Puisi: Jejak Asmara (Karya Dewis Pramanas)

Puisi “Jejak Asmara” karya Dewis Pramanas bercerita tentang dua insan yang pernah berbagi kebahagiaan di taman rindu. Senyum, tatap, dan ...
Jejak Asmara

Dari sudut-sudut taman
Kau tampak tersipu bahagia
Entah berapa lama cahaya itu menetap
Pada dinding hati yang kasmaran
Denyut jantung berdetak kencang
Saat jiwaku terhipnotis senyummu

Mentari berdansa kegirangan
Menyambut hari yang berbunga
Memandangi dari kejauhan
Di taman rindu

Ia mengerti tantang rasa
Melalui daun-daun merona
Tersorot sinar mentari pagi
Kita serasa menjelma sepasang merpati
Berdua terbang menikmati langit nirwana

Namun waktu terus bergulir
Sejak pertengkaran rembulan itu
Kau pergi meninggalkan jejak putih
Mewarnai ragam makna
Kemudian bermutasi lautan kasih

Subang, 20 Juni 2025

Analisis Puisi:

Puisi “Jejak Asmara” karya Dewis Pramanas menggambarkan perjalanan cinta yang bermula dari kebahagiaan, tumbuh dalam keindahan, lalu berakhir pada perpisahan yang menyisakan bekas mendalam. Dengan bahasa yang lembut dan penuh citraan alam, puisi ini menghadirkan asmara sebagai pengalaman emosional yang terus hidup dalam ingatan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah cinta dan kenangan. Asmara dipotret sebagai perjalanan rasa yang manis di awal, namun menyimpan jejak yang tak mudah dihapus ketika perpisahan terjadi.

Puisi ini bercerita tentang dua insan yang pernah berbagi kebahagiaan di taman rindu. Senyum, tatap, dan kebersamaan mereka terasa seperti dunia yang berbunga. Namun seiring waktu dan hadirnya pertengkaran, salah satu memilih pergi, meninggalkan jejak asmara yang terus hidup dalam kenangan.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa cinta tidak selalu berakhir pada kebersamaan. Meski berpisah, rasa yang pernah ada tidak sepenuhnya hilang, melainkan berubah bentuk—menjadi ingatan, pembelajaran, atau kedewasaan batin.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi bergerak dari romantis dan ceria menuju lirih dan melankolis. Kebahagiaan di awal puisi perlahan bergeser menjadi rasa kehilangan dan perenungan di bagian akhir.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah kesadaran bahwa cinta membutuhkan pemahaman dan kesabaran. Ketika perpisahan terjadi, jejak asmara hendaknya dimaknai sebagai bagian dari perjalanan hidup, bukan sekadar luka.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji visual dan gerak, seperti “taman rindu,” “mentari berdansa,” “daun-daun merona,” dan “sepasang merpati ... terbang menikmati langit nirwana.” Imaji-imaji ini memperindah suasana romantis dan memperkuat nuansa kenangan.

Majas

Dalam puisi ini tampak penggunaan majas personifikasi dan metafora. Mentari yang “berdansa” dan hari yang “berbunga” merupakan personifikasi yang menghidupkan alam, sementara “jejak putih” dan “lautan kasih” berfungsi sebagai metafora sisa cinta yang masih membekas.

Puisi “Jejak Asmara” karya Dewis Pramanas adalah puisi tentang cinta yang tumbuh, diuji, lalu berubah. Dengan balutan bahasa puitis dan simbol alam, puisi ini mengajak pembaca merenungi bahwa setiap asmara, betapapun berakhir, selalu meninggalkan jejak yang memberi makna dalam perjalanan hidup.

Dewis Pramanas
Puisi: Jejak Asmara
Karya: Dewis Pramanas

Biodata Dewis Pramanas:

Dewis Pramanas lahir pada tanggal 1 Maret 1987 di Subang. Saat ini ia mengajar di SD Negeri Ciberes, Subang. Hobi menulis puisi dan membaca buku membawanya aktif bergiat di berbagai komunitas literasi daring. Buku puisi tunggalnya berjudul Perindu Hujan, sementara karya-karya puisinya juga termuat di sejumlah media daring. Baginya, menulis adalah ruang untuk membebaskan imajinasi dan menyuarakan keresahan hati.

Penulis bisa disapa di Instagram @dewispramanas

© Sepenuhnya. All rights reserved.