Oleh Maulidya Syukrya
Seruit merupakan makanan khas Lampung yang terbuat dari ikan sungai atau ikan laut, seperti baung, belida, nila, atau ikan laut yang digoreng maupun dibakar. Ikan tersebut kemudian dicampur dengan sambal terasi, tempoyak, atau mangga muda yang diulek kasar. Perpaduan rasa gurih, pedas, asam, dan sedikit pahit dari tempoyak menghasilkan cita rasa yang khas dan kuat. Seruit biasanya disajikan dalam satu wadah besar dan disantap bersama-sama, tanpa sekat, sehingga menciptakan suasana kebersamaan yang hangat. Tradisi makan seruit mencerminkan nilai gotong royong dan kesetaraan, di mana setiap orang duduk sejajar dan menikmati hidangan yang sama.
Dalam kehidupan masyarakat Lampung, seruit tidak hanya hadir sebagai menu sehari-hari, tetapi juga memiliki peran penting dalam berbagai kegiatan sosial dan adat. Hidangan ini kerap disajikan dalam acara keluarga, pertemuan adat, hingga penyambutan tamu kehormatan. Kehadiran seruit dalam sebuah jamuan dianggap sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan keakraban kepada tamu. Proses penyajiannya pun melibatkan banyak orang, mulai dari menyiapkan ikan hingga mengulek sambal bersama, sehingga memperkuat ikatan sosial antaranggota masyarakat.
Selain seruit, Lampung juga memiliki gulai taboh, kuliner tradisional yang kaya akan rempah dan cita rasa. Gulai taboh merupakan hidangan berkuah santan dengan bahan utama ikan, udang, atau sayuran seperti kacang panjang, terong, dan daun singkong. Kuahnya berwarna kekuningan dengan aroma rempah yang khas, memberikan rasa gurih yang lembut dan tidak terlalu pedas. Gulai taboh sering dihidangkan sebagai pelengkap seruit atau sebagai menu utama dalam acara adat dan perayaan keluarga.
Hidangan ini mencerminkan kekayaan hasil alam Lampung serta kemampuan masyarakatnya dalam mengolah bahan sederhana menjadi sajian bernilai tinggi. Keunikan kuliner Lampung juga terlihat dari penggunaan bahan-bahan lokal yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Tempoyak, misalnya, merupakan hasil fermentasi durian yang banyak digunakan dalam masakan Lampung. Bahan ini memberikan rasa asam yang khas dan menjadi ciri tersendiri dalam berbagai hidangan tradisional. Penggunaan tempoyak menunjukkan bagaimana masyarakat Lampung memanfaatkan hasil alam secara optimal sekaligus menciptakan rasa yang unik dan berbeda dari daerah lain. Proses pengolahan tempoyak yang diwariskan secara turun-temurun juga menjadi bagian penting dari tradisi kuliner setempat. Di tengah arus modernisasi dan perkembangan kuliner modern, makanan khas Lampung tetap bertahan dan terus dikenalkan kepada generasi muda.
Banyak rumah makan dan pelaku usaha kuliner yang mulai mengangkat kembali hidangan tradisional Lampung dengan tampilan yang lebih modern tanpa menghilangkan cita rasa aslinya. Upaya ini tidak hanya bertujuan untuk menarik minat wisatawan, tetapi juga sebagai bentuk pelestarian budaya kuliner daerah. Dengan demikian, seruit dan gulai taboh tidak hanya dikenal di lingkungan lokal, tetapi juga mulai mendapat tempat di kancah kuliner nasional. Kuliner khas Lampung juga memiliki nilai