mengarahkan seperlunya, dan sesekali menyelipkan obrolan ringan tentang sampah, penggunaan ulang, serta pentingnya menjaga lingkungan.

Alih-alih ceramah, edukasi disampaikan lewat pengalaman langsung. Anak-anak belajar bahwa barang yang mereka gunakan sehari-hari tidak harus selalu diganti atau dibuang. Dengan sentuhan kreativitas, benda tersebut bisa memiliki “kehidupan kedua” dan tetap bermanfaat. Cara ini dipilih karena lebih membumi dan mudah dipahami oleh anak-anak.

Bagi Jejak Rupa, seni bukan sekadar hasil akhir berupa karya visual, melainkan proses melihat, menyentuh, membayangkan, lalu mencipta. Dalam proses itu pula nilai-nilai kepedulian lingkungan ditanamkan. Ketika anak-anak merasa memiliki keterikatan emosional dengan barang yang mereka lukis, secara perlahan tumbuh rasa tanggung jawab untuk merawat dan menggunakannya kembali.

Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara seni, pendidikan, dan lingkungan. Di tengah isu sampah dan krisis ekologis yang kerap dibahas dalam skala besar, Jejak Rupa memilih bergerak dari lingkup paling kecil yaitu anak-anak dan kebiasaan sehari-hari. Sebuah langkah sederhana namun sarat makna.

Melalui kegiatan melukis ini, Jejak Rupa berharap jejak yang ditinggalkan tidak berhenti pada warna yang mengering di permukaan barang pakai. Lebih dari itu, ada kesadaran yang tumbuh bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari hal-hal dekat. Dari tangan kecil yang berani berkreasi dan dari seni yang mengajarkan untuk melihat ulang nilai sebuah benda.

Kelompok Mahasiswa kegiatan WIBAWA, Universitas Sebelas Maret

Penulis: Jejak Rupa, Kelompok Mahasiswa kegiatan WIBAWA, Universitas Sebelas Maret.

© Sepenuhnya. All rights reserved.