Tatapanmu Memblokir Kebebasanku
Tatapanmu seperti tembok besi
Menjulang di depan langkahku
Aku ingin melangkah lebih bebas
Tapi matamu yang tajam mengunci pintu hati
Setiap pandangmu menusuk hati
Memblokir mimpi yang hendak terbang
kebebasanku terperangkap diam
Dalam bayangmu yang tak pernah pudar
Kau tak bicara hanya tatap saja
Tapi itu cukup hambat napasku
Aku rasional, tahu ini belenggu
Namun hati tetap terikat kuat
Tatapanmu bangun dinding tak kasat
Blokir jalan menuju cahaya baru
kebebasanku jadi tahanan sunyi
Dalam penjara yang kau cipta diam-diam
Aku coba lari dari sorotmu
Tapi selalu kembali ke jerat itu
Rasional katakan, lepaskan saja
Tapi tatapanmu blokir logikaku
Saat tatapanmu redup suatu hari
Kebebasanku akan lahir kembali
Tembok runtuh, langkahku bebas
Dan jiwaku terbang tanpa blokir
Kupang, 23 Desember 2025
Analisis Puisi:
Puisi “Tatapanmu Memblokir Kebebasanku” menghadirkan relasi emosional yang timpang, di mana tatapan—sesuatu yang tampak sederhana—menjelma menjadi simbol kekuasaan dan belenggu. Melalui metafora yang konsisten, penyair mengangkat konflik batin antara rasionalitas dan keterikatan perasaan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah keterikatan emosional yang mengekang kebebasan individu. Puisi menyoroti bagaimana relasi personal dapat berubah menjadi penjara psikologis, meski tanpa kata atau paksaan fisik.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang merasa kebebasannya terhalang oleh tatapan sosok “kamu”. Tatapan tersebut digambarkan seperti tembok, dinding, dan penjara yang menghalangi langkah, mimpi, serta logika sang aku. Meski sadar secara rasional bahwa kondisi itu adalah belenggu, ia tetap terikat dan sulit melepaskan diri.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa kekuasaan dalam relasi tidak selalu hadir melalui ucapan atau tindakan nyata. Tatapan menjadi simbol dominasi emosional yang membungkam, membuat seseorang kehilangan otonomi atas pilihan dan keinginannya sendiri. Puisi ini juga menyiratkan konflik batin antara kesadaran logis dan ketergantungan perasaan.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa tertekan, gelisah, dan penuh kegamangan. Ada rasa sesak dan terkurung yang terus-menerus, hingga muncul harapan akan pembebasan di bagian akhir puisi.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah pentingnya menyadari batas antara cinta dan belenggu. Puisi ini mengingatkan bahwa keterikatan yang mematikan kebebasan dan logika perlu disadari dan, pada waktunya, dilepaskan agar individu dapat kembali menemukan jati diri dan kemerdekaan batin.
Puisi “Tatapanmu Memblokir Kebebasanku” menggambarkan bagaimana relasi emosional dapat menjadi ruang pengekangan yang sunyi. Dengan bahasa yang lugas dan metafora yang konsisten, Aprianus Gregorian Bahtera menyampaikan pesan tentang perjuangan membebaskan diri dari belenggu batin, hingga akhirnya menemukan kembali kebebasan dan cahaya hidup.