Seblak sebagai Comfort Food Perempuan Indonesia

Bukan cuma jajanan, seblak adalah pelipur lelah. Yuk simak alasan seblak begitu dekat dengan perempuan Indonesia.

Oleh Esterlin Merrinov Putri Dewanti

Seblak bukan sekadar jajanan pedas yang mudah ditemui di pinggir jalan atau aplikasi pesan antar. Di kalangan perempuan Indonesia, seblak telah menjelma menjadi pilihan makanan yang nyaris “wajib”, terutama saat lapar, lelah, atau sedang tidak baik-baik saja. Dari pelajar hingga pekerja kantoran, semangkuk seblak kerap menjadi jawaban paling cepat dan memuaskan.

Seblak sebagai Comfort Food Perempuan Indonesia

Pedas sebagai Sensasi yang Menenangkan

Rasa pedas pada seblak bukan hanya soal selera, tetapi juga sensasi. Pedas memberi efek kejut yang mengalihkan pikiran dari stres dan kepenatan. Bagi banyak perempuan, rasa pedas menghadirkan kelegaan sesaat seolah emosi yang menumpuk ikut luruh bersama keringat dan rasa terbakar di lidah.

Seblak dan Konsep Comfort Food

Dalam kajian budaya makan, comfort food merujuk pada makanan yang memberikan rasa nyaman secara emosional. Seblak memenuhi kriteria tersebut: hangat, beraroma kuat, mudah disesuaikan dengan selera, dan mengenyangkan. Kombinasi kerupuk basah, kuah gurih, dan topping beragam menciptakan rasa “akrab” yang menenangkan, terutama di tengah rutinitas yang melelahkan.

Pilihan Murah, Akses Mudah, dan Fleksibel

Seblak juga digemari karena sifatnya yang inklusif. Harga terjangkau, mudah ditemukan, dan bisa disesuaikan dengan keinginan level pedas, topping, hingga kuah. Fleksibilitas ini membuat seblak terasa personal. Setiap orang bisa punya “versi seblak” sendiri, menjadikannya lebih dari sekadar makanan massal.

Ruang Aman untuk Menikmati Diri Sendiri

Bagi sebagian perempuan, makan seblak adalah momen jeda. Duduk sendiri atau bersama teman, tanpa tuntutan tampil rapi atau menjaga citra. Seblak tidak menuntut formalitas. Ia memberi ruang untuk menikmati diri sendiri secara jujur, tanpa perlu alasan atau pembenaran.

Seblak sebagai Bahasa Emosi

Tak jarang, keinginan makan seblak muncul saat emosi sedang tidak stabil lelah setelah bekerja, kecewa, atau sekadar ingin dimengerti. Dalam konteks ini, seblak menjadi bahasa emosi yang sederhana. Tanpa banyak kata, semangkuk seblak mampu mewakili kebutuhan untuk dihibur dan dirawat, meski sebentar.

Dari Jajanan ke Identitas Budaya Populer

Seblak kini juga menjadi bagian dari budaya populer perempuan. Muncul di konten media sosial, obrolan santai, hingga meme. Penyebutan “lagi pengin seblak” sering kali lebih dari sekadar lapar; ia adalah penanda suasana hati. Seblak menjadi simbol kebersamaan, kejujuran emosi, dan kesederhanaan yang membumi.

Stigma dan Cara Pandang yang Perlu Diubah

Meski digemari, seblak kadang distigma sebagai makanan “tidak sehat” atau “kurang bergizi”. Namun, melihatnya semata dari aspek itu mengabaikan fungsi emosional yang dimilikinya. Seperti halnya kopi atau cokelat, seblak memiliki peran psikologis yang tak kalah penting dalam keseharian.

Seblak Lebih dari Sekadar Makanan

Seblak bukan hanya soal pedas dan kenyang. Bagi banyak perempuan Indonesia, ia adalah comfort food teman setia di tengah hari yang melelahkan, pelipur lara yang sederhana, dan ruang aman untuk berhenti sejenak. Dalam semangkuk seblak, ada rasa nyaman yang sulit dijelaskan, tapi mudah dirasakan.

© Sepenuhnya. All rights reserved.