Oleh Wulan Darma Putri
Sastra populer Indonesia memiliki pemikiran yang kuat dalam mengangkat tema emosional diri generasi muda. Nadia Ristivani merupakan salah satu penulis Alternative Universe di platform X dengan nama pena “ijoscript” yang menghadirkan narasi cinta, kehilangan, dan refleksi melalui novel Hello Cello, Hilmy Milan, Monolog Rifan, dan The Camaro. Karya-karyanya banyak dibaca oleh generasi muda karena kedekatan tema dan gaya bahasa yang ringan. Teori struktural genetik menjadi pendekatan yang relevan untuk memahami pandangan Nadia Ristivani dalam menulis cerita.
Teori struktural genetik diperkenalkan oleh Lucien Goldmann sebagai upaya menghubungkan struktur karya sastra dengan struktur sosial masyarakat. Goldmann menyatakan bahwa “karya sastra merupakan ekspresi dari pandangan dunia suatu kelompok sosial tertentu.” Pandangan dunia tersebut tidak lahir dari individu penulis semata, melainkan dari pengalaman kolektif yang dialami bersama. Dengan demikian, analisis sastra tidak hanya berhenti pada unsur intrinsik, tetapi juga mencermati relasinya dengan konteks sosial seperti unsur ekstrinsik.
Dalam perspektif struktural genetik, karya sastra dipandang sebagai struktur yang bermakna. Goldmann menegaskan bahwa “struktur karya sastra bersifat homolog dengan struktur sosial yang melahirkannya.” Artinya, konflik, tokoh, dan tema dalam novel mungkin saja memiliki sebuah kesamaan dengan kehidupan sosial penulis dan kelompoknya. Pendekatan ini memungkinkan pembacaan yang lebih utuh terhadap novel-novel Nadia Ristivani.
Secara struktural, novel-novel Nadia Ristivani umumnya dibangun dengan alur yang sederhana dan mudah diikuti. Dalam Hello Cello, alur berkembang melalui konflik keluarga, pertemanan, dan percintaan yang berulang. Struktur seperti ini memperlihatkan kecenderungan Nadia Ristivani dalam menempatkan emosi sebagai poros utama narasi.
Hal ini serupa pada karyanya yang berjudul Hilmy Milan dan Monolog Rifan. Peristiwa luar hanya berfungsi sebagai pemicu refleksi batin dan dialog emosional. The Camaro sedikit berbeda karena menghadirkan simbol benda yang kuat sebagai penggerak cerita. Namun, fokus utamanya tetap pada dinamika psikologis tokoh.
Penokohan dalam novel-novel Nadia Ristivani menampilkan individu muda yang berada dalam fase pencarian makna hidup. Tokoh-tokohnya sering digambarkan ragu, cemas, dan terjebak dalam kenangan masa lalu. Mereka diceritakan menjadi manusia biasa dengan luka emosional yang mendalam. Dalam pandangan Goldmann, tokoh semacam ini merupakan representasi subjek kolektif dari kelompok sosial tertentu.
Gaya bahasa Nadia Ristivani cenderung sederhana dan emosional. Ia banyak menggunakan kalimat pendek serta dialog yang sederhana untuk membangun kedekatan dengan pembaca. Narasi reflektif sering kali mendominasi, seolah pembaca diajak masuk ke dalam pikiran tokoh. Pilihan gaya bahasa ini memperkuat karakter sastra populer yang komunikatif dan mudah diterima oleh generasi muda.
Dalam teori struktural genetik, gaya bahasa tidak dapat dilepaskan dari fungsi sosial karya sastra. Goldmann menyebutkan bahwa “struktur estetika sebuah karya selalu berkaitan dengan tujuan komunikatifnya.” Gaya bahasa Nadia yang sederhana mencerminkan keinginannya membawa pembaca secara langsung masuk ke dalam ceritanya. Hal ini menunjukkan adanya relasi antara struktur bahasa dan pembaca.
Konteks sosial menjadi unsur penting dalam pembacaan struktural genetik terhadap karya Nadia Ristivani. Novel-novelnya lahir dari realitas generasi muda yang hidup dalam tekanan emosional dan relasi. Media sosial dan perubahan nilai hubungan menjadi latar yang membentuk cerita. Realitas ini tercermin dalam kegelisahan dan ketidakstabilan emosi tokoh.
Goldmann menekankan bahwa karya sastra adalah “usaha memahami dunia yang bermasalah.” Novel-novel Nadia Ristivani merekam dunia yang penuh emosional dengan memberikan ending penyelesaian dari emosional itu sendiri. Karyanya menampilkan proses pencarian makna dan penyelesaian konflik. Inilah yang membuat ceritanya terasa dekat dan relevan bagi pembaca generasi muda.
Pandangan dunia yang dibangun Nadia Ristivani dapat dikategorikan sebagai humanistik-emosional. Manusia dipahami sebagai makhluk yang rapuh, tetapi terus berusaha memahami perasaannya. Tokoh-tokohnya tidak melawan sistem sosial secara langsung, melainkan berdamai dengan luka batin, pandangan ini sejalan dengan pengalaman kolektif generasi muda. Goldmann menyebut pandangan dunia sebagai “kesadaran suatu kelompok sosial.” Nadia Ristivani menjadikan karya-karyanya berfungsi sebagai ruang refleksi bersama.
Melalui analisis struktural genetik, dapat disimpulkan bahwa gaya kepenulisan Nadia Ristivani dibentuk oleh relasi antara struktur teks dan struktur sosial. Alur sederhana, tokoh fiksi, tema cinta dan kehilangan, serta gaya bahasa komunikatif saling membentuk kesatuan makna. Novel Hello Cello, Hilmy Milan, Monolog Rifan, dan The Camaro merepresentasikan pandangan dunia generasi muda yang emosional dan rapuh. Dengan demikian, karya Nadia Ristivani tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai cermin kesadaran sosial zamannya.
Biodata Penulis:
Wulan Darma Putri, lahir pada tanggal 14 Februari 2006 di Padang, saat ini aktif sebagai mahasiswi, Prodi Sastra Indonesia, di Universitas Andalas. Wulan terlibat dalam dalam UKMF Labor Penulisan Kreatif Universitas Andalas. Penulis bisa disapa di Instagram @wulandarmaaa_