Pada Pelukan Tanah Kita Berpasrah
Sejumput waktu untuk terbebas dari fana kemudian, sunyi. Kita menggilainya tapi tidak terdiagnosa, bahkan terapi tak tersedia di bumi kecuali langit dan keheningan.
Menembus waktu untuk berjalan jauh lagi ke dalam diri sendiri. Bukankah kematian akhirnya berselama? Tak luput, walau takut, pada pelukan tanah kita berpasrah.
Yogyakarta, 19 Desember 2025
Analisis Puisi:
Puisi “Pada Pelukan Tanah Kita Berpasrah” merupakan puisi kontemplatif yang mengajak pembaca merenungi kefanaan, kesunyian, dan kepasrahan manusia di hadapan kematian. Dengan bahasa yang padat, filosofis, dan bernuansa spiritual, penyair menghadirkan perenungan tentang hidup sebagai perjalanan sementara yang pada akhirnya kembali ke tanah. Puisi ini tidak bercerita panjang, tetapi menyimpan kedalaman makna yang kuat.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kefanaan hidup dan kepasrahan manusia terhadap kematian. Tema pendukungnya meliputi:
- kesunyian eksistensial,
- pencarian makna hidup,
- keterbatasan manusia menghadapi takdir,
- hubungan antara manusia, alam, dan Yang Transenden.
Puisi ini menempatkan kematian bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai kepulangan yang tak terelakkan.
Puisi ini bercerita tentang perjalanan batin manusia yang menyadari keterikatannya pada waktu dan kefanaan. Penyair menggambarkan hasrat manusia untuk terbebas dari fana, dari kegilaan sunyi yang tidak terdiagnosis dan tidak memiliki terapi duniawi.
Tokoh “kita” diajak menembus waktu dan berjalan ke dalam diri sendiri, hingga sampai pada kesadaran bahwa kematian adalah kebersamaan terakhir yang pasti. Pada akhirnya, meski ada rasa takut, manusia tetap berpasrah dalam “pelukan tanah”.
Makna Tersirat
Beberapa makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
- Kesunyian adalah bagian dari eksistensi manusia yang tidak bisa disembuhkan secara duniawi.
- Pencarian makna hidup adalah perjalanan ke dalam diri, bukan ke luar.
- Kematian bukan sekadar akhir, melainkan kepulangan dan pertemuan terakhir.
- Kepasrahan adalah bentuk kebijaksanaan tertinggi ketika manusia menyadari keterbatasannya.
Puisi ini mengajak pembaca menerima kenyataan hidup dengan kesadaran, bukan dengan penolakan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini cenderung:
- hening,
- sunyi,
- kontemplatif,
- reflektif,
- dan tenang meski diliputi kesadaran akan kematian.
Tidak ada kepanikan; yang hadir adalah keheningan yang mengendap.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Puisi ini menyampaikan beberapa amanat, antara lain:
- Manusia perlu berdamai dengan kefanaan dan kematian.
- Tidak semua kegelisahan hidup memiliki obat duniawi; sebagian hanya bisa diterima dengan kesadaran spiritual.
- Kesunyian bukan musuh, melainkan ruang perenungan.
- Kepasrahan bukan kelemahan, tetapi bentuk penerimaan yang dewasa.
Puisi “Pada Pelukan Tanah Kita Berpasrah” adalah karya yang mengajak pembaca berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan menatap ke dalam diri. Loym R. Sitanggang menulis dengan ketenangan filosofis, menjadikan kematian bukan sebagai teror, melainkan sebagai kepastian yang patut diterima dengan kesadaran dan kepasrahan. Puisi ini relevan bagi siapa pun yang sedang bergulat dengan sunyi, waktu, dan makna hidup.
Puisi: Pada Pelukan Tanah Kita Berpasrah
Karya: Loym R. Sitanggang
Biodata Loym R. Sitanggang:
Loym R. Sitanggang lahir di Sumatera Utara 51 tahun lalu. Ia adalah seorang tenaga kesehatan yang bekerja di salah satu rumah sakit swasta di Deli Serdang, Sumatera Utara.
Menulis merupakan impiannya sejak lama, menulis juga merupakan salah satu caranya mengekspresikan diri tentang sekelilingnya, memotret kehidupan orang-orang di sekitarnya dengan segala kisah, secara fisik maupun mental. Loym sudah menerbitkan beberapa antologi cerpen dan puisi. Pernah juara harapan 3 dan masuk 25 besar pada Lomba Cipta Puisi di Asqa Imagination School. Ia masuk 36 besar peserta Anugerah COMPETER Indonesia (ACI) yang pemenangnya diumumkan per 1 Januari 2026.
Bergabung di COMPETER Indonesia sejak tahun 2025 dan saat ini sedang belajar di Asqa Imagination School angkatan #64
Penyair bisa disapa melalui Instagram @loym_sitanggang