Menapaki Lembaran Kosong: Ilmu sebagai Kisah Manusia tentang Dunia

Yuk jelajahi hakikat ilmu dan pengetahuan! Temukan bagaimana sains, filsafat, dan humaniora saling membentuk cara kita memahami dunia.
Menapaki Lembaran Kosong

Pada suatu sore, seorang bocah kecil mengangkat tangannya ke langit dan bertanya, “Kenapa langit berwarna merah muda?” Seorang ilmuwan fisika barangkali menjelaskan itu lewat hamburan Rayleigh, panjang gelombang cahaya, dan partikel debu di atmosfer. Seorang penyair bisa merespon dengan membayangkan matahari yang malu-malu menjelang malam. Seorang petani mungkin mengaitkannya dengan pertanda musim atau kenangan masa kecilnya. Ketiganya, dasarnya, berusaha memahami fenomena yang sama, namun menggunakan pendekatan dan alat berbeda. Pertanyaan sederhana itu menjadi pintu masuk ke dalam pertanyaan yang lebih mendasar: Apa yang sebenarnya bisa kita ketahui mengenai dunia ini, dan bagaimana cara pengetahuan itu sendiri bekerja?

Ini merupakan cabang ontologi dalam ilmu pengetahuan, yakni usaha untuk mengerti hakikat dari apa yang dinamakan “pengetahuan” atau “ilmu”. Ontologi, sebagai segmen filsafat yang meneliti tentang apa yang sesungguhnya ada (“apa yang eksis”), ketika diaplikasikan pada ilmu pengetahuan, menimbulkan pertanyaan yang lebih mendalam: Apa yang benar-benar eksis untuk dipelajari oleh ilmu? Apakah dunia yang kita teliti itu berdiri sendiri, terlepas dari pemikiran kita, atau setidaknya sebagian dibentuk oleh cara kita memandang, bertanya, dan mengukurnya? Pertanyaan ini bukan sekadar tanya-tanya para filsuf di dalam ruangan beratap. Ini adalah dasar yang menentukan bagaimana kita membangun pengetahuan, bagaimana mengenali mana yang “nyata” dalam penelitian, dan akhirnya, bagaimana memahami hubungan kita dengan alam semesta.

Pada dasarnya, ilmu merupakan usaha terstruktur manusia untuk mengungkapkan cerita mengenai dunia. Ilmu bukan hanya representasi pasif, melainkan sebuah gambaran aktif yang dibuat menggunakan teori, data, serta bahasa dan budaya kita. Dunia fisik (yang kemungkinan eksis secara independen) dan “realitas” yang kita pahami lewat ilmu adalah dua entitas yang berhubungan namun tak pernah sepenuhnya identik. Dalam perspektif ontologis yang berfokus pada manusia, ilmu adalah dialog tanpa henti antara manusia dan alam. Kita mengajukan pertanyaan, alam merespons melalui kejadian-kejadian, kita menginterpretasikan respons tersebut, kemudian mengajukan pertanyaan baru. Dalam dialog ini, baik penanya maupun yang dijawab memiliki peran aktif dalam membentuk respons yang terwujud. Amati sejarah panjang umat manusia. Awalnya, cerita kita tentang alam berupa kisah mitos dan keagamaan. Gunung meletus karena murka para dewa, matahari terbit akibat kereta dewa matahari, dan penyakit dikarenakan oleh roh-roh jahat. “Apa yang ada” dalam ontologi kala itu adalah dunia yang sarat dengan kehendak dan kesadaran tak kasat mata. Narasi ini bukanlah “kebodohan”, melainkan bentuk awal ilmu yang mencoba menemukan sebab-akibat, keteraturan, dan makna dalam pengalaman yang kacau. Ia memberikan peta berpikir yang memungkinkan manusia hidup dan bertindak di dunia.

Revolusi besar terjadi ketika manusia di Yunani kuno, kemudian di dunia Islam, dan kembali di Eropa pada masa Renaisans, mulai mencari pola yang teratur dalam alam, bukan di baliknya. Mereka mulai berpikir tentang unsur-unsur dasar, tentang orbit lingkaran sempurna, dan tentang hukum-hukum dalam mekanika. Perubahan besar dalam pemahaman tentang realitas terjadi: realitas mulai dipandang sebagai mesin raksasa yang bekerja menurut aturan tetap (hukum alam) yang bisa ditemukan lewat pengamatan dan pemikiran. Isaac Newton adalah puncak dari cerita ini. Baginya, alam semesta seperti jam besar yang bisa diprediksi, dan ilmu adalah kunci untuk memahami bagaimana jam itu berjalan. “Apa yang ada” adalah materi, ruang, waktu yang absolut, dan gaya-gaya yang bekerja secara matematis.

