Oleh Ismi Arinal Mufidati
Sejak awal peradaban, manusia terus bertanya: Apa itu kebenaran? Dari mana pengetahuan berasal? Mengapa kita percaya pada sesuatu? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi akar lahirnya filsafat ilmu. Filsafat ilmu merupakan cabang filsafat yang mempelajari sifat, metode dan batasan pengetahuan ilmiah. Ia bertanya tentang apa itu ilmu, bagaimana ilmu berkembang dan bagaimana kita dapat membedakan antara pengetahuan yang benar dan yang salah. Perkembangannya tidak bersifat statis, tetapi merupakan perjalanan panjang penuh pergulatan antara mitos, akal, pengalaman, dan kritik. Sejarah filsafat ilmu pada dasarnya adalah kisah evolusi cara manusia memahami dunia dan dirinya sendiri. Perkembangan filsafat ilmu tidak hanya mencerminkan evolusi pemikiran manusia tentang alam semesta, tetapi juga bagaimana masyarakat memahami dan mengaplikasikan pengetahuan. Filsafat ilmu merupakan cabang filsafat yang menelaah hakikat, sumber, struktur serta validitas ilmu pengetahuan. Untuk memahami filsafat ilmu secara komprehensif, perlu dilakukan telaah sejarahnya sejak era yunani kuno hingga sains modern. Dari filsafat yunani kuno hingga perdebatan kontemporer, filsafat ilmu telah berkembang melalui interaksi antara filsafat, sains dan konteks sosial.
Dari Mitos ke Logos: Awal Rasionalitas Yunani
Pada masa awal peradaban, dunia dijelaskan melalui kisah-kisah mitos. Namun, di Yunani kuno muncul keberanian intelektual untuk meninggalkan mitologi dan menafsirkan alam secara rasional. Akar filsafat ilmu dapat ditelusuri kembali ke yunani kuno pada abad ke- 6 SM, dimana para filsuf seperti Thales dan Anaximander mulai mempertanyakan asal usul alam semesta secara rasional bukan melalui mitos.
Puncaknya adalah pemikiran Socrates, Plato dan Aristoteles:
- Socrates (469 – 399 SM) mengajarkan bahwa kebenaran harus diuji melalui dialog kritis. Dan Socrates juga memperkenalkan metode dialektika. Socrates sering dianggap sebagai pendiri filsafat ilmu modern karena pendekatannya yang kritis terhadap pengetahuan. Ia menekankan pentingnya definisi, argumen logis dan pengakuan ketidaktahuan sebagai langkah awal menuju kebenaran. Metode dialeknya yaitu pertanyaan dan jawaban yang menjadi dasar bagi metode ilmiah.
- Plato (428 – 348 SM) membangun dunia ide sebagai basis rasionalitas. Plato merupakan murid socrates yang mengembangkan teori bentuk (ideas) yang memisahkan dunia ideal dari dunia inderawi. Baginya pengetahuan sejati diperoleh melalui akal budi, bukan pengalaman sensorik. Ini menimbulkan perdebatan tentang apakah ilmu didasarkan pada rasionalitas atau empirisme.
- Aristoteles (384 – 322 SM) sering dianggap sebagai bapak filsafat ilmu awal, ia menyusun logika dan pengamatan empiris sebagai metode memperoleh pengetahuan. Ia mengembangkan logika deduktif dan induktif, serta klasifikasi ilmu pengetahuan. Aristoteles melihat ilmu sebagai penjelasan kausal tentang fenomena alam yang mempengaruhi perkembangan biologi, fisika, dan etika selama berabadabad. Ia membedakan antara pengetahuan empiris (berdasarkan pengalaman) dan pengetahuan rasional (berdasarkan logika). Aristoteles juga memperkenalkan konsep kausalitas yang menjadi dasar bagi metode ilmiah modern. Aristoteles kemudian dianggap sebagai salah satu peletak dasar awal metode ilmiah.
Di luar Yunani, filsafat Cina dan India juga berkontribusi. Konfusianisme dan Taoisme menekankan harmoni dengan alam, sementara filsafat India seperti Vedanta mempertanyakan realitas dan pengetahuan. Namun filsafat Yunani yang paling berpengaruh, terutama melalui warisan Aristotelian yang diadopsi oleh dunia Islam dan Eropa.
