Bahagia di Atas Penderitaan Orang Lain
Sebelum terjadi dampak
Tidak ada tindakan
Tetap santai di bangku jabatan
Tidak melaksanakan pemeriksaan
selepas datangnya bencana
ratusan nyawa tak terselamatkan
ratusan nyawa tak ditemukan jasadnya
Sungguh menyakitkan bagi
keluarga dari nyawa yang berkorban
Para pemangku beramai-ramai
mendatangi tempat terdampak
Untuk mencari pencitraan diri
tiba-tiba menjadi dermawan
Mereka bahagia karena
banyak pujian atas perbuatan baik
terekam kamera dan
tersiar ke mana-mana
Namun banyak yang menderita
Karena seharusnya mereka tidak perlu
menjadi dermawan di saat bencana tiba
Tapi menjadi pencegah
sebelum bencana datang
Sadarlah!
wahai pengusaha-pengusaha di negeri ini
Laksanakan tugas-tugasmu
dengan benar
Janganlah kalian tidur bangku jabatan
Dan tidak melihat keadaan
rakyat kalian
Bencana di Sumatera menjadi pelajaran
agar setiap penguasa
yang berwenang di tiap
bidang mereka
Tidak tinggal diam
Namun selalu bertindak sebelum alam mengamuk
Kalian bahagia di atas penderitaan
sebagian rakyat Sumatera
yang selamat
karena mereka memuji perbuatan baik kalian
di saat bencana tiba
Tapi peran kepemimpinan
bagi nyawa yang tak selamat
Tak berarti.......
Berjuanglah untuk rakyat
bukan hanya untuk diri sendiri
lihatlah rakyat yang telah pergi
karenanya perhatian ketat
dari para penguasa-penguasa
Kupang, Minggu 14 Desember 2025
Analisis Puisi:
Puisi “Bahagia di Atas Penderitaan Orang Lain” merupakan puisi kritik sosial yang lugas dan berani. Melalui bahasa yang langsung dan tegas, Aprianus Gregorian Bahtera menyoroti ironi kepemimpinan dan kekuasaan di tengah bencana. Puisi ini tidak bermain dalam simbolisme yang rumit, melainkan mengandalkan kekuatan pesan moral dan keberpihakan yang jelas kepada korban.
Puisi ini lahir dari realitas sosial—khususnya bencana di Sumatera—dan menempatkan penderitaan rakyat sebagai pusat perhatian, berhadapan langsung dengan sikap para pemangku jabatan yang lalai sebelum bencana dan sibuk membangun citra setelahnya.
Tema
Tema dalam puisi ini adalah kritik terhadap kepemimpinan yang lalai, munafik, dan oportunistik di tengah bencana. Tema lainnya mencakup:
- ketidakadilan sosial,
- kegagalan tanggung jawab negara dan pengusaha,
- pencitraan politik,
- serta penderitaan rakyat akibat kelalaian struktural.
Puisi ini memperlihatkan kontras tajam antara kebahagiaan semu penguasa dan derita nyata rakyat.
Puisi ini bercerita tentang situasi ketika sebelum bencana terjadi, para pemangku jabatan bersikap santai, tidak melakukan pencegahan, dan mengabaikan pemeriksaan yang seharusnya dilakukan. Ketika bencana akhirnya datang dan menelan ratusan nyawa, barulah mereka muncul ke hadapan publik—bukan untuk bertanggung jawab, melainkan untuk mencari pencitraan melalui aksi derma yang terekam kamera.
Sementara itu, keluarga korban harus menanggung duka mendalam atas kehilangan yang sebenarnya bisa dicegah. Penyair menegaskan bahwa peran sejati pemimpin seharusnya hadir sebelum bencana, bukan hanya setelah tragedi terjadi.
Makna Tersirat
Di balik bahasa yang lugas, terdapat beberapa makna tersirat yang kuat:
- Derma setelah bencana tidak bisa menutupi kelalaian sebelum bencana.
- Pujian publik dapat menjadi candu bagi penguasa, hingga penderitaan rakyat justru dijadikan panggung.
- Kepemimpinan sejati diukur dari pencegahan, bukan pencitraan.
- Nyawa manusia tidak boleh dijadikan alat legitimasi kekuasaan.
- Kebahagiaan yang dibangun di atas penderitaan orang lain adalah kebahagiaan yang tidak bermoral.
Puisi ini mengingatkan bahwa empati tanpa tanggung jawab hanya akan melahirkan kepalsuan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini didominasi oleh:
- amarah moral,
- kepedihan,
- kekecewaan,
- serta nada kecaman yang tegas.
Tidak ada romantisasi duka; yang hadir justru suara perlawanan dan seruan kesadaran.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Puisi ini menyampaikan sejumlah amanat penting:
- Pemimpin dan pengusaha wajib bertindak sebelum bencana terjadi, bukan sekadar hadir setelahnya.
- Jabatan adalah amanah, bukan tempat untuk “tidur”.
- Rakyat membutuhkan perlindungan, bukan sekadar belas kasihan musiman.
- Pujian publik tidak dapat menggantikan nyawa yang hilang.
- Berjuanglah untuk kepentingan rakyat, bukan untuk citra diri.
Pesan ini disampaikan dengan nada peringatan yang keras, seolah menjadi teguran langsung kepada mereka yang berkuasa.
Puisi “Bahagia di Atas Penderitaan Orang Lain” adalah cermin getir dari realitas sosial yang sering terulang: bencana datang, rakyat menderita, dan penguasa tersenyum di balik kamera. Aprianus Gregorian Bahtera tidak menulis untuk menghibur, melainkan untuk menggugah nurani. Puisi ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan sejati bukan soal tampil paling peduli setelah tragedi, melainkan tentang keberanian bertindak sebelum nyawa melayang.