Belajar Seru Ala John Dewey dengan Metode Learning by Doing: Main Asyik, Anak Cerdas

Memaksimalkan kualitas belajar peserta didik dengan metode Learning by Doing, di mana siswa terlibat secara impulsif dan spontan dalam prosesnya.

Oleh Nanda Muhlidah

Pernah nggak sih, kalian melihat anak kecil lagi asyik main masak-masakan di tanah atau sibuk nyusun lego sampai lupa waktu, terus kadang kita suka refleks bilang, "Ayo udah mainnya udahan, waktunya belajar!"? Seakan-akan, belajar itu kaya musuh bebuyutan dari bermain. Padahal, kalau kita mau melek dan belajar tentang teori pemikiran John Dewey seorang tokoh pendidikan legendaris kita bakal sadar kalau selama ini kita mungkin sedikit keliru dalam membedakan keduanya.

Main Bukan Sekadar "Isi Waktu"

Bagi John Dewey, belajar itu bukan sekedar duduk diam, dengerin guru ngomong di depan, atau sekedar menghafal materi seperti surah-surah pendek dalam Al-Qur’an, nama-nama nabi, rukun islam, rukun iman, hingga nama-nama pahlawan. Metode hafalan yang kurang tepat sering kali menjadikan anak tertekan dan cepat bosan. Sehingga anak akan berpikir kalau belajar itu beban yang berat. Padahal, hakikat belajar yang sesungguhnya adalah pengalaman. Hal ini sejalan dengan pandangan pragmatisme yang meyakini bahwa setiap anak pada dasarnya adalah makhluk aktif ciptaan Tuhan yang memiliki dorongan alami untuk bergerak. Secara psikologis, anak memang ditakdirkan aktif, dan melalui bekerja/beraktivitas mereka disiapkan untuk kehidupan di masa depan. Oleh karena itu, memaksimalkan kualitas belajar peserta didik harus dilakukan dengan metode Learning by Doing, di mana siswa terlibat secara impulsif dan spontan dalam prosesnya. Sederhananya, konsep ini berarti belajar melalui tindakan nyata dan mengerjakan sesuatu secara aktif. Nah, bagi anak PAUD, pengalaman paling nyata dalam hidup mereka ya cuma satu: bermain.

Learning by Doing

Jadi, ketika anak lagi sibuk mencampur air dengan tanah sampai jadi lumpur, mereka sebenarnya lagi jadi ilmuwan cilik yang bereksperimen tentang tekstur dan wujud benda. Mereka nggak cuma main kotor, mereka lagi belajar! Dewey menyebut ini sebagai Learning by Doing. Intinya, otak anak itu bakal jauh lebih cepat "nyambung" kalau tangan mereka ikut bergerak, bukan cuma mata yang melotot melihat buku. Upaya meningkatkan motivasi belajar ini juga bisa dilakukan dengan menyusun bahan ajar yang menarik bagi anak. (Rosidah, 2018) menyebutkan bahwa motivasi memiliki kaitan erat dengan emosi dan kemauan anak. Dorongan intrinsik seperti rasa ingin tahu dan kemandirian menjadi landasan bagi guru untuk membangun motivasi ekstrinsik agar tujuan pembelajaran tercapai secara efektif dan efisien.

Rahasia Anak Cerdas (Tanpa Stres)

Kenapa sih metode learning by doing atau 'main asyik' ini penting banget? Karena jujur saja, di dunia nyata, tantangan kehidupan itu nggak pernah datang dalam bentuk soal pilihan ganda (Khaerul Anwar, 2016) minat intelektual anak justru terasah saat mereka mencoba menemukan ide baru untuk menyelesaikan masalah tersebut secara langsung. Dengan yang jawabannya sudah pasti. Masalah di kehidupan nyata itu dinamis, dan menurut bermain, anak belajar cara memecahkan masalah. Misalnya, "Gimana caranya supaya menara balok ini nggak jatuh?". Di situ logika seorang anak jalan nggak hanya logika tapi ada kreativitas, dan yang paling penting ada kegembiraan. Anak yang bahagia saat belajar bakal punya rasa ingin tahu yang nggak habis-habis. Kalau dari kecil mereka sudah merasa belajar itu beban, bayangkan betapa "alerginya" mereka sama sekolah saat besar nanti. Dengan gaya Dewey, kita sedang menanamkan mindset bahwa mencari ilmu itu seru, bukan tugas yang berat dan menyiksa.

Peran Kita sebagai Fasilitator

Lalu, apa tugas kita sebagai orang dewasa? Bukan jadi instruktur senam yang ngatur tiap gerakan, tapi jadi fasilitator. Peran ini tentu sangat krusial karena menurut (Hadinatha, 2018) guru harus menjadi fasilitator yang memudahkan belajar, narasumber yang mengundang daya kreasi, serta pengelola yang mampu merancang aktivitas belajar bermakna. Pendidikan itu sendiri adalah sebuah bimbingan serta pengarahan. Hal ini sesuai dengan perkataan John Dewey (melalui Priyanto, 2017) bahwa "The word education means just process of leading or bringing up". Artinya, pendidikan adalah proses bimbingan dan pengarahan. (Hasruddin et al., 2015). (Muhammad Kristiawan, 2016) menambahkan bahwa peserta didik perlu dilatih menjelajah, mencari, dan mempertanyakan sesuatu agar mereka bisa belajar mandiri. Dengan memperkuat stimulus dari guru dan respons anak, melalui bimbingan dan latihan ini, siswa didorong untuk belajar mandiri dan aktif sehingga proses pembelajaran menjadi hal yang menyenangkan, bukan membosankan. Lebih jauh lagi, (Nasution, 2017) menjelaskan bahwa pembelajaran ini harus direncanakan secara sistematis melalui drill, review, dan demonstrasi agar anak mendapatkan kecakapan nyata yang sesuai dengan dunia kerja. Sediakan medianya, lalu biarkan mereka bereksplorasi. Kalau mereka salah, biarkan saja. Dari kesalahan itulah proses belajar yang paling mahal sedang terjadi.

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa metode Learning by Doing merupakan kunci utama dalam menumbuhkan kemampuan belajar aktif bagi peserta didik. Pendekatan ini terbukti sangat efektif dalam meningkatkan kualitas pemahaman dan prestasi siswa karena mereka tidak sekadar menghafal, melainkan terlibat langsung dalam tindakan nyata yang membuat logika serta kreativitas mereka bekerja.

Kajian literatur menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan sangat bergantung pada pengalaman langsung yang memungkinkan anak memperoleh keterampilan dan cara pandang baru secara mandiri. Oleh karena itu, penerapan metode Learning by Doing menuntut peran orang dewasa tidak hanya sebagai instruktur, tetapi sebagai fasilitator yang mampu merancang aktivitas bermakna. Terlebih dalam kondisi pembelajaran jarak jauh, campur tangan serta pendampingan intensif dari wali murid sangat dibutuhkan untuk mengawasi dan memotivasi siswa agar tetap bereksplorasi secara aktif di lingkungan rumah. Pada akhirnya, melalui bimbingan dan kebebasan untuk mencoba, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang cerdas karena keberanian mereka untuk belajar dari pengalaman nyata. Menjadikan anak cerdas ternyata nggak selalu harus lewat kursus tambahan yang padat. Kadang, kita hanya perlu duduk di lantai bersama mereka, membiarkan imajinasi mereka liar, dan ikut merayakan setiap tawa saat mereka bermain. Karena pada akhirnya, anak yang pintar bukan yang paling jago menghafal, tapi yang paling berani mencoba. Jadi, sudahkah Anda menemani si kecil "belajar" hari ini?

Referensi:

  1. Khaerul Anwar. (2016). Mimbar Kampus METODE CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING Mimbar Kampus. 51–68.
  2. Rosidah, R. (2018). Menumbuhkan Motivasi Belajar Anak Sekolah Dasar Melalui Strategi Pembelajaran Aktif Learning By Doing. Qawwam, 12(1), 1–17. https://doi.org/10.20414/qawwam.v12i
  3. Nasution, M. K. (2017). Penggunaan metode pembelajaran dalam peningkatan hasil belajar siswa. STUDIA DIDAKTIKA: Jurnal Ilmiah Bidang Pendidikan, 11(1), 9–16.
  4. Muhammad Kristiawan. (2016). Filsafat 2016. 
  5. Hadinatha, M. F. (2018). Jejak Pragmatisme dalam Politik di Indonesia (Era 2009 – 2017). Kalimah, 16(2). https://doi.org/10.21111/klm.v16i2.2872

Nanda Muhlidah

Biodata Penulis:

Nanda Muhlidah saat ini aktif sebagai mahasiswi, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

© Sepenuhnya. All rights reserved.