Oleh Yohanna Angelika Putri Kienasih
Beberapa waktu terakhir, saya bertemu seorang siswa yang membuat saya memahami betapa pentingnya peran Bimbingan dan Konseling dalam kehidupan remaja. Hal tersebut juga membuat saya kembali merenungkan banyak hal tentang hidup, tentang iman, dan tentang ketenangan yang sering kita cari jauh padahal sebenarnya begitu dekat. Ia bercerita bahwa salatnya sering tertinggal. Bukan karena tidak mau, tetapi karena ada rasa malas yang diam-diam tumbuh, rasa lelah yang tidak ia pahami, atau pikiran yang tidak berhenti berputar. Dan ketika ia merasa gagal menjaga ibadahnya, rasa bersalah justru membuatnya semakin sulit kembali.
Di balik semua itu, ada satu hal yang menjadi akar dari kegelisahannya: ketakutan akan masa depan. Ia takut tidak mendapatkan pekerjaan yang layak. Ia khawatir tentang jodoh yang belum terlihat. Ia cemas apakah ia bisa membangun keluarga yang baik kelas. Dan semua ketakutan itu tumbuh menjadi bayangan besar yang membuatnya merasa kecil.
Sebagai seorang yang sedang belajar di bidang Bimbingan dan Konseling, saya melihat bahwa perilaku religius yang tidak stabil bukan sekedar masalah kedisplinan. Ada faktor emosional dan spiritual yang saling terkait. Remaja ini menyimpan banyak kekhawatiran—takut tidak mendapatkan pekerjaan yang baik, takut tidak bertemu jodoh yang tepat, takut membangun keluarga yang tidak bahagia, bahkan takut hidupnya tidak berjalan seperti yang ua bayangkan. Semua ketakutan itu tumbuh menjadi kecemasan yang membuatnya sulit fokus, sulit tenang, dan akhirnya sulit menjaga ibadah.
Di sinilah saya melihat betapa pentingnya pendampingan dalam BK. Karena sangat sering, ketika remaja terlihat “malas salat”, sebenarnya mereka sedang berjuang dengan kecemasan, tekanan, dan rasa tidak yakin pada diri sendiri. Remaja membutuhkan ruang aman, dan BK menyediakan ruang itu. Dari proses konseling yang saya amati, saya belajar bahwa tugas seorang konselor bukan hanya menasihati, tetapi mendengarkan. Menjadi tempat bagi siswa untuk mencurahkan rasa takutnya tanpa dihakimi. Dari sana barulah konselor bisa membantu siswa melihat hubungan antara kecemasan tentang masa depan dan perilaku religius yang tidak stabil.
Di Bimbingan dan Konseling, kami diajarkan bahwa konseling bukan hanya mengatasi masalah, tetapi membantu siswa menemukan kembali kekuatan dirinya. Ketika siswa merasa masa depan terlalu menakutkan, konselor hadir untuk menuntunnya melihat bahwa ia tidak harus memikul semuanya sendirian. Ketika salat terasa berat, konselor membantu mengingatkan bahwa ibadah adalah ruang tenang, bukan kewajiban yang memaksa.
Menurut saya, inilah keindahan BK: membantu seseorang menemukan ketenangannya sendiri.
Saya belajar bahwa membantu siswa seperti ini bukan tentang memberi solusi instan, tetapi tentang memulihkan hubungan mereka dengan diri sendiri dan dengan Tuhannya. Konseling mengingatkan bahwa masa depan tidak perlu ditakuti secara berlebihan. Setiap orang memiliki ritme hidupnya. Bahwa usaha yang baik sudah cukup, dan sisanya bisa diserahkan kepada Allah SWT.
Kadang, nasihat terbaik yang bisa diberikan seorang konselor adalah:
“Kamu tidak harus memahami semuanya sekarang. Pelan-pelan saja. Kamu berharga, usahamu cukup, dan Allah selalu membuka pintu untuk orang yang mau kembali.”
Pada akhirnya, pengalaman ini membuat saya semakin yakin bahwa pendekatan BK yang hangat, empatik, dan menghargai nilai spiritual mampu membantu remaja menemukan arah hidupnya. Dan seringkali, jalan menuju ketenangan itu dimulai dari satu langkah kecil: mau bercerita, mau dibimbing, dan mau kembali kepada Tuhan dengan hati yang tenang.
Biodata Penulis:
Yohanna Angelika Putri Kienasih saat ini aktif sebagai Mahasiswa Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, di Universitas Sebelas Maret Surakarta.