Rindu
Aku masih memburu rindu yang belum bertemu
Menunggu dari kapal biru tanpa ada yang tahu
Aku ingin bilang aku rindu
Meski kutahu itu dungu
Satu tanyaku...
Mengapa engkau pergi malam itu
Meskipun aku sudah minta maaf padamu
Di saat yang kubutuhkan hanya satu
Sebuah peluk yang tak mengenal waktu
Analisis Puisi:
Puisi “Rindu” karya Roman Adiwijaya menampilkan ekspresi kerinduan yang sederhana namun emosional. Dengan larik-larik singkat dan bahasa lugas, puisi ini menggambarkan perasaan seseorang yang tertinggal dalam penantian, penyesalan, dan kebutuhan akan kehadiran orang lain. Rindu tidak hadir sebagai sesuatu yang indah, melainkan sebagai beban perasaan yang tak tersampaikan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kerinduan yang tertunda akibat perpisahan, disertai rasa penyesalan dan kehilangan emosional.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang masih memburu rindu yang belum pernah benar-benar bertemu dengan tujuannya. Ia menunggu sesuatu yang tak pasti, digambarkan melalui metafora “kapal biru” yang datang tanpa ada yang tahu.
Penyair ingin mengungkapkan rasa rindunya, tetapi menyadari bahwa pengakuan itu terasa sia-sia atau “dungu”. Puncak puisi hadir pada pertanyaan tentang kepergian sosok yang dirindukan, meskipun permintaan maaf telah disampaikan. Pada akhirnya, yang diharapkan penyair hanyalah sebuah pelukan—simbol kehadiran dan penerimaan—yang tidak dibatasi oleh waktu.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa rindu sering kali lahir dari ketidakselesaian hubungan. Rindu tidak hanya berarti ingin bertemu, tetapi juga penyesalan atas momen yang gagal dijaga. Puisi ini menyiratkan bahwa kata maaf dan kata rindu tidak selalu cukup untuk mempertahankan seseorang.
Selain itu, puisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan emosional manusia sering kali sangat sederhana—bukan penjelasan panjang, melainkan kehadiran yang tulus.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa sendu, sepi, dan penuh penantian, dengan nuansa melankolis yang kuat.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa kehadiran dan kehangatan emosional tidak dapat digantikan oleh kata-kata semata. Puisi ini juga mengingatkan bahwa perpisahan sering meninggalkan pertanyaan yang tak pernah mendapat jawaban.
Puisi “Rindu” karya Roman Adiwijaya menghadirkan potret perasaan kehilangan yang jujur dan membumi. Dengan bahasa sederhana dan simbol yang mudah dipahami, puisi ini menggambarkan bahwa rindu sering kali tidak membutuhkan balasan besar—cukup sebuah peluk yang datang tepat waktu. Puisi ini mengajak pembaca merenungkan betapa rapuhnya hubungan manusia ketika kehadiran terlambat disadari.