Oleh Najwa Nur Fatma
Coba bayangin, kalau suatu hari ilmu pengetahuan nongol depan kita, terus ngomong. Bro, Sis...sebentar deh. “Sebenarnya aku ini diciptakan buat apa sih?”
Kita yang biasanya pusing ngerjain tugas, ngafalin teori, buat jurnal, makalah, PPT, atau buru-buru ngumpulin esai jam 23.59 mungkin langsung freeze. Karena jujur aja, selama ini kita lebih fokus “gimana caranya lulus” daripada “gimana caranya ngerti makna ilmu”.
Tapi coba deh bayangin. Ilmu yang tiap hari kita pakai buat ngerjain PR, ngoding, bikin presentasi, atau sekadar ngasih opini di media sosial, tiba-tiba mempertanyakan eksistensinya. Itu bukan pertanyaan receh, itu deep. Kaya lagi makan indomie jam 3 pagi sambil overthinking hidup.
Oke, mari kita bahas pertanyaan itu pelan-pelan, dengan gaya yang gampang dicerna tapi tetap punya makna.
Ilmu Itu Nggak Ada Tiba-Tiba, Dia Ada Karena Kita Butuh
Ilmu itu bukan NPC yang tiba-tiba muncul di dunia tetapi lahir dari kebutuhan manusia.
Dulu, manusia bingung:
“Kenapa hujan turun?”
“Kenapa malam gelap?”
“Kenapa ada sakit?”
“Kenapa orang ribut?”
Bahkan ada yang bertanya gini, “Kenapa huruf A itu dibaca A?”
Karena bingung, mereka nyari jawaban. Dari situlah, lahirlah fisika, kimia, biologi, matematika, sosiologi, kedokteran, hingga ilmu agama. Semua muncul karena manusia butuh survive, butuh ngerti dunia, dan juga butuh hidup lebih baik.
Kesimpulannya jelas:
Ilmu tercipta dari rasa penasarannya manusia yang levelnya hardcore. Tapi di era Gen Z sekarang, ilmu makin berkembang. Teknologi makin gila-gilaan. Informasi sedunia bisa masuk HP hanya dalam tiga detik. Akibatnya? Ilmu makin powerfull. Tapi makin powerfull, makin ribet juga. Makanya ilmu sekarang bertanya: “Kalian, mau bawa aku ke mana??”
Ilmu Jadi Resah Karena Kadang Kita Nyalahgunain Dia
Setiap teknologi keren yang kita nikmati sekarang, lahir dari ilmu. Tapi ilmu juga lihat bahwa manusia kadang... Agak berantakan dalam mengelola pengetahuan. Contohnya? Media sosial bikin orang gampang berantem. AI bisa bikin orang males mikir. Teknologi bisa bikin orang ketergantungan. Hoaks nyebar lebih cepat daripada chat gebetan. Penemuan sains bisa dipakai buat perang.
Ilmu awalnya berniat baik. Tapi begitu lihat realita, dia ngelus dada sambil bergumam: “Yahh...gini amat.” Lalu dia bertanya lagi: “Kalau aku malah bikin masalah, masih berguna nggak sih aku ini?”
Di sinilah kita masuk ke cabang filsafat keren bernama AKSIOLOGI, alias ilmu yang mengkaji nilai guna dan tujuan pengetahuan. Aksiologi basically ngomong: “Ilmu itu harus dipakai untuk kebaikan, bukan cuma untuk sekadar keren.”
Jadi kalau ilmu tiba-tiba insecure, itu wajar. Dia takut dipakai untuk hal-hal toxic.
Ilmu Butuh Nilai, Bukan Cuma Logika
Ilmu itu pintar. Tapi masalahnya, ilmu nggak punya moral. Ia cuma ngasih tahu “bagaimana melakukan sesuatu,” bukan “apakah itu baik.”
Contoh:
Ilmu bisa bikin senjata. Tapi apakah harus dipakai?
Ilmu bisa modifikasi DNA. Tapi moralnya gimana?
Ilmu bisa bikin algoritma yang bikin orang kecanduan. Tapi apa itu bijak?
Inilah kenapa ilmu memerlukan nilai atau dalam versi Gen Z: “Ilmu butuh hati, bro...” Ilmu tanpa nilai itu kayak orang jenius tapi nggak punya empati. Pintar tapi serem.
Aksiologi bilang:
Ilmu baru punya makna kalau ia membawa manfaat, bukan mudharat.
Ilmu baru terasa hidup kalau ia memanusiakan manusia.
Jadi pertanyaan ilmu tentang tujuan lahir bukan cuma soal fungsi, tetapi soal arah moral.
Ternyata Ilmu Bukan Cuma Buat Hal Besar, Dia Berguna Buat Hal Receh Juga
Kadang kita mikir ilmu itu cuma ada di buku tebal, lab, jurnal ilmiah, atau ruang kuliah. Padahal, ilmu hadir hampir di semua aktivitas sehari-hari kita, bahkan yang sepele.
Contoh gampang:
Ilmu ekonomi bantu kamu ngatur uang biar nggak bokek di tengah bulan.
Ilmu psikologi bantu kamu healing tanpa overthinking.
Ilmu komunikasi bantu kamu chat gebetan tanpa cringe.
Ilmu kesehatan bantu kamu nggak gampang sakit.
Ilmu teknologi bantu kamu ngerjain tugas cepat.
Jadi kalau ilmu bertanya, “Untuk apa aku diciptakan?” Jawabannya bisa sesederhana: “Buat bikin hidup Gen Z lebih manageable, lebih waras, dan lebih nyaman.” Nggak perlu ribet. Bahkan cara milih skintone foundation yang pas pun sebenarnya hasil dari ilmu.
Manusia yang Bikin Ilmu, Tapi Ilmu Juga Bentuk Manusia
Hubungan manusia dengan ilmu itu lucu: Manusia menciptakan ilmu. Lalu ilmu menciptakan peradaban. Lalu peradaban memengaruhi manusia. Lalu manusia balik lagi menciptakan ilmu baru.
Itu kayak siklus: kita belajar ilmu > ilmu ngebentuk cara kita mikir > kita berkembang > kita menciptakan ilmu baru.
Tapi... Kalau manusia nggak punya nilai, ilmu bisa salah arah. Makanya, ilmu bertanya: “Apakah manusia sudah cukup dewasa untuk mengelola aku?”
Nah, itu hal yang sering bikin Gen Z kepikiran. Soalnya, sekarang ilmu berkembang jauh lebih cepat daripada kematangan moral manusia.
Jadi... Untuk Apa Sebenarnya Ilmu Diciptakan?
Mari kita jawab dengan jujur, tanpa teori ribet.
- Ilmu diciptakan untuk mempermudah hidup manusia, bukan memperumit.
- Ilmu diciptakan untuk memanusiakan manusia, bukan membuat kita kehilangan empati.
- Ilmu diciptakan untuk menyelesaikan masalah, bukan menciptakan masalah baru.
- Ilmu diciptakan untuk kebaikan, bukan untuk peperangan atau manipulasi.
- Ilmu diciptakan agar peradaban terus berkembang, bukan stagnan.
Dan yang paling penting:
- Ilmu diciptakan agar manusia makin bijak, bukan cuma makin pintar.
- Ilmu nggak mau jadi senjata.
- Ilmu nggak mau jadi alasan pemecah belah.
- Ilmu mau jadi cahaya.
Kalau ilmu bisa menulis caption IG, mungkin dia bakal bilang: “Use me wisely, bestie...”
Kalau Ilmu Bertanya, Kita yang Harus Menjawab
Sekarang kita sampai di ujung pertanyaan itu. Ketika ilmu bertanya “Untuk apa aku diciptakan?”, jawabannya sebenarnya balik ke kita.
Ilmu itu powerfull. Tapi ia butuh pemilik yang bijak. Jadi, selama kita sebagai Gen Z:
- Pakai ilmu buat hal positif,
- Mikir dulu sebelum bertindak,
- Tetap punya moral,
- Tetap peduli sesama,
- Tetap menjadikan pengetahuan sebagai alat kebaikan,
Maka ilmu akan menemukan tujuan sejatinya.
Karena pada akhirnya, hubungan itu bersifat timbal balik: “Ilmu menemukan maknanya melalui manusia, dan manusia menjadi lebih manusia melalui ilmu”
Ilmu di Tangan Siapa? Karena Niat Menentukan Arah
Kalau dipikir-pikir, masalah utama bukan pada ilmunya, tapi pada siapa yang memegang ilmu itu dan untuk apa ia digunakan. Ilmu itu netral, kayak pisau. Bisa dipakai buat masak, bisa juga buat nyakitin orang. Yang bikin beda bukan pisaunya, tapi manusianya.
Di sinilah niat berperan besar. Dua orang bisa punya ilmu yang sama, gelar yang sama, bahkan kampus yang sama. Tapi hasilnya bisa jauh beda, yang satu pakai ilmunya buat bantu sesama, yang lain pakai ilmunya buat kepentingan pribadi tanpa mikir dampak.
Ilmu lalu kembali bertanya: “Aku salah dimana? Atau manusianya yang belum matang”
Jawabannya pahit tapi jujur: sering kali manusianya belum siap. Karena belajar teori itu lebih gampang daripada belajar tanggung jawab.
Makanya, ilmu butuh pendamping yang namanya etika. Tanpa etika ilmu seperti mobil sport tanpa rem. Kencang, tapi berbahaya.
Pendidikan Bukan Cuma Soal Pintar, Tapi Soal Arah Hidup
Kita sering mengukur keberhasilan pendidikan dari IPK, ranking, dan gelar. Padahal, ada pertanyaan yang jauh lebih penting. “Setelah punya ilmu, mau jadi manusia seperti apa?”
Ilmu yang hebat tapi nggak membentuk karakter hanya akan melahirkan orang pintar yang kosong. Pintar bicara, tapi miskin empat. Jago debat, tapi nggak mau mendengar. Paham teori keadilan, tapi cuek sama penderitaan.
Ilmu sebenarnya ingin membentuk manusia yang utuh, yang pikirannya tajam, tapi hatinya juga hidup.
Sayangnya, sistem sering lupa mengajarkan “kenapa” dan “untuk apa”, dan terlalu sibuk di “apa yang keluar di ujian”.
Kalau ilmu bisa curhat, mungkin dia bakal bilang: “Aku capek dijadiin hafalan. Aku pengen dimaknai.”
Di Era Digital, Ilmu Diuji Lebih Keras
Di zaman sekarang, semua orang bisa kelihatan pintar. Tinggal copy paste, tinggal share thread, tinggal pakai AI. Informasi berseliweran tanpa filter. Tapi justru di sinilah tantangannya.
Ilmu bertanya: “Dengan semua kemudahan ini, apakah manusia jadi lebih bijak?”
Jawabannya, belum tentu.
Karena akses ilmu yang cepat tidak otomatis membuat kedewasaan berpikir ikut cepat. Kadang, kemampuan berkata-kata jalan lebih dulu daripada kebijaksanaan bertindak. Akibatnya, ilmu dipakai untuk menjatuhkan, bukan membangun.
Maka di era digital, tugas manusia bukan hanya mencari ilmu, tapi memilah, memahami, dan mempertanggung jawabkannya.
Ilmu dan Tanggung Jawab Moral Itu Paket Lengkap
Ilmu tidak pernah minta dipuja. Ia hanya minta diperlakukan dengan benar.
Ketika ilmu berkembang, tanggung jawab manusia juga harus ikut naik level. Semakin canggih sains dan teknologi, semakin besar dampaknya bagi kehidupan. Artinya, semakin besar pula konsekuensi moralnya.
Ilmu ingin memastikan satu hal: “Apakah aku dipakai untuk membuat dunia lebih adil, atau justru lebih kejam?”
Menjadi Generasi yang Layak Dipercaya oleh Ilmu
Kalau ilmu adalah amanah, maka manusia adalah penjaganya. Dan generasi Gen Z hidup di zaman di mana amanah itu paling berat. Bukan karena kita kurang pintar. Tapi karena tantangannya jauh lebih kompleks.
Mana mungkin, jawaban terbaik untuk pertanyaan ilmu bukan kalimat panjang, tapi sikap hidup:
- menggunakan ilmu dengan sadar,
- belajar tanpa kehilangan nurani,
- menjadi pintar tanpa kehilangan empati,
- dan berkembang tanpa melupakan kemanusiaan.
Kalau kita bisa sampai di titik ini, ilmu tidak akan lagi bertanya dengan ragu. Ia akan tersenyum dan berkata: “Tenang. Aku diciptakan di tangan yang tepat.”