Oleh Raden Widha Agustika
Kehidupan di zaman sekarang yang sudah serba digital ini udah gak bisa dipisahkan dari yang namanya “dunia maya”. Siapa sih yang di zaman sekarang gak main sosial media?mungkin ada, tapi minoritas pastinya. Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, hampir semua orang pasti sempat membuka sosial media, entah cuma untuk balas pesan teman, melihat sesuatu yang trending, atau cuma sekedar scroll untuk hiburan semata. Internet memang memudahkan banyak hal, tapi di sisi lain, juga membuka ruang baru buat masalah sosial yang dulu mungkin gak kepikiran. Salah satunya adalah perilaku kasar lewat tulisan atau komentar di sosial media yang bisa disebut cyberbullying. Cyberbullying merupakan bentuk perundungan yang dilakukan secara sengaja melalui media digital, dan bisa berdampak pada gangguan emosional seperti stres serta kecemasan. Artinya, apa yang dianggap sekadar komentar bisa jadi beban berat buat orang lain.
Pepatah pernah bilang “Mulutmu harimaumu”, seiring berkembangnya zaman nasihat itu berubah bentuk jadi “Jarimu harimaumu”. Bedanya cuma alatnya, tapi dampaknya sama, bahkan bisa lebih besar. Kalau dulu kata-kata yang menyakiti cuma terdengar oleh beberapa orang di sekitar kita, sekarang bisa tersebar ke ribuan bahkan jutaan orang hanya dalam hitungan detik. Satu kalimat, bahkan satu kata saja yang diketik tanpa pikir panjang, bisa melukai orang lain lebih dalam dari yang kita bayangkan. Kadang cuma karena emosi sesaat, iseng, atau pengen ikut-ikutan, jari kita ngetik sesuatu yang sebenarnya gak perlu diutarakan. Tapi yang kita tulis itu tetap punya jejak, dan jejak itu bisa membekas di hati orang lain. Dunia maya yang seharusnya jadi tempat berbagi cerita dan bertukar pikiran, perlahan berubah jadi arena saling menghakimi dan menjatuhkan. Orang berlomba jadi yang paling lucu, paling berani, paling tajam ngomong, tanpa mereka sadar kalau yang dikorbankan adalah perasaan orang lain.
Kadang yang bikin miris, banyak orang gak sadar kalau apa yang mereka ketik di media sosial bisa berdampak besar buat orang lain. Komentar yang kelihatannya sepele misalnya “ih norak” atau yang menyangkut fisik kayak “lo gendut banget sih, diet dong!”, mungkin cuma satu baris
kalimat pendek di layar, tapi buat orang yang nerimanya, itu bisa membekas lama di kepala dan bikin mereka insecure. Apalagi kalau komentar kayak gitu datang bukan cuma dari satu orang, tapi dari banyak orang sekaligus. Rasanya kayak dihakimi sama orang-orang yang bahkan gak dikenal. Yang lebih parah, gak sedikit orang yang ngebela diri dengan bilang “cuma bercanda” atau “baper banget sih, ga asik lo”, padahal gak semua orang punya ketahanan mental yang sama. Ada yang gak peduli, tapi banyak juga yang diem-diem nyimpen luka.
Salah satu alasan kenapa orang gampang banget melakukan cyberbullying adalah karena rasa aman palsu di balik layar. Gak ada tatapan mata, gak ada suara, dan gak ada rasa bersalah yang langsung terasa. Orang merasa bebas karena bisa bersembunyi di balik nama pengguna atau akun palsu. Akibatnya, banyak yang berani ngomong hal-hal yang gak pantas, dan juga hal-hal yang mungkin gak akan pernah mereka ucapin di dunia nyata. Dunia maya emang ngasih kebebasan, tapi juga bikin banyak orang kehilangan empati. Mereka gak sadar kalau jari-jari yang menari di layar bisa melukai lebih tajam daripada pisau sekalipun.
Cyberbullying bukan cuma tentang komentar jahat di internet. Lebih dari itu, ini tentang bagaimana tekanan sosial digital bisa memengaruhi mental seseorang. Ada yang awalnya percaya diri, jadi takut posting apapun di media sosial. Ada juga yang kehilangan semangat hidup karena dapat komentar buruk dari orang lain. Dalam beberapa kasus, korban bisa stres berat, menarik diri dari lingkungan, bahkan kehilangan rasa aman di dunia nyata. Buat sebagian orang, dunia maya cuma tempat hiburan. Tapi buat sebagian lainnya, komentar-komentar itu bisa terasa kayak serangan nyata yang datang setiap hari.
