Analisis Puisi:
Puisi “Dua Epigram” karya Beni Setia merupakan puisi pendek namun tajam, yang memanfaatkan bentuk epigram untuk melontarkan kritik sosial dan refleksi filosofis. Dengan bahasa sederhana, nyaris bercanda, puisi ini justru menyentil persoalan serius: relasi manusia modern dengan Tuhan di tengah dominasi teknologi dan sistem.
Tema
Tema utama puisi ini adalah relasi antara Tuhan, manusia, dan teknologi dalam kehidupan modern, serta krisis spiritual di tengah kemajuan komunikasi dan sistem digital.
Puisi ini bercerita tentang situasi keseharian manusia modern yang dikepung oleh teknologi komunikasi: telepon, SMS, komputer, dan sistem layanan purna jual. Dalam fragmen pertama, aku-lirik membayangkan jika seluruh manusia di dunia menelepon secara bersamaan, lalu mempertanyakan: siapa yang akan menerima panggilan itu? Apakah Tuhan?
Pada fragmen kedua, pertanyaan semakin satir: di mana Tuhan ketika sistem komputer mengalami error? Apakah Tuhan perlu dipanggil seperti layanan teknis? Bahkan muncul pertanyaan ironis apakah Tuhan “nganggur”.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap cara berpikir manusia modern yang cenderung menempatkan Tuhan dalam logika teknis dan fungsional. Tuhan diperlakukan seolah-olah customer service: dipanggil saat ada masalah, diabaikan saat sistem berjalan normal.
Puisi ini juga menyiratkan kegelisahan tentang reduksi makna ketuhanan akibat dominasi teknologi, ketika persoalan eksistensial dan spiritual disederhanakan menjadi urusan sistem error dan layanan purna jual.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa satiris, sinis, sekaligus reflektif, dengan nada humor gelap yang menyimpan kritik tajam.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah ajakan untuk merenungkan kembali posisi Tuhan dalam kehidupan manusia modern. Puisi ini mengingatkan bahwa Tuhan bukanlah alat yang bisa diakses sesuka hati atau solusi instan atas gangguan teknis kehidupan, melainkan entitas transenden yang tak tunduk pada logika sistem dan teknologi.
Puisi “Dua Epigram” karya Beni Setia membuktikan bahwa puisi tidak harus panjang untuk menjadi tajam. Melalui dua fragmen singkat, puisi ini menggugat kesadaran pembaca tentang bagaimana teknologi telah mengubah cara manusia berhubungan dengan Tuhan. Di balik kelucuannya, puisi ini menyimpan pertanyaan serius: apakah kita masih memaknai Tuhan sebagai pusat kehidupan, atau sekadar sebagai nomor darurat saat dunia mengalami error?
Biodata Beni Setia:
- Beni Setia lahir pada tanggal 1 Januari 1954 di Soreang, Bandung Selatan, Jawa Barat, Indonesia.
