Rumah yang Tidak Kau Ingat
Aku lelah menjelaskan luka
sebab tanda-tandanya sudah terbaca
kesedihan tidak selalu bersuara
kadang ia jatuh diam, seperti senja
Orang yang bepergian tahu arah kembali
meski singgahannya sementara
tetapi engkau memilih lupa
seakan asal tak pernah ada
Yang kubutuhkan bukan tumpukan janji
atau kilau benda yang kau banggakan
kehangatan jauh lebih bernilai
daripada genggaman yang kosong perasaan
Kecerdikanmu menutup kebenaran
tak membuat kenyataan menghilang
penglihatan tidak hilang karena cinta
justru cinta yang membuat mata terjaga
Makhluk liar pun mengenal tempat pulang
walau terbang melintasi musim
ia kembali pada yang menunggu
pada tanggung jawab yang ia peluk sendiri
Kupang, 10 Desember 2025
Analisis Puisi:
Puisi “Rumah yang Tidak Kau Ingat” menghadirkan pergulatan batin seseorang yang merasa dikhianati, dilupakan, dan tidak dihargai oleh sosok yang pernah menjadi tempat pulang. Dengan bahasa yang lembut namun menyimpan kepedihan yang dalam, Aprianus Gregorian Bahtera membangun gambaran tentang cinta yang tak lagi seimbang: satu pihak tetap setia menunggu, sementara pihak lain memilih pergi dan berpaling dari akar dirinya sendiri.
Puisi ini menyuarakan luka yang tidak meledak dalam amarah, melainkan meresap dalam diam seperti senja yang turun perlahan. Di sanalah kekuatan puisinya: ia berbicara pelan, tetapi menghujam telak.
Tema
Tema dalam puisi ini berpusat pada:
- kekecewaan dalam hubungan,
- lupa akan asal dan tanggung jawab,
- kerinduan pada kehangatan yang hilang,
- serta pulang sebagai simbol komitmen dan kesetiaan.
Tema besar yang menonjol adalah perjalanan cinta yang tidak lagi menemukan rumah, ketika seseorang memilih melupakan tempat ia seharusnya kembali.
Puisi ini bercerita tentang seorang tokoh aku yang lelah menjelaskan luka kepada seseorang yang pernah dekat dengannya. Meski tanda-tanda kesedihan sudah terlihat jelas, sosok yang ia tuju memilih untuk mengabaikannya—memilih untuk “lupa”.
Penyair menggunakan metafora rumah sebagai lambang kehangatan dan tempat pulang. Namun orang yang dituju dalam puisi ini justru meninggalkan rumah tersebut, seakan-akan tidak memiliki akar, tidak memiliki asal, dan tidak mau kembali meski hanya sebentar. Tokoh aku menegaskan bahwa ia membutuhkan kehadiran tulus, bukan janji atau materi yang kosong makna.
Akhir puisi menggambarkan bahwa bahkan makhluk liar yang hidup bebas sekalipun tahu bagaimana cara kembali ke tempat yang menunggunya. Kembali adalah bentuk tanggung jawab—sesuatu yang justru tidak dilakukan oleh sosok yang dituju.
Makna Tersirat
Ada beberapa makna tersirat yang kuat:
- Luka tidak selalu menjerit, kadang ia hadir dalam diam, namun tetap nyata.
- Kepergian bukan sekadar fisik, tetapi juga batin, ketika seseorang memilih melupakan asalnya.
- Cinta bukan kepura-puraan, bukan sekadar kilau materi atau janji manis.
- Kesetiaan bukan hal yang rumit—bahkan makhluk liar pun memahaminya, tetapi manusia sering kali mengabaikannya.
- Menutup-nutupi kesalahan tidak menghapus kebenaran, sebab kenyataan tetap akan terlihat.
- Pulang adalah metafora tanggung jawab moral, bukan sekadar tindakan.
Makna tersirat ini memberikan kedalaman emosional pada puisi, sekaligus kritik lembut terhadap mereka yang melupakan komitmen.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini adalah:
- sunyi,
- lelah,
- penuh kekecewaan,
- reflektif,
- sendu,
- dan mengandung kerinduan yang pahit.
Ada rasa menunggu yang tak kunjung terjawab, tetapi sekaligus ada ketegasan bahwa kebenaran tidak bisa dihapus oleh kelicikan seseorang.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Beberapa pesan atau amanat yang bisa ditangkap:
- Kejujuran lebih penting daripada janji yang mengilap tetapi kosong.
- Kesedihan seseorang jangan diremehkan, sebab meski diam, ia tetap nyata.
- Setiap manusia harus ingat pada asal, komitmen, dan tanggung jawabnya.
- Cinta menuntut kehadiran, bukan sekadar kata-kata.
- Menutup kebenaran tidak membuat kebenaran itu hilang.
- Jika bahkan makhluk liar tahu cara pulang, manusia seharusnya lebih peka terhadap mereka yang menunggunya.
Amanat ini terasa halus namun tegas, mengingatkan pembaca agar tidak bermain-main dalam hubungan.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji (citraan) yang mendukung makna emosionalnya:
- “Kesedihan tidak selalu bersuara, kadang ia jatuh diam seperti senja” → imaji visual dan suasana yang tenang namun menyakitkan.
- “Tumpukan janji… genggaman yang kosong perasaan” → imaji abstrak tentang kepalsuan.
- “Makhluk liar pun mengenal tempat pulang” → imaji alam yang digunakan untuk menegaskan makna moral.
Imaji-imaji ini membantu pembaca merasakan kedalaman luka dan kekecewaan tokoh aku.
Majas
Beberapa majas yang digunakan penyair:
Simile
- “kesedihan… jatuh diam, seperti senja”
Metafora
- “Rumah” sebagai metafora tempat pulang, kehangatan, dan komitmen.
- “Genggaman yang kosong perasaan” → metafora hubungan tanpa cinta.
- “Tumpukan janji” → metafora janji yang tak ditepati.
Personifikasi
- “Kesedihan… jatuh diam” → kesedihan digambarkan seperti makhluk yang bisa bergerak.
- “Penglihatan tidak hilang karena cinta” → seolah mata punya kehendak sendiri.
Hiperbola
- “Makhluk liar pun mengenal tempat pulang” → penekanan untuk menunjukkan bahwa manusia seharusnya lebih tahu tentang tanggung jawab.
Puisi “Rumah yang Tidak Kau Ingat” adalah potret luka yang tenang namun menggores. Dengan metafora rumah sebagai pusat emosi, penyair menunjukkan betapa pentingnya kehangatan, kejujuran, dan tanggung jawab dalam sebuah hubungan. Meski sederhana dalam pilihan katanya, puisi ini menyimpan kedalaman makna yang dapat dirasakan siapa saja yang pernah kehilangan, pernah dikhianati, atau pernah menunggu seseorang yang tidak kembali.