Respons Tercepat Negara yang Pernah Saya Rasakan Datang dari Damkar

Pernah panik menghadapi tokek di kamar tengah malam? Yuk baca pengalaman bagaimana Damkar datang sigap dan membuat kita merasa aman tanpa ribet!

Oleh Laylatuz Zahra Ramadhani

Ada momen dalam hidup sebagai warga negara biasa ketika rasa aman itu tidak datang dari pidato, baliho, atau jargon pelayanan publik. Rasa aman itu justru hadir dari suara operator yang berkata singkat dan tenang, “Baik, Mbak. Kami berangkat sekarang.” Suara itu milik petugas Damkar.

Damkar

Selama ini saya mengira Damkar hanya mengurusi api, kecelakaan, dan kucing-kucing yang salah mengambil keputusan hidup dengan naik genteng. Ternyata saya keliru. Damkar juga mengurusi krisis batin warga kos yang berhadapan langsung dengan tokek berukuran tidak masuk akal pada pukul 00.47.

Malam Ketika Damkar Menyelamatkan Harga Diri Saya

Kejadiannya sekitar pukul 00.47. Saya baru selesai cuci muka saat melihat seekor tokek berukuran tidak manusiawi menempel di dinding kamar. Saya panik. Saya telepon teman, tidak ada yang angkat. Saya buka jendela kamar, tokeknya masih menatap saya dengan wajah sok berkuasa itu. Akhirnya saya menghubungi nomor darurat. Dan di situlah momen itu terjadi. Begitu saya menyebut kata “tokek”, operator langsung berkata, “Baik, Mbak. Kami kirim Damkar ke lokasi.” Tidak ada pertanyaan ribet. Tidak ada syarat-syarat aneh. Tidak ada pembicaraan tentang “administrasi”. Hanya: Baik, kami datang. Lima belas menit kemudian, petugas Damkar benar-benar muncul. Lengkap dengan senter, jaring, dan aura pahlawan. Mereka masuk kamar dengan tenang, mencari posisi, dan dalam hitungan menit, tokek itu berhasil dievakuasi tanpa drama ataupun biaya. Sebelum pulang, mereka cuma bilang: “Kalau nanti ada hewan masuk lagi, hubungi kami saja, Mbak.” Jam satu pagi, saya hampir terharu.

Damkar dan Konsep Pelayanan yang Tidak Banyak Tanya

Di titik itu saya sadar, Damkar adalah instansi yang tidak pernah bertanya, “Ini penting atau tidak?” Semua masalah warga dianggap penting, entah itu api besar, sarang lebah, atau tokek yang membuat seseorang gagal tidur dan gagal merasa aman.

Mereka tidak menilai apakah ketakutan kita rasional. Mereka datang, bekerja, lalu pulang dengan tenang. Seolah menyelamatkan tokek adalah bagian wajar dari tugas menjaga warga tetap waras.

Pengalaman itu membuat saya berpikir tentang konsep pelayanan publik. Secara teori, semuanya terdengar sederhana. Tapi dalam praktiknya, sering kali warga justru belajar untuk menahan diri, menarik napas panjang, dan memilih waktu yang tepat untuk merasa panik.

Damkar berbeda. Mereka datang justru ketika kita sedang panik. Tanpa membuat kita merasa berlebihan, bodoh, atau merepotkan.

Instansi yang Datang Tanpa Membuat Warga Merasa Kecil

Mungkin itulah kekuatan terbesar Damkar, mereka tidak membuat warga merasa kecil di hadapan masalahnya sendiri. Tidak ada nada menggurui. Tidak ada ekspresi “kenapa hal sepele begini saja repot”.

Mereka hadir sebagai manusia yang membantu manusia lain. Sederhana. Efektif. Menenangkan.

Andai semua pelayanan publik punya energi seperti itu datang, menyelesaikan masalah, lalu pergi tanpa membuat warga merasa bersalah hidup mungkin tidak perlu dijalani dengan terlalu banyak kewaspadaan.

Rasa Aman

Malam ketika saya diselamatkan dari tokek sebesar beban hidup itu, saya sadar satu hal, rasa aman sering kali datang bukan dari yang paling sering terlihat, tapi dari yang paling siap membantu tanpa banyak tanya.

Semoga Damkar tetap seperti ini. Tetap sigap. Tetap rendah hati. Tetap datang tanpa membuat warga merasa berlebihan.

Karena di negara yang sering ribut soal hal besar, kadang yang paling kita butuhkan hanyalah seseorang yang datang cepat untuk mengusir tokek dari dinding kamar.

Biodata Penulis:

Laylatuz Zahra Ramadhani saat ini aktif sebagai mahasiswi di Universitas Sebelas Maret.

© Sepenuhnya. All rights reserved.