Pucuk Kopi
Kau berpetualang senja bersama desau daun pinus yang melambai. Kau artikan dua pada lambaian itu, selamat datang, semoga hidup. Kemudian menoleh pada hamparan pucuk-pucuk kopi di sebelahnya. Sedang menanti bisik doa keberkahan
Kau ukir di tanah kelahiran, restu leluhur bertabur
Beranjak malam, kemudian kau pamit pada bentang ladang. Bersepakat padanya, agar pucuk bertumbuh, berdaun dan berbunga.
Di antara tengara senja ke seribu
Pohon-pohon kopi menyapa bersama putih bunga di sela ranting. Menebar aroma ranum kehidupan, makbulmu kabul.
Yogyakarta, 19 Desember 2025
Analisis Puisi:
Puisi “Pucuk Kopi” karya Loym R. Sitanggang menghadirkan perjumpaan antara manusia, alam, dan doa dalam satu lanskap yang hening namun sarat makna. Kopi tidak sekadar tanaman, melainkan simbol kehidupan, pengharapan, dan keterhubungan manusia dengan tanah kelahiran serta restu leluhur. Puisi ini bergerak pelan, seperti senja yang turun, namun menyimpan kedalaman spiritual yang tenang.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kehidupan, pengharapan, dan keberkahan yang tumbuh dari relasi manusia dengan alam dan leluhur. Puisi ini juga memuat tema tentang pulang, kerja sunyi, dan doa yang menyatu dengan tanah.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berada di ladang kopi, menyatu dengan senja, pinus, dan hamparan pucuk-pucuk kopi yang menanti keberkahan. Tokoh lirik ini memaknai alam sebagai ruang dialog: lambaian daun pinus dibaca sebagai salam hidup, pucuk kopi sebagai harapan yang didoakan, dan ladang sebagai saksi janji untuk terus bertumbuh.
Perjalanan puisi bergerak dari senja ke malam, dari pamit pada ladang hingga kembali pada pagi yang menyapa dengan bunga kopi. Semua berlangsung sebagai ritus kecil yang sakral, tanpa hiruk-pikuk.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
- Kehidupan yang baik tumbuh dari kesabaran dan doa, bukan dari paksaan.
- Alam bukan objek eksploitasi, melainkan mitra spiritual manusia.
- Restu leluhur dan tanah kelahiran menjadi fondasi bagi keberlangsungan hidup.
- Keberkahan hadir melalui kerja yang tekun dan hubungan yang selaras dengan alam.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini hening, teduh, dan kontemplatif. Ada ketenangan senja, keakraban dengan alam, serta rasa syukur yang tidak diucapkan secara lantang, tetapi terasa mengalir lembut di setiap larik.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Puisi ini menyampaikan amanat / pesan bahwa:
- Hidup perlu dijalani dengan kesabaran, doa, dan kesadaran akan akar.
- Manusia seharusnya merawat alam dengan penuh hormat, karena dari sanalah kehidupan bertumbuh.
- Keberhasilan dan keberkahan tidak lepas dari restu leluhur dan hubungan harmonis dengan lingkungan.
Puisi “Pucuk Kopi” karya Loym R. Sitanggang adalah perayaan sunyi atas kehidupan yang bertumbuh pelan namun pasti. Ia mengajarkan bahwa keberkahan tidak selalu datang dalam gemuruh, melainkan dalam kesetiaan merawat, menunggu, dan berdoa. Di antara senja dan bunga kopi yang mekar, puisi ini menyimpan keyakinan sederhana: hidup yang dirawat dengan hormat akan selalu menemukan jalannya untuk berbunga.
Karya: Loym R. Sitanggang
Biodata Loym R. Sitanggang:
Loym R. Sitanggang lahir di Sumatera Utara 51 tahun lalu. Ia adalah seorang tenaga kesehatan yang bekerja di salah satu rumah sakit swasta di Deli Serdang, Sumatera Utara.
Menulis merupakan impiannya sejak lama, menulis juga merupakan salah satu caranya mengekspresikan diri tentang sekelilingnya, memotret kehidupan orang-orang di sekitarnya dengan segala kisah, secara fisik maupun mental. Loym sudah menerbitkan beberapa antologi cerpen dan puisi. Pernah juara harapan 3 dan masuk 25 besar pada Lomba Cipta Puisi di Asqa Imagination School. Ia masuk 36 besar peserta Anugerah COMPETER Indonesia (ACI) yang pemenangnya diumumkan per 1 Januari 2026.
Bergabung di COMPETER Indonesia sejak tahun 2025 dan saat ini sedang belajar di Asqa Imagination School angkatan #64
Penyair bisa disapa melalui Instagram @loym_sitanggang