Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Aku dan Natal 2025 (Karya Aprianus Gregorian Bahtera)

Puisi “Aku dan Natal 2025” bercerita tentang seseorang yang menjalani malam Natal 2025 dengan sikap reflektif dan sunyi. Ia berdiri di ambang pintu ..

Aku dan Natal 2025

Di malam natal tahun 2025
bintang-bintang Kupang redup oleh kabut waktu
Aku berdiri di ambang pintu kayu usang
menanti cahaya yang bukan dari lampu neon
tapi dari luka yang akhirnya terbuka

Natal datang bagai bayang pengembara
membawa salju palsu di tanah tropis ini
Aku, yang harus akan makna di balik kado
temukan diriku di dalam kandang sederhana
di mana Tuhan lahir dari kehampaan

Dunia berteriak: belanja, pesta, sorak riuh
tapi hatiku diam, mendengar jerit yang tersembunyi
poverty menari di pinggir jalan malam
kasih manusia retak seperti lonceng gereja tua
Aku bertanya, apakah aku bagian dari badai itu?

Di tahun dua ribu dua puluh lima ini
Teknologi menyulap natal jadi hologram palsu
Aku pilih gelap, pilih diam yang dalam
seperti Yusuf menjaga mimpi di bawah bintang
Di sini aku lahir kembali, bukan dari cahaya layar

natalku bukan akhir, tapi permulaan abadi
aku dan Engkau, Tuhan dalam pelukan sunyi
Biarkan Salin menyembuhkan retak jiwa
dan pagi esok bahwa kasih
yang tak tergoyahkan
Dalam aku, natal 2025 menjadi selamanya...

Kupang, 24 Desember 2025

Analisis Puisi:

Puisi “Aku dan Natal 2025” merupakan refleksi spiritual yang personal sekaligus sosial. Penyair menghadirkan Natal bukan sebagai perayaan seremonial, melainkan sebagai ruang kontemplasi batin di tengah dunia modern yang bising oleh konsumsi, teknologi, dan ketimpangan. Melalui latar Kupang dan penanda waktu tahun 2025, puisi ini terasa kontekstual dan intim.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pencarian makna Natal yang sejati di tengah keterasingan modern, kemiskinan, dan krisis spiritual manusia kontemporer. Natal dimaknai sebagai kelahiran kembali iman dan kesadaran batin, bukan sekadar ritual tahunan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menjalani malam Natal 2025 dengan sikap reflektif dan sunyi. Ia berdiri di ambang pintu kehidupan, menanti cahaya yang bukan bersumber dari kemewahan atau teknologi, melainkan dari luka, keheningan, dan perjumpaan personal dengan Tuhan. Di tengah hiruk-pikuk dunia—belanja, pesta, dan teknologi—aku memilih diam dan gelap sebagai jalan menemukan makna Natal yang lebih murni.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik halus terhadap komersialisasi dan digitalisasi perayaan Natal. Penyair menyiratkan bahwa kemajuan teknologi dan budaya konsumsi justru berpotensi menjauhkan manusia dari nilai kasih, empati, dan spiritualitas. Natal sejati hadir saat manusia berani menghadapi luka, kemiskinan, dan kehampaan, lalu menemukan Tuhan di sana.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa hening, muram, dan kontemplatif, namun perlahan bergerak menuju suasana harap dan damai. Kesunyian malam Natal menjadi ruang perenungan yang mendalam, bukan kesedihan semata, melainkan ketenangan yang menyembuhkan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini mengajak pembaca untuk memaknai Natal secara lebih esensial: sebagai momentum pembaruan iman, kasih, dan kemanusiaan. Puisi menegaskan bahwa kasih sejati tidak lahir dari gemerlap perayaan, tetapi dari keheningan, kepedulian pada sesama, dan relasi yang tulus dengan Tuhan.

Puisi “Aku dan Natal 2025” adalah puisi reflektif yang menempatkan Natal sebagai perjalanan batin, bukan perayaan permukaan. Aprianus Gregorian Bahtera berhasil menghadirkan dialog intim antara aku lirik, realitas sosial, dan Tuhan, menjadikan Natal sebagai permulaan kasih yang abadi, lahir dari keheningan dan kesadaran diri.

Aprianus Gregorian Bahtera
Puisi: Aku dan Natal 2025
Karya: Aprianus Gregorian Bahtera

Biodata Aprianus Gregorian Bahtera:
  • Aprianus Gregorian Bahtera saat ini aktif sebagai mahasiswa, Fakultas Filsafat, di UNWIRA, Kupang.
© Sepenuhnya. All rights reserved.