Masalahnya, di era sekarang banyak orang yang merasa punya hak buat ngomong apa aja di internet, dengan dalih “kan gue punya hak berpendapat”, padahal kebebasan berpendapat itu bukan berarti bebas buat menyakiti. Dunia maya seharusnya jadi tempat saling berbagi dan menghargai, bukan tempat saling menjatuhkan. Etika gak berhenti cuma karena kita online. Kalau di dunia nyata kita diajarin sopan santun, di dunia maya pun seharusnya sama. Menjaga cara bicara, berpikir sebelum berkomentar, dan menghormati perbedaan pendapat adalah bentuk sederhana dari nilai kemanusiaan yang sebenarnya. Dunia maya yang beradab bukan cuma tanggung jawab pemerintah atau platform aja, tapi juga kita sebagai pengguna. Karena sebesar apa pun aturan dibuat, kalau penggunanya gak punya kesadaran, hasilnya gak akan beda.
Yang paling sulit itu bukan menegur orang lain, tapi menahan diri sendiri. Gak semua hal harus dikomentarin, dan gak semua komentar harus dilontarkan. Kadang diam itu lebih baik daripada
ngomong tapi malah nyakitin orang lain. Sebelum ngetik sesuatu, coba tanya ke diri sendiri: “Kalau gue yang dikatain begini, gue bakal gimana ya?”, pertanyaan sederhana itu bisa jadi pengingat kecil sebelum jari kita bergerak terlalu cepat.
Contoh nyata fenomena cyberbullying juga bisa dilihat dari bagaimana netizen memperlakukan selebriti. Banyak artis atau influencer yang dihujat habis-habisan cuma karena penampilannya berubah, atau karena mereka gak memenuhi ekspektasi penggemarnya. Misalnya, ada artis yang dulu dikenal ceria tapi setelah menikah jadi lebih tertutup, lalu langsung dianggap gak seru lagi. Ada juga yang dikomentari soal berat badan, wajah tanpa makeup, bahkan outfitnya. Semua orang seolah berhak menilai dan mengatur, padahal mereka gak tahu apa yang sebenarnya sedang dialami oleh orang itu. Kadang satu foto atau video bisa mengundang ribuan komentar negatif, seolah-olah orang di balik layar itu bukan manusia. Padahal, selebriti pun bisa capek, bisa sedih, dan punya perasaan yang sama kayak kita.
Mungkin kita gak bisa mengubah semua orang di internet. Akan selalu ada yang toxic, julid, dan nyinyir. Tapi paling enggak, kita bisa milih buat gak ikut jadi bagian dari itu. Empati bisa dimulai dari hal kecil, gak ikut nyindir, gak nyebarin gosip, dan gak nambahin komentar yang bisa nyakitin. Kalau di dunia nyata aja kita butuh sopan santun, di dunia maya juga begitu. Sama-sama tempat kita berinteraksi, cuma bedanya gak tatap muka. Tapi perasaan orang tetap sama, bisa tersenyum, bisa terluka, dan bisa kecewa. Dan semua itu bisa dipicu cuma dari satu komentar.
Lucunya, banyak orang yang di dunia nyata ramah banget, tapi begitu di dunia maya berubah jadi julid atau sarkastik. Entah kenapa, layar ponsel seolah jadi topeng yang bikin orang lebih berani ngomong hal yang gak pantas. Padahal di balik layar yang mereka hina, bisa aja ada orang yang sedang berjuang keras untuk kesehatan mentalnya. Dunia maya itu kayak kaca pembesar, satu komentar bisa diperhatikan banyak orang, dan efeknya bisa jauh lebih besar dari yang dibayangkan.
Pada akhirnya, yang bisa kita kendalikan cuma diri sendiri. Dunia maya akan selalu dipenuhi berbagai karakter dan pendapat. Tapi kita bisa memilih buat tetap berperilaku baik, bahkan ketika gak ada yang lihat. Etika digital bukan cuma soal aturan, tapi soal kesadaran bahwa di balik layar, tetap ada manusia yang bisa merasakan. Sebelum mengetik, pikir dulu apa kata-kata ini membangun atau malah melukai? Karena satu kalimat bisa jadi awal kebaikan, tapi juga bisa jadi sumber luka panjang buat seseorang.
Biodata Penulis: