Oleh Rifa Ardian Fahreza
Ada hal-hal dalam hidup saya yang baru saya pahami setelah semuanya terlewat. Dulu ketika masih kecil, saya sering menganggap kebenaran itu datang dari diri saya sendiri dan seolah-olah menjadi orang yang tidak pernah salah. Bahkan, orang tua saya sekalipun, saya anggap salah ketika tidak sepemikiran dengan saya. Padahal, kebenaran-kebenaran seperti itu hanya untuk menyenangkan diri saya sendiri dan pasti berasal dari ego saya sendiri. Saya kasih contoh dari kisah saya yang membuat saya sampai sekarang semakin muhasabah diri untuk lebih rendah hati dan lebih terbuka untuk mendengar hal-hal kecil dari orang lain.
Dulu, ketika saya masih MI (Madrasah Ibtidaiyyah) sampai SMP (Sekolah Menengah Pertama), yang mana pada waktu SMP saya masuk kesalah satu pondok pesantren, saya punya satu sifat yang sekarang terasa memalukan kalau saya ingat kembali, yaitu saya merasa diri saya selalu benar. Entah itu dalam pelajaran, tugas kelompok, atau pada saat mengaji di pondok pesantren. Saya selalu ingin jadi yang paling depan, paling benar, dan paling unggul. Karena pada dasarnya, ayah saya adalah orang yang cerdas, entah dari segi akademik maupun non akademik. Sehingga saya menghalalkan semua cara agar saya bisa seperti ayah saya.
Saya sering berpikir bahwa cara saya adalah satu-satunya cara yang tepat. Kalau ada teman yang memberi pendapat berbeda, saya cenderung menolaknya tanpa benar-benar mendengarkan. Dalam pikiran saya waktu itu, saya berpikir bahwa “Kalau bukan saya yang benar, yaa siapa lagi?”. Dalam beberapa perlombaan nilai tugas kelas, saya memang sering berambisi menjadi yang nomor satu. Bukan sekadar ingin melakukan yang terbaik, tapi ingin dianggap paling benar. Bahkan kalau ada teman yang salah sedikit, saya cepat mengoreksi, kadang dengan cara yang keras, tanpa saya sadari membuat mereka merasa diremehkan.
Pada waktu itu, saya merasa kemenangan atau menjadi yang paling unggul adalah ukuran kebenaran. Saya pikir, kalau saya yang paling dulu selesai (unggul), berarti saya paling pintar. Kalau saya yang paling sering menjawab, berarti saya paling benar. Padahal kenyataannya tidak selalu begitu. Saya tidak sadar bahwa pola pikir seperti itu membuat saya menutup pintu dari banyak hal, seperti ide baru, cara baru, dan bahkan pertemanan yang lebih dalam. Bahkan pernah pada suatu tugas kelompok, guru pernah menegur saya pelan, “Coba dengar dulu pendapat temanmu. Kebenaran itu tidak selalu datang dari kamu”. Waktu itu saya hanya mengangguk dan tidak menghiraukan sama sekali karena pada waktu itu, saya tidak benar-benar memahami maksudnya. Sekarang, kata-kata itu terasa menampar sekali. Kesalahan terbesar saya adalah saya berambisi menjadi yang paling benar, tetapi tidak berusaha memahami apakah yang saya lakukan memang benar.
Kalau saya pikirkan lagi, kesalahan saya waktu itu bukan karena saya ingin jadi pintar atau ingin jadi yang nomor satu. Ambisi itu bukan masalah. Kesalahannya adalah saya merasa hanya saya yang benar, dan saya lupa bahwa kebenaran tidak pernah dimiliki oleh satu orang saja. Saya lupa bahwa cara orang lain pun bisa benar, meski tidak sama dengan cara saya. Saat saya mulai tumbuh dewasa, pelan-pelan saya sadar bahwa kebenaran yang saya kejar waktu itu bukan kebenaran, melainkan pengakuan. Sekarang, saya menyadari bahwa kebenaran justru sering datang dari hal yang dulu tidak pernah saya akui. Waktu semasa MI dan SMP dulu, saya terlalu takut salah, padahal dari situlah saya seharusnya belajar. Ketika saya menutup diri dari kritik, saya juga menutup pintu menuju perkembangan diri saya.
“Kebenaran datang terlambat untuk saya, tapi ia benar-benar datang dengan gaya yang dikhususkan untuk saya”, itulah kata yang saya ingat sampai sekarang. Dari sinilah, saya belajar untuk lebih rendah hati, lebih mendengar, dan tidak lagi merasa bahwa saya harus selalu menjadi nomor satu untuk menjadi benar. Walaupun sampai sekarang masih terasa ambisi seperti itu, tapi setidaknya saya sudah sadar bahwa rasa seperti itu adalah kekeliruan dari diri saya sendiri. Keputusan-keputusan yang dulu saya yakini benar, kini terasa seperti pintu yang saya ketuk pada waktu yang salah. Namun pada akhirnya, dari kesalahan-kesalahan pemikirian kebenaran yang saya alami waktu kecil itu, saya menemukan kebenaran yang sejati, yang pastinya dari versi diri saya sendiri.
