Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Pembimbing Adalah Membimbing (Karya Aprianus Gregorian Bahtera)

Puisi “Pembimbing Adalah Membimbing” hadir sebagai kritik halus namun tajam terhadap praktik akademik yang menyimpang dari makna dasarnya.

Pembimbing Adalah Membimbing

Pembimbing adalah membimbing, kata yang sering diulang
Namun di ruang konsultasi maknanya kerap berbelok
Mahasiswa datang membawa harap dan kerangka pikiran
Pulang dengan catatan merah dan dada yang sesak

Pembimbing satu berkata cukup,
Jalan ini layak ditempuh
Judul telah disetujui
metode dianggap matang
Namun pintu lain terbuka
Dengan suara berbeda
"Ganti Ulang" katanya
Tanpa peta yang terang

Konsultasi berubah menjadi labirin tanpa denah
setiap langkah maju
dipatahkan oleh syarat baru
Bukan pada kedalaman
nalar yang dipersoalkan
melainkan pada kuasa
yang sulit dijelaskan logikanya

Padahal membimbing
buka seni mempersulit
Ia adalah kerja akal dan
empati yang seimbang
menajamkan argumen
tanpa mematahkan semangat mengoreksi tanpa merendahkan yang sedang belajar

Jika ilmu ingin tumbuh
dengan jujur dan dewasa
Maka bimbingan harus
menjadi jembatan bukan tembok
Sebab skripsi dan proposal
bukan sekadar ujian kesabaran
Melainkan latihan berpikir dalam iklim yang adil

Kupang, Rabu 17 Desember 2025

Analisis Puisi:

Puisi “Pembimbing Adalah Membimbing” hadir sebagai kritik halus namun tajam terhadap praktik akademik yang menyimpang dari makna dasarnya. Dengan latar dunia pendidikan tinggi, penyair menyoroti relasi kuasa antara dosen pembimbing dan mahasiswa, khususnya dalam proses bimbingan skripsi atau proposal. Puisi ini tidak menolak disiplin akademik, tetapi mempertanyakan ketika bimbingan berubah menjadi labirin yang melelahkan dan mematahkan semangat belajar.

Tema

Tema utama puisi ini adalah penyimpangan makna bimbingan dalam dunia akademik, terutama ketika pembimbing lebih menonjolkan kuasa daripada fungsi mendidik. Tema pendukungnya meliputi:
  • relasi kuasa dalam pendidikan,
  • kebingungan mahasiswa dalam proses akademik,
  • keadilan dan empati dalam pembelajaran,
  • serta pentingnya iklim ilmiah yang sehat.
Puisi ini bercerita tentang pengalaman mahasiswa yang datang ke ruang konsultasi dengan harapan dan kerangka pikir yang telah disusun, namun pulang dengan catatan merah dan perasaan tertekan. Penyair menggambarkan kondisi ketika satu pembimbing menyatakan karya sudah layak, sementara pembimbing lain justru memerintahkan perubahan total tanpa arah yang jelas.

Proses konsultasi digambarkan sebagai labirin tanpa denah, di mana setiap kemajuan justru dibatalkan oleh syarat baru. Persoalan yang muncul bukan lagi kedalaman nalar, melainkan kekuasaan yang sulit dijelaskan secara logis. Dalam situasi ini, mahasiswa berada pada posisi rentan, harus tunduk pada keputusan yang sering kali tidak konsisten.

Makna Tersirat

Beberapa makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
  1. Bimbingan akademik dapat berubah menjadi alat dominasi jika kehilangan empati.
  2. Ketidakjelasan arah bimbingan mencerminkan kegagalan sistem, bukan kelemahan mahasiswa.
  3. Ilmu pengetahuan tidak tumbuh dalam tekanan yang sewenang-wenang.
  4. Keadilan akademik menuntut konsistensi, keterbukaan, dan dialog setara.
Puisi ini secara implisit mengkritik budaya akademik yang menjadikan kesabaran mahasiswa sebagai ujian utama, alih-alih kemampuan berpikir kritis.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini didominasi oleh:
  • frustrasi,
  • kebingungan,
  • keprihatinan,
  • serta nada reflektif dan kritis.
Meski bernada kritik, puisi ini tetap tenang dan rasional, tidak meledak-ledak, tetapi mengajak pembaca merenung.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan beberapa amanat penting, di antaranya:
  1. Membimbing bukan seni mempersulit, melainkan seni menumbuhkan.
  2. Pembimbing ideal menyeimbangkan ketajaman intelektual dengan empati.
  3. Proses akademik seharusnya membangun kepercayaan diri, bukan meruntuhkannya.
  4. Bimbingan harus menjadi jembatan yang mengantar mahasiswa berpikir dewasa, bukan tembok yang menghalangi.
Pesan ini menegaskan bahwa pendidikan sejati berangkat dari niat mendidik, bukan mempertontonkan kuasa.

Puisi “Pembimbing Adalah Membimbing” menjadi suara penting dari dalam dunia akademik itu sendiri. Aprianus Gregorian Bahtera mengingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar proses administratif atau hierarkis, melainkan relasi manusiawi yang bertumpu pada kejujuran intelektual dan empati. Puisi ini layak dibaca bukan hanya oleh mahasiswa, tetapi juga oleh para pendidik sebagai cermin refleksi terhadap peran dan tanggung jawab mereka.

Aprianus Gregorian Bahtera
Puisi: Pembimbing Adalah Membimbing
Karya: Aprianus Gregorian Bahtera

Biodata Aprianus Gregorian Bahtera:
  • Aprianus Gregorian Bahtera saat ini aktif sebagai mahasiswa, Fakultas Filsafat, di UNWIRA, Kupang.
© Sepenuhnya. All rights reserved.