Namun, kisah ini terus berkembang. Abad ke-20 membawa dua perubahan besar dalam pemahaman: relativitas dan mekanika kuantum. Einstein mengatakan bahwa ruang dan waktu bukanlah panggung yang tetap, melainkan kain yang bisa melengkung karena adanya materi. Heisenberg dan teman-temannya mengungkap dunia tempat partikel bukanlah benda kecil yang pasti, melainkan sesuatu yang cenderung muncul dalam kebolehjadian, dan pengamat memengaruhi apa yang diamati. Pemahaman tentang realitas kembali berubah. Keniscayaan sekarang tidak lagi dipandang sebagai mekanisme yang pasti seperti jam, melainkan sesuatu yang lebih kabur, saling terkait, dan penuh kemungkinan. Para ilmuwan zaman sekarang tidak lagi mendeskripsikan “objek yang eksis”, melainkan “kemungkinan yang timbul” dalam kerangka pengamatan tertentu. Keindahan dan keajaiban dari ilmu pengetahuan modern berasal dari rasa ingin tahu yang sangat manusiawi, yaitu “takjub” (thaumazeon, istilah yang dipakai Aristoteles). Perasaan takjub tersebut kemudian diubah menjadi pertanyaan. Namun, inilah karakteristiknya yang utama: ilmu tidak secara langsung memberikan jawaban final. Ia mengajukan dugaan sementara (hipotesis), yang sebenarnya adalah awal dari sebuah kisah. Kisah tersebut lalu diperiksa melalui percakapan yang ketat dengan alam, yaitu melalui eksperimen dan pengamatan yang bisa diulang.

Sekiranya data dari dunia nyata sejalan dengan narasi yang dikembangkan, maka kita memperoleh sebuah model atau teori yang lebih dewasa. Teori yang kuat bukanlah teori yang “sempurna” dalam arti absolut, melainkan teori yang fungsional: mampu menerangkan banyak fenomena, meramalkan kejadian baru, dan membuka peluang untuk penyelidikan berikutnya. Contohnya, teori gravitasi Newton, walaupun “tidak sempurna” secara absolut karena pernah diperbaharui oleh Einstein, tetap sangat berguna dalam meluncurkan satelit ke orbit. Kebenaran dalam ilmu bersifat praktis dan sementara. Sifat bisa salah (falsifiable) ini adalah inti dari etos ilmu. Pernyataan ilmiah harus bisa dibuktikan benar atau salah. Ini adalah pengakuan yang manusiawi: “Kita mungkin salah. Cobalah buktikan.” Ini membedakan ilmu dari dogma. Seperti seorang petualang yang terus memperbarui peta, ilmuwan tahu bahwa peta (teori) tidak pernah sempurna sama dengan medan (realitas), tetapi dengan setiap perbaikan, peta itu jadi lebih baik untuk menemukan jalan hidup.

Di sini kita sampai pada titik yang sangat pribadi. Dalam ilmu kontemporer, kita bukan sekadar penonton yang netral di luar kejadian nyata. Kita justru terlibat aktif, bahkan bagian yang tidak terpisahkan dari kejadian itu. Pikiran kita, dengan semua prasangka, budaya, dan bahasa yang kita gunakan, adalah alat utama untuk mengamati dunia. Ilmuwan dari latar belakang berbeda mungkin bertanya hal berbeda tentang hutan yang sama: ahli ekologi melihat hubungan kehidupan, ahli ekonomi melihat sumber daya, sementara masyarakat adat melihat hutan sebagai makhluk hidup yang bernyawa. Bahasa kita membentuk cara kita melihat dunia. Kata “gravitasi”, misalnya, adalah konsep yang membantu kita mengelompokkan fenomena seperti apel jatuh dan orbit bulan. Tanpa konsep ini, kita hanya melihat kejadian-kejadian yang terpisah. Oleh karena itu, ilmu pun bukan sekadar pengetahuan objektif, tetapi juga usaha linguistik dan budaya untuk memfilter dunia ke dalam kategori-kategori yang bisa dipahami dan dibagikan. Lebih dalam lagi, kesadaran kita sendiri adalah teka-teki ontologis terbesar. Ilmu saraf berusaha menjelaskan kesadaran sebagai hasil dari aktivitas neuron.

Namun, mengapa sekumpulan materi dapat menciptakan pengalaman subjektif seperti perasaan cinta, warna merah, atau menikmati keindahan senja? Di titik ini, apa yang ada menurut sains (gelombang otak) dan apa yang dialami (emosi) tampak seperti dua realitas yang terpisah. Ilmu pengetahuan masih berupaya menggabungkan kedua narasi ini. Mengakui bahwa ilmu adalah cerita kita berarti kita pun memikul tanggung jawab atas akhir cerita tersebut. Ontologi berjumpa dengan etika pada tahap ini. Pengetahuan tentang inti atom bisa membawa energi nuklir yang membangun kota, tetapi juga bisa membuat bom yang menghancurkan. Pengetahuan tentang DNA bisa menyembuhkan penyakit, namun juga bisa menciptakan ketidakadilan baru seperti eugenika. Ilmu tentang algoritma bisa menghubungkan manusia, tetapi juga bisa memengaruhi perilaku mereka.

Jadi, esensi dari ilmu adalah interaksi sosial dan nilai moral. Itu bukan kegiatan yang kering dan objektif. Ilmu berkembang dalam kelompok yang melakukan kritik bersama, mengecek ulang, lalu mencapai persetujuan. Ilmu dibiayai oleh masyarakat dengan ekspektasi tertentu. Ilmu yang melewatkan elemen sosial dan moral sebenarnya tidak mengerti hakekatnya sebagai produk manusia. Hal ini memerlukan pendekatan baru: ilmuwan sebagai penulis yang bertanggung jawab. Mereka harus menguasai teknik penelitian, tetapi juga reflektif tentang asumsi-asumsi ontologis (apa yang mereka anggap nyata) di balik penelitian mereka, serta dampak yang bisa terjadi dari kisah yang mereka tulis. Penelitian tentang kecerdasan buatan, misalnya, harus disertai dengan pertanyaan besar tentang ontologi: “Apa yang kita anggap sebagai kecerdasan? Apakah mesin bisa memiliki kecerdasan itu? Kisah apa tentang manusia yang ingin kita pertahankan?”

Kembali ke anak kecil dan langit yang memesona itu. Tanggapan dari seorang ahli fisika, penyair, dan seorang kakek petani bukanlah jawaban yang bertentangan satu sama lain. Mereka merupakan tiga perspektif yang saling melengkapi dalam suatu respons manusia yang menyeluruh terhadap keajaiban keberadaan. Ilmu alam menyediakan kita dengan instrumen yang kuat untuk menciptakan jembatan dan obat. Ilmu sosial mendukung kita dalam memahami bagaimana manusia mengorganisasi diri dalam komunitas. Humaniora, seperti seni, sastra, dan filsafat, memberi kita kebijaksanaan untuk bertanya “untuk apa?”, “atas nama siapa?”, dan “apa artinya bagi kehidupan yang baik?”.

Pemahaman mendalam mengenai hakikat hidup mengharuskan kita untuk menolak pandangan simplistis, yaitu anggapan bahwa hanya narasi partikel fisika yang “faktual”, sementara kisah cinta, keadilan, atau keindahan semata-mata ilusi. Sebaliknya, kita harus mengamati kenyataan dalam beberapa tingkat atau lapisan yang muncul secara alami. Molekul tunduk pada hukum kimia, tetapi kehidupan yang berasal dari susunan molekul kompleks memiliki aturan tersendiri dalam bidang biologi. Kesadaran yang muncul dari kehidupan memiliki eksistensi psikologis yang khas. Setiap tingkatan memerlukan bahasa dan cerita tersendiri, yang tidak bisa sepenuhnya disederhanakan menjadi tingkatan di bawahnya, meski tetap saling terhubung.

Hakikat ilmu adalah pengakuan akan rasa lapar kita terhadap makna, serta keberanian untuk menguji setiap makna itu dengan rendah hati di hadapan bukti dan kritik. Ilmu adalah kertas kosong yang selalu ada di depan kita, menunggu untuk ditulis dengan kisah yang lebih baik kisah yang tidak hanya pintar, tetapi juga penuh kasih; kisah yang tidak hanya menjelaskan cara kerja alam, tetapi juga membantu kita memutuskan, sebagai komunitas manusia, bagaimana kita seharusnya hidup di dalamnya. Dalam bentuk yang tertinggi, ilmu adalah cermin terbaik yang kita miliki untuk memandang dunia. Ketika kita menggali lebih dalam ke dalam cermin itu, kita akan melihat bayangan diri kita sendiri: makhluk yang terbatas, rentan kesalahan, penuh prasangka, namun diberi rasa ingin tahu yang tak pernah padam, kemampuan untuk bekerja sama, dan kerinduan yang dalam untuk memahami tempat kita di tengah kosmos yang luas dan menakjubkan ini.

Biodata Penulis:

Malik Abdul Aziz saat ini aktif sebagai mahasiswa di UIN Raden Mas Said Surakarta

© Sepenuhnya. All rights reserved.