6 Kebiasaan Aneh Gen Z yang Diam-Diam Bikin Hidup Lebih Ringan

Kelihatannya aneh, tapi ampuh bikin waras. Yuk intip enam kebiasaan unik Gen Z yang diam-diam membantu menjaga kesehatan mental.

Oleh Laylatuz Zahra Ramadhani

Kelihatannya absurd, tapi justru bikin hidup lebih waras. Gen Z hidup di tengah tekanan yang datang dari segala arah, tugas yang menumpuk, notifikasi tanpa henti, hingga ekspektasi sosial yang sulit diprediksi. Situasi serba cepat ini membuat banyak dari mereka menemukan cara-cara unik untuk menenangkan diri. Meskipun terlihat aneh bagi orang lain, kebiasaan ini bekerja cukup efektif sebagai mekanisme bertahan hidup. Selama tidak merugikan diri sendiri, ritual kecil seperti ini justru membantu menjaga keseimbangan mental.

Kebiasaan Aneh Gen Z yang Diam-Diam Bikin Hidup Lebih Ringan

Berikut enam kebiasaan aneh yang sering dilakukan Gen Z. Siapa tahu kamu salah satunya.

1. Mengatur Ulang Ikon Aplikasi demi Sensasi Hidup Baru

Banyak Gen Z rutin memindah-mindahkan ikon aplikasi di layar ponsel, meskipun sebenarnya tidak ada alasan penting. Aktivitas sederhana ini menghadirkan perasaan seperti memulai babak baru, terlebih setelah hari yang melelahkan. Perubahan visual kecil sering memberi ilusi kontrol yang menenangkan.

Selain menyegarkan tampilan, kebiasaan ini membantu menghilangkan rasa jenuh dari rutinitas digital yang monoton. Saat membuka layar dengan susunan baru, ada sensasi segar yang membuat mereka lebih bersemangat. Meski sepele, hal kecil seperti ini kadang cukup mengubah mood.

2. Mendadak Bersih-Bersih Jam Dua Pagi saat Overthinking

Ketika pikiran terasa penuh dan sulit berhenti, Gen Z sering memilih bersih-bersih secara impulsif di tengah malam. Aktivitas fisik seperti menyapu lantai atau melipat pakaian membantu mengalihkan fokus dari kecemasan menuju gerakan yang lebih sederhana. Perlahan, kepala ikut tenang dan napas terasa lebih teratur.

Hasilnya, ruang menjadi rapi dan hati ikut lebih lega. Memang bukan waktu yang ideal untuk beres-beres, tetapi kebiasaan ini terbukti ampuh menurunkan kecemasan spontan. Bagi sebagian orang, membersihkan kamar di jam aneh adalah bentuk coping mechanism yang cukup efektif untuk meredakan kecemasan.

3. Memilih Makanan Berdasarkan Warna Mood Hari Itu

Gen Z sering menentukan pilihan makanan bukan berdasarkan rasa lapar, melainkan warna suasana hati. Saat sedih, mereka mencari sesuatu yang cokelat. Ketika butuh energi, makanan pedas terasa lebih cocok. Sementara untuk menenangkan diri, pilihan jatuh pada makanan dengan warna lembut seperti es krim stroberi.

Walau terdengar konyol, metode ini memberi sensasi kontrol kecil yang menyenangkan. Proses memilih berdasarkan mood juga terasa seperti menghadiahi diri sendiri tanpa alasan khusus. Ternyata, hal sepele seperti ini bisa mengubah perasaan dengan cepat.

4. Menonton Video ‘Restock’ meski Tidak Pernah Meniru

Ada kepuasan melihat sabun dituangkan dengan rapi atau snack disusun ke wadah transparan. Gen Z menonton video restock untuk menenangkan pikiran yang sedang kusut. Gerakan yang teratur dan ritme yang konsisten membuat otak ikut merasa tertata.

Efek visual yang rapi dan suara ASMR yang halus memberikan relaksasi cepat, bahkan hanya dalam beberapa menit. Meskipun jarang menirukan proses restock tersebut di rumah, menonton videonya saja sudah cukup untuk meredakan stres setelah hari yang berat.

5. Menggunakan Alarm Berbeda untuk Tiap Suasana Hati

Sebagian Gen Z memiliki beberapa jenis alarm: yang lembut untuk bangun pelan-pelan, yang tegas untuk pagi produktif, dan yang super keras untuk kondisi darurat. Setiap alarm seolah punya fungsi emosional tersendiri. Dengan cara ini, mereka merasa lebih siap menghadapi pagi yang penuh ketidakpastian.

Sistem alarm yang variatif membantu menciptakan rasa aman kecil dalam rutinitas harian. Meski terdengar dramatis, metode ini terbukti efektif mengatur ritme bangun tidur. Setidaknya, mereka bisa memilih “mode pagi” sesuai situasi.

6. Mengirim Chat ke Diri Sendiri sebagai Jurnal Digital Darurat

Banyak Gen Z menggunakan fitur chat pribadi atau ‘Saved Message’ untuk mencurahkan isi pikiran. Cara ini jauh lebih cepat dan spontan dibanding menulis jurnal panjang di buku. Mereka bisa menuangkan ide, keluhan, atau emosi tanpa harus khawatir dinilai oleh orang lain.

Kebiasaan ini juga menjadi cara praktis untuk memantau perkembangan perasaan dari waktu ke waktu. Diam-diam, chat ke diri sendiri berfungsi sebagai ruang aman untuk jujur sepenuhnya. Sederhana, tetapi sangat membantu menjaga kesehatan mental.

Biodata Penulis:

Laylatuz Zahra Ramadhani saat ini aktif sebagai mahasiswi di Universitas Sebelas Maret.

© Sepenuhnya. All rights reserved.