Belum Ada Ujar yang Menyapa
Belum ada ujar yang menyapa
Malah romansa yang menggelayut resah
Aku berkelana dalam angan
Andai jarak hanya sekadar kata
Aku pasti membuatnya tanpa tanda tanya
Tanpa kamu aku berada di antara
Kembalilah
Agar kita bisa saling mengisi jeda
Analisis Puisi:
Puisi “Belum Ada Ujar yang Menyapa” karya Roman Adiwijaya menghadirkan ungkapan perasaan yang sederhana namun sarat emosi. Dengan larik-larik singkat dan lugas, penyair mengekspresikan pengalaman batin seseorang yang terjebak dalam penantian, jarak, dan rindu yang tak terucap.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kerinduan dan keterasingan dalam relasi, terutama akibat jarak dan ketiadaan komunikasi yang hangat.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menunggu sapaan, kata, atau kehadiran dari sosok yang dirindukan. Tidak adanya “ujar” justru melahirkan kegelisahan dan romansa yang tak menemukan tempat berpijak. Penyair berkelana dalam angan-angan, membayangkan kemungkinan jika jarak hanya sebatas kata yang mudah dihapus. Di bagian akhir, muncul harapan agar sosok yang dirindukan kembali, sehingga keduanya dapat saling mengisi kekosongan.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menyingkap bahwa diam dan jarak dalam hubungan sering kali lebih menyakitkan daripada perpisahan yang jelas. Ketiadaan komunikasi menciptakan ruang kosong yang diisi oleh angan, tanya, dan kegelisahan. Puisi ini juga menyiratkan kerinduan akan relasi yang setara, di mana kedua pihak hadir dan saling melengkapi, bukan membiarkan salah satunya terjebak dalam penantian.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa sendu dan gelisah, dibalut kesunyian yang lembut. Ada rasa rindu yang tertahan, sekaligus harapan yang masih dijaga agar pertemuan atau sapaan itu akhirnya datang.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah pentingnya kehadiran dan komunikasi dalam menjaga hubungan. Diam yang terlalu lama dapat melahirkan jarak emosional, sementara keberanian untuk kembali dan menyapa dapat menjadi jalan untuk mengisi kekosongan dan menyembuhkan resah.
Puisi “Belum Ada Ujar yang Menyapa” karya Roman Adiwijaya merupakan potret singkat namun kuat tentang penantian dan kerinduan dalam kesunyian. Dengan bahasa yang sederhana dan emosional, puisi ini mengajak pembaca merenungi betapa berharganya sebuah sapaan, kehadiran, dan kesediaan untuk kembali, agar jeda dalam hubungan tidak berubah menjadi jarak yang tak terjembatani.