Abad Pertengahan: Ketika Pengetahuan Berbaju Teologi
Pada abad pertengahan sekitar 500 – 1500 M. ilmu tidak hilang tetapi bergerak di bawah pengaruh agama, filsafat ilmu diintegrasi dengan teologi kristen. Pemikiran ilmiah sangat terikat oleh otoritas gereja. Di Eropa sendiri, Thomas Aquinas berusaha menyelaraskan pemikiran Aristoteles dengan teologi kristen. Thomas Aquinas dalam “summa theologica” menggunakan metode Aristotelian untuk membuktikan keberadaan tuhan, menekankan bahwa metode ilmiah harus sesuai dengan wahyu agama. Ia berpendapat bahwa pengetahuan ilmiah dapat diperoleh melalui akal budi dan wahyu, tetapi ilmu harus tunduk pada kebenaran agama. Ini menciptakan ketegangan antara otoritas gereja dan penyelidikan ilmiah, seperti kasus Galileo yang akan datang. Thomas Aquinas mencoba mensintesiskan ajaran gereja dengan filsafat Aristoteles. Meski ruang berpikir kritis sering dibatasi, periode ini mempersiapkan dunia untuk perubahan besar berikutnya. Periode ini menekankan rasionalisme, di mana pengetahuan dianggap sebagai hasil dari pemikiran deduktif dari prinsip-prinsip pertama. Namun, revolusi ilmiah abad ke- 16 dan abad ke- 17 mengubah paradigma ini.
Di dunia Islam para filosof seperti Al-Farabi, Ibnu Sina dan Ibnu Rushd mengembangkan logika, metafisika dan epistemologi secara mendalam. Mereka menegaskan bahwa akal dan wahyu dapat berdampingan. Pemikiran mereka bahkan menjadi jembatan menuju lahirnya renaisans. Al-Kindi dan Ibnu Sina menerjemahkan dan mengembangkan karya Aristoteles dan memperkenalkan metode empiris dalam kedokteran dan astronomi. Ibnu Khaldun bahkan mengembangkan sosiologi awal dengan pendekatan ilmiah terhadap sejarah.
Abad pertengahan menandai bahwa periode di mana filsafat ilmu lebih bersifat spekulatif dari pada eksperimental, dengan fokus pada metafisika dan etika. Namun, ini juga membuka jalan bagi Renaisans, di mana humanisme dan penemuan baru mulai menantang dogma agama.
Renaisans: Ketika Akal Kembali Berkuasa
Renaisans menandai kebangkitan kembali rasionalitas dan kebebasan intelektual. Revolusi ilmiah (1543 – 1687) menandai perubahan radikal dalam filsafat ilmu. Pada masa ini metode ilmiah berkembang melalui dua tokoh besar:
- Francis Bacon: mengedepankan metode induktif yaitu ilmu berasal dari pengamatan dan eksperimen. Ia menekankan pengumpulan data empiris sebagai dasar pengetahuan.
- Rene Descartes: mengenalkan keraguan metodis dengan segala sesuatu harus diuji oleh akal. Rene Descartes mewakili rasionalisme dengan metode deduktif dari prinsip-prinsip matematis. Isaac Newton mensintesis ini dalam “principia mathematica” yang menunjukkan bahwa hukum alam dapat dijelaskan melalui matematika dan eksperimen. Ini membentuk fondasi mekanistik ilmu modern.
Keduanya menunjukkan bahwa ilmu harus dibangun di atas fondasi yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan otoritas. Dan menjadi fondasi ilmiah modern dengan perpaduan antara pengamatan empiris dan penalaran logis.
Abad Pencerahan: Sintetis Rasionalisme dan Empirisme
Abad ke- 18 adalah abad pencerahan yang melihat pemisahan antara filsafat dan sains. Abad pencerahan ini memperluas filsafat ilmu. Immanuel Kant membedakan antara pengetahuan A priori (rasional) dan A posteriori (empiris) yang menanyakan batasan akal manusia. Abad ini ditandai oleh positivisme Auguste Comte (1798 – 1857) yang mengembangkan “hukum tiga tahap”: teologis, metafisis, dan positif. Tahap positif adalah puncak di mana ilmu didasarkan pada fakta empiris dan hukum umum. Ini mempengaruhi sosiologi dan psikologi. Dalam abad ini memperlihatkan pertarungan antara dua kutub besar:
- Rasionalisme: Pengetahuan berasal dari akal
- Empirisme: Pengetahuan berasal dari pengalaman
Di tengah perdebatan ini, Immanuel Kant hadir dan menyatakan bahwa pengetahuan adalah hasil kombinasi keduanya. Menurutnya, pikiran manusia memiliki struktur bawaan yang mengatur pengalaman. Dengan demikian manusia bukan hanya menerima pengetahuan, tetapi juga “membentuk” realitas melalui cara berpikirnya.