Kebenaran yang datang terlambat, tapi datang dengan cara yang jujur. Kadang kebenaran bukan datang seperti alarm yang membangunkan kita tepat waktu. Ia datang setelah semuanya ribut, setelah kita jatuh, setelah kita menyesal. Dalam hidup saya, kebenaran sering kali hadir seperti tamu yang terlambat, muncul setelah saya merasa keputusan saya benar, setelah saya bangga dengan langkah yang saya ambil, lalu belakangan menyadari bahwa saya ternyata sedang menuju ke arah yang keliru. Dari sinilah saya mengetahui bahwa hakikat dari kebenaran yang sejati datang dari sebuah kesalahan yang dianggap benar awalnya.
Dalam perjalanan mengenal diri dan memahami dunia, saya belajar bahwa pengetahuan tidak selalu lahir dari keberhasilan, melainkan dari refleksi atas apa yang pernah gagal. Seperti halnya ilmu filsafat yang mengajarkan bahwa kebenaran adalah proses panjang, hidup pun ternyata adalah ruang eksperimen tempat saya belajar memahami makna satu demi satu. Seperti kata Karl Popper, “Pengetahuan manusia dimulai dari masalah, bukan dari kesempurnaan”. Mungkin itu sebabnya kesalahan memiliki cara unik untuk membuka pintu pemahaman yang tidak bisa dibuka oleh keberhasilan.
Popper berargumen bahwa ilmu berkembang bukan dengan mencari bukti yang mengonfirmasi teori, melainkan justru dengan menguji dan mencoba menyanggah (falsifikasi) teori tersebut. Bila teori gagal, artinya terdapat kesalahan atau kontradiksi terhadap fakta, teori itu harus ditolak atau diperbaiki. Dengan demikian, melalui kesalahan dan kegagalan teori-teori sebelumnya, sains bisa mendekat ke kebenaran yang lebih baik (Suriasumantri, 2009: 87).
Dari pemikiran Karl Popper tersebut, saya bisa menarik kesimpulan bahwa kebenaran dalam ilmu pengetahuan justru muncul dari proses menemukan dan memperbaiki kesalahan. Ilmu tidak tumbuh karena banyaknya bukti yang mendukung teori, tetapi karena keberanian untuk menguji teori sampai batasnya dan melihat apakah teori itu salah. Setiap kali sebuah teori gagal bertahan melawan kritik atau fakta baru, teori itu harus direvisi atau diganti.Jika Karl Popper mengatakan bahwa sains berkembang karena keberanian mengakui dan menyingkap kesalahan, maka hidup saya pun berjalan dengan prinsip yang sama, meski saya baru menyadarinya belakangan.
Banyak hal dalam hidup tidak langsung benar sejak awal. Saya tidak selalu mengambil keputusan yang tepat, tidak selalu memilih jalan yang benar dan tidak selalu bertindak sebagaimana seharusnya. Tetapi justru dari kesalahan-kesalahan itulah saya belajar melihat kenyataan secara lebih jujur. Dalam hidup saya, kebenaran memang sering datang terlambat. Ia tidak muncul pada saat saya sedang yakin, tetapi justru ketika keyakinan saya terbantahkan oleh kenyataan oleh kenyataan, persis seperti teori yang gagal dalam uji falsifikasi. Setiap kegagalan, penyesalan, hubungan yang tidak berjalan lancar, atau keputusan yang membuat saya mundur selangkah, semuanya berfungsi seperti “kritik realitas” yang memaksa saya memperbaiki diri menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Popper percaya bahwa ilmu bergerak maju bukan karena merasa benar, tetapi karena sadar bahwa ia bisa salah. Saya pun mulai memahami bahwa kedewasaan pemikiran muncul bukan saat saya merasa sudah tahu, tetapi ketika saya berani mengakui ketidaktahuan dan kesalahan saya sendiri. Seperti teori yang diuji berulang-ulang, hidup saya pun diuji oleh berbagai pengalaman pahit dan dari setiap retakan itu, saya menemukan potongan-potongan kebenaran yang dulu tidak terlihat. Kebenaran tentang siapa diri saya, apa nilai saya, dan bagaimana saya seharusnya melangkah ke depan dengan yang semestinya.
Kebenaran yang saya temukan hari ini adalah kebenaran yang datang terlambat, namun tetap membawa saya lebih dekat pada diri saya yang sebenarnya. dari semua pengalaman yang saya alami semasa kecil, saya menyadari satu hal sederhana dan mungkin ini menjadi kata-kata yang saya buat khusus untuk diri saya sendiri:
"Saya tumbuh bukan karena pengalaman yang benar, tetapi karena kesalahan yang memaksa saya untuk memperbaiki diri dan menjadi diri saya yang sebenarnya"--Fahreza.
Sebagai penutup dari esai ini, saya berpesan kepada semua pembaca esai ini bahwa “Setiap orang menemukan kebenarannya, menemukan jati diri dalam hidupnya dengan cara yang berbeda-beda sesuai versi caranya sendiri. Maka belajarlah mencintai diri sendiri dengan versi terbaik diri anda sendiri, tanpa membandingkan dengan versi orang lain. Dari situ kita akan tahu bahwa kebenaran itu muncul ketika kita jujur pada diri sendiri, menerima kekurangan kita, merayakan perkembangan kita, dan terus melangkah tanpa merasa harus menjadi seperti orang lain.”
----------Barakallahu fiik----------