Analisis Puisi:
Puisi “28 Januari” karya Sindu Putra menghadirkan pengalaman puitik yang fragmentaris, simbolik, dan sarat lapisan makna. Larik-lariknya tidak bergerak secara naratif lurus, melainkan seperti serpihan ingatan, gestur tubuh, dan citra alam yang saling bertaut. Judul berupa penanda tanggal memberi kesan bahwa puisi ini berangkat dari momen personal atau peristiwa tertentu, namun maknanya meluas menjadi refleksi tentang kelahiran kesadaran, proses belajar hidup, dan relasi antara manusia dengan alam serta asal-usulnya.
Tema
Tema utama puisi ini adalah proses pembentukan diri dan ingatan tubuh. Puisi ini juga mengangkat tema warisan, pembelajaran, dan ketahanan hidup, yang tampak melalui simbol ibu, hewan, alam, serta aktivitas membangun dan menanam.
Selain itu, terdapat tema keterasingan dan adaptasi, terutama ketika aku-lirik digambarkan seperti penyu batu yang terdampar atau burung kayu yang bermigrasi.
Puisi ini bercerita tentang sosok “kau” yang mengalami proses belajar dan meniru sejak awal. Ibu menjadi figur pertama yang menghadirkan simbol—melukiskan sayap basah rama-rama di dahi—yang kemudian ditiru oleh “kau”. Tindakan meniru ini menandai awal kesadaran dan pembentukan identitas.
Selanjutnya, waktu ditegaskan melalui “24 jam!”, sementara tangan menggoreskan tapak burung dara pada pohon tua yang tumbuh di antara asam dan kenari. Adegan ini memperlihatkan pertemuan antara gerak manusia, simbol perdamaian (burung dara), dan alam yang berusia ratusan tahun.
Puisi lalu bergerak ke suasana kosmik: bulan mati, bintang padam, disusul daftar benda-benda kecil dan sehari-hari. Di bagian akhir, “kau” diserupakan dengan makhluk yang terasing namun bertahan—penyu terdampar dan burung kayu migran—yang kemudian belajar menanam telur, jejak air, dan membangun rumah dari pasir gunung.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa hidup adalah proses belajar yang rapuh namun terus berlangsung, meski berada dalam keterbatasan dan ketidakpastian. Sosok ibu melambangkan asal-usul dan pengetahuan awal, sementara alam dan hewan menjadi cermin kondisi manusia: bertahan, bermigrasi, dan beradaptasi.
Daftar benda-benda seperti batu akik, kuas manicure, gunting pedicure menyiratkan dunia material dan keseharian yang terasa ganjil di tengah citra kosmik—menandakan benturan antara yang sakral dan yang banal. Membangun rumah dari pasir gunung mengisyaratkan usaha manusia mencipta makna dan tempat tinggal meski fondasinya rapuh.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa hening, reflektif, dan eksperimental. Ada kesan sunyi dan terputus-putus, terutama pada bagian dengan tanda elipsis, yang memberi ruang jeda bagi pembaca untuk merenung. Suasana ini tidak emosional secara eksplisit, tetapi mengandung ketegangan batin dan kegetiran yang halus.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah bahwa manusia belajar menjadi dirinya melalui proses panjang meniru, mencoba, gagal, dan membangun kembali. Meski sering terdampar atau merasa asing, manusia tetap memiliki kemampuan untuk menanam, meninggalkan jejak, dan menciptakan rumah—baik secara fisik maupun batin.
Puisi ini juga menyiratkan pesan tentang pentingnya menghargai ingatan, asal-usul, dan relasi dengan alam sebagai bagian dari proses menjadi manusia seutuhnya.
Puisi “28 Januari” karya Sindu Putra adalah puisi kontemplatif yang merayakan proses menjadi manusia melalui simbol tubuh, alam, dan ingatan. Dengan bahasa yang fragmentaris dan imaji yang kaya, puisi ini tidak menawarkan jawaban pasti, melainkan mengajak pembaca menyelami proses belajar hidup yang rapuh, sunyi, namun terus berlangsung. Puisi ini menegaskan bahwa bahkan dari pasir gunung yang mudah runtuh, manusia tetap berusaha membangun rumah bagi dirinya sendiri.