Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Kopi Pahit (Karya Aprianus Gregorian Bahtera)

Puisi “Kopi Pahit” karya Aprianus Gregorian Bahtera menghadirkan refleksi tentang cinta yang tidak lagi dilihat sebagai luapan perasaan semata, ...

Kopi Pahit

Ketika mencintai

Orang yang layak, pantas dan tepat
tidak akan mendatangkan penyesalan
tidak membawa luka
namun dalam membagi cinta

Perlu mengetahui batasan
terutama saat menjalin hubungan
pada masa pengenalan
tak perlu memberikan sepenuhnya
bahkan memberikan diri seutuhnya

Itulah opsi yang mestinya
praktikan, lakukan, dan terapkan
saat menjalin hubungan asmara
menuju satu ikatan yang absah
sangat perlu dan

Penting memperhatikan sempadan
dalam merajut sebuah hubungan
dan juga mesti bisa
mengendalikan diri
ketika mencintai seseorang

Agar tidak salah jalan
agar tak salah langkah
dan usahakan

Hentikan rasa bila yang dicintai
sudah ada bayangan untuk berhenti dicintai
supaya rasa yang lahir
dari hati tulus itu
jatuh pada orang yang tepat
dan dirasakan oleh orang
yang layak serta pantas
bila ada rasa

Ingin untuk saling melukai
untuk saling menusuk dari belakang
alangkah baiknya, jangan dilanjutkan
agar dua hati tak saling merasa hati terluka
pilihlah jalan terbaik
ambillah langkah yang tepat
jika memang keduanya sudah tak sama mempunyai rasa
untuk melanjutkan tautan

Terbukalah
jujurlah satu sama lain
katakanlah apa yang ada di dalam hati
jangan disurukkan hanya untuk
memayungi egois
keterbukaan adalah rel terbaik
tuk memberikan ketenangan dan kedamaian
dalam hati
ketika rasa sudah tak seperti biasanya yakni
masih ada cinta

Kupang, 29 Desember 2025 | 17.45

Analisis Puisi:

Puisi “Kopi Pahit” karya Aprianus Gregorian Bahtera menghadirkan refleksi tentang cinta yang tidak lagi dilihat sebagai luapan perasaan semata, melainkan sebagai ruang kesadaran, pengendalian diri, dan kejujuran.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kedewasaan dalam mencintai, khususnya tentang pentingnya batas, kejujuran, dan keberanian berhenti ketika cinta tak lagi sehat.

Puisi ini bercerita tentang proses seseorang dalam memahami bagaimana seharusnya mencintai orang lain. Aku lirik menekankan bahwa mencintai orang yang tepat tidak seharusnya melahirkan luka atau penyesalan. Dalam masa pengenalan, cinta tidak perlu diberikan secara berlebihan, apalagi menyerahkan diri sepenuhnya tanpa pertimbangan. Puisi ini juga mengisahkan kesadaran bahwa hubungan yang sudah tidak sejalan sebaiknya dihentikan agar tidak saling melukai.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menegaskan bahwa cinta bukan tentang memiliki sepenuhnya, melainkan tentang menjaga batas dan saling menghargai. Kepahitan dalam judul “Kopi Pahit” dapat dibaca sebagai metafora pengalaman cinta yang pahit, namun perlu dijalani agar seseorang belajar bersikap dewasa. Puisi ini juga menyiratkan bahwa keterbukaan dan kejujuran sering kali menjadi jalan terbaik meski terasa berat.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi cenderung tenang, reflektif, dan serius. Tidak ada ledakan emosi berlebihan, melainkan nada nasihat dan perenungan yang mengajak pembaca berpikir jernih tentang hubungan dan perasaan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini adalah pentingnya mengendalikan diri dalam mencintai, menjaga batas, serta berani bersikap jujur ketika rasa sudah berubah. Hubungan yang dipertahankan tanpa kejujuran hanya akan melahirkan luka. Berhenti pada waktu yang tepat justru merupakan bentuk cinta yang lebih dewasa.

Puisi “Kopi Pahit” karya Aprianus Gregorian Bahtera merupakan renungan tentang cinta yang tidak dibalut romantisme berlebihan, melainkan kejujuran dan kesadaran diri. Melalui puisi ini, pembaca diajak memahami bahwa kepahitan dalam cinta sering kali menjadi guru terbaik untuk mengenali batas, memilih jalan yang tepat, dan menjaga hati—baik hati sendiri maupun hati orang lain.

Aprianus Gregorian Bahtera
Puisi: Kopi Pahit
Karya: Aprianus Gregorian Bahtera

Biodata Aprianus Gregorian Bahtera:
  • Aprianus Gregorian Bahtera saat ini aktif sebagai mahasiswa, Fakultas Filsafat, di UNWIRA, Kupang.
© Sepenuhnya. All rights reserved.