Charles Darwin (1809 – 1882) dengan teori evolusi menantang pandangan statis alam, memperkenalkan konsep perubahan gradual melalui seleksi alam. Ini memicu perdebatan tentang apakah ilmu dapat menjelaskan asal usul kehidupan tanpa tuhan.
Pemikiran ini menjadi landasan Epistemologi modern. Immanuel Kant sebagai tokoh sentral masa kini yang mensintesiskan keduanya. Menurut kant, pengetahuan pengetahuan muncul dari interaksi antara data empiris dan struktur bawaan dalam pikiran manusia.
Abad ke- 19 dan ke-20: Sains Dikritik, Ilmu Diperbarui
Abad ini adalah era keemasan filsafat ilmu dan memasuki era modern, Auguste Comte memperkenalkan positivisme yang menyatakan bahwa pengetahuan ilmiah adalah satu-satunya kebenaran sah. Namun abad ke-20 menunjukkan bahwa sains tidak sesederhana itu.
Beberapa tokoh besar kemudian mengguncang fondasi positivisme:
- Karl Popper mengatakan ilmu berkembang bukan melalui pembuktian, tetapi melalui falsifikasi. Teori ilmiah harus selalu bisa dibantah. Karl Popper mengkritik dengan falsifikasi: teori ilmiah harus dapat difalsifikasi, bukan diverifikasi.
- Thomas Kuhn memperkenalkan konsep paradigma dan revolusi ilmiah: ilmu tidak berkembang secara kumulatif, tetapi melalui perubahan paradigma seperti Ptolemy ke Copernicus. Ini menimbulkan relativisme di mana kebenaran ilmiah tergantung pada konteks.
- Imre Lakatos menyempurnakan Popper dengan gagasan program riset ilmiah
- Paul Fayerabend berargumen bahwa tidak ada metode ilmiah yang universal, sebuah pandangan radikal yang memicu perdebatan.
Pemikiran modern ini menegaskan bahwa ilmu bukan sekedar kumpulan fakta objektif, tetapi juga kegiatan manusia yang dipengaruhi budaya, bahasa, dan bahkan kekuasaan. Di akhir abad filsafat ilmu berkembang ke arah interdisipliner, dengan kontribusi dari feminisme seperti Helen Longino dan studi sains teknologi yang melihat ilmu sebagai produk sosial.
Pada akhir abad ke- 20 filsafat ilmu menghadapi tantangan dari relativisme, postmodernisme, kecerdasan buatan dan etika sains. Realisme ilmiah yang diwakili oleh Hilary Putnam dan Richard Boyd berpendapat bahwa teori ilmiah benar-benar menggambarkan realitas. Sebaliknya, instrumentalisme seperti yang dikembangkan oleh Pierre Duhem, melihat teori sebagai alat untuk memprediksi, bukan kebenaran absolut. Sementara Nancy Cartwight menanyakan apakah hukum alam benar-benar universal.
Kesimpulan
Sejarah filsafat ilmu menunjukkan perjalanan dari spekulasi metafisik ke metodologi empiris yang ketat. Dari Socrates ke Kuhn, ia telah membentuk bagaimana kita memahami dunia dengan pergulatan antara rasionalisme, empirisme dan relativisme. Meskipun tantangan terus muncul, filsafat ilmu tetap penting untuk memastikan sains bertanggung jawab dan inovatif. Di era globalisasi dan teknologi ini, filsafat ilmu harus tetap berkembang untuk mengatasi isu-isu seperti etika AI dan perubahan iklim. Dengan demikian, ia bukan hanya sejarah, tetapi juga panduan untuk masa depan ilmu pengetahuan.
Biodata Penulis:
Ismi Arinal Mufidati saat ini aktif sebagai mahasiswa di Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta.