Waspada! Konten Bermesraan Berlebih di Medsos Rusak Perkembangan Kepribadian Remaja

Remaja Indonesia dihadapkan pada arus konten digital yang tak selalu sehat. Yuk pahami dampaknya bagi kepribadian dan langkah bijak untuk mencegahnya.

Oleh Raditya Revy Marisca

Saat ini kemajuan teknologi digital yang pesat, banyak remaja di Indonesia kini memiliki akses mudah ke ponsel pintar. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada 2023, sekitar 92,14 persen individu usia 15-24 tahun sudah menguasai atau memiliki telepon genggam. Selain itu, survei lain mencatat bahwa 73,7 persen remaja berusia 13-19 tahun menggunakan gadget, dengan angka mencapai 25,5 juta pengguna pada 2022, dan tren ini terus meningkat. Ponsel ini tidak hanya memudahkan komunikasi, tapi juga membuka pintu bagi remaja untuk membangun kedekatan dengan lawan jenis melalui media sosial. Sayangnya, platform seperti Instagram atau TikTok sering menampilkan konten yang tidak selaras dengan norma budaya di Indonesia, misalnya tayangan bermesraan yang berlebihan dari selebgram atau pengguna biasa. Hal semacam ini bisa memicu rasa ingin tahu berlebih, bahkan efek budaya FOMO di mana remaja merasa takut ketinggalan tren dan terdorong meniru meski belum tentu baik bagi mereka. Mengacu pada teori psikososial Erik Erikson, remaja usia 12-18 tahun idealnya memiliki tugas perkembangan mencari identitas diri daripada terburu-buru dalam hubungan intim, karena hal itu bisa mengganggu perkembangan kepribadian. Di sini kita akan mengupas dampak buruk dari fenomena tersebut beserta langkah pencegahan yang bisa diambil.

Konten Bermesraan Berlebih di Medsos Rusak Perkembangan Kepribadian Remaja

Isu Konten Negatif di Media Sosial

Media sosial sudah jadi bagian sehari-hari bagi remaja Indonesia, banyak dari mereka menghabiskan waktu berjam-jam di platform digital. Survei menunjukkan bahwa penggunaan gadget di kalangan remaja mencapai tingkat tinggi, di mana 83 persen dari 241 remaja di berbagai provinsi mengalami penggunaan smartphone yang bermasalah pada level sedang. Konten sensual atau romantis yang berlebihan sering muncul, menyebabkan perbandingan sosial, ketergantungan digital, hingga gangguan fokus belajar. Di Indonesia, tren ini semakin mengkhawatirkan karena dorongan kapitalisme digital membuat konten sensasional lebih mudah menyebar untuk menarik perhatian, yang akhirnya bisa merusak pola pikir generasi muda. Paparan konten seperti itu tidak hanya melanggar norma sosial dan agama di masyarakat kita, tapi juga memicu perilaku berisiko, seperti hubungan dini yang belum matang.

Dampak Terhadap Perkembangan Kepribadian Remaja

Penggunaan media sosial yang tak terkendali bisa memperburuk kesehatan mental remaja, termasuk peningkatan risiko kecemasan, depresi, dan rasa tidak percaya diri. Khususnya, konten negatif ini sering memicu FOMO, membuat remaja merasa harus ikut tren kedekatan dengan lawan jenis agar merasa diterima. Di Indonesia, studi menunjukkan bahwa FOMO berhubungan positif dengan perilaku phubbing yaitu mengabaikan interaksi langsung karena sibuk dengan ponsel, dengan korelasi sedang sebesar 0,423 di kalangan 150 remaja pengguna TikTok. Selain itu, kecanduan ini menyebabkan gangguan tidur, masalah bahasa, dan kurangnya interaksi sosial nyata. Banyak remaja yang sadar akan dampak ini, dengan sekitar 45 persen merasa terlalu banyak waktu terbuang di media sosial, yang bisa berujung pada penyesalan dan stres lebih lanjut. Jika dibiarkan, hal ini tidak hanya mengganggu pembentukan identitas, tapi juga menimbulkan masalah jangka panjang seperti penurunan kontrol diri dan emosi.

Tindakan Khusus untuk Meningkatkan Perkembangan Kepribadian

Menurut teori psikososial Erik Erikson, remaja usia 12-18 tahun berada pada tahap Identity vs. Role Confusion, di mana mereka harus fokus membentuk identitas diri melalui eksplorasi nilai dan minat pribadi. Jika terganggu oleh konten bermesraan berlebihan di media sosial yang memicu FOMO dan hubungan intim dini, remaja berisiko mengalami role confusion atau kebingungan identitas yang menyulitkan mereka memahami jati diri. Padahal, keberhasilan tahap ini menjadi fondasi penting bagi tahap berikutnya, Intimacy vs. Isolation (usia 18-40 tahun), saat seseorang baru siap menjalin hubungan romantis yang sehat dan matang. Terburu-buru ke intimasi tanpa identitas kuat justru dapat menyebabkan hubungan tidak stabil atau isolasi emosional di masa dewasa.

Untuk mencegahnya, perlu tindakan bersama: orang tua dan sekolah memberikan edukasi literasi digital serta mengajak remaja aktif di kegiatan offline seperti ekstrakurikuler; pemerintah menerapkan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah umur mulai 2026; serta sekolah menyelenggarakan konseling berbasis teori Erikson dan mempromosikan komunitas online positif. Langkah-langkah ini akan membantu remaja membentuk identitas solid, mengurangi risiko kecemasan dan role confusion, serta tumbuh dengan kepribadian yang tangguh.

Daftar Pustaka:

  1. Badan Pusat Statistik. (2024). Proporsi individu yang menguasai/memiliki telepon genggam menurut kelompok umur. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MTIyMiMy/proporsi-individu-yangmenguasai-memiliki-telepon-genggam-menurut-kelompok-umur.html
  2. Badan Pusat Statistik. (2025). Statistik telekomunikasi Indonesia 2024. https://www.bps.go.id/id/publication/2025/08/29/beaa2be400eda6ce6c636ef8/statistik-telekomunikasi-indonesia-2024.html
  3. Erikson, E. H. (2020). Erikson's 8 stages of psychosocial development. https://gcwgandhinagar.com/econtent/document/1587961371UNIT-2.pdf
  4. Fadillah, A., et al. (2024). Gambaran problematic smartphone use pada remaja. https://ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/Psikobuletin/article/download/26477/10290
  5. Jabbar, A. M., et al. (2025). Gambaran penggunaan gadget pada remaja di kelas XI IPS SMA Negeri 1 Godean. https://jurnal.kopusindo.com/index.php/jipk/article/download/657/618/1865
  6. Kominfo. (2025). Indonesia batasi medsos anak 13–16 tahun, berlaku mulai 2026. https://event.cloudcomputing.id/berita/indonesia-batasi-medsos-anak
  7. Nayla, M. R. (2024). Pengaruh media sosial pada perkembangan kepribadian remaja. https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jkt/article/download/44513/28615
  8. Pratiwi, N. D., et al. (2025). Pengaruh media sosial terhadap persepsi diri dan pembentukan identitas remaja. https://ojs.daarulhuda.or.id/index.php/Socius/article/download/1302/1437
  9. Sari, D. P., et al. (2025). Analisis tahap perkembangan sosial-emosional remaja putri di asrama Santa Teresia berdasarkan teori Erik Erikson. https://ejournal.pustakakaryamandiri.com/ojs/index.php/lj/article/download/220/178
  10. Setiawan, A., et al. (2025). Fear of missing out (FOMO) dan phubbing behavior pada remaja pengguna TikTok. https://ojs.daarulhuda.or.id/index.php/Socius/article/download/2015/2161

Biodata Penulis:

Raditya Revy Marisca saat ini aktif sebagai mahasiswa di Universitas Sebelas Maret.

© Sepenuhnya. All rights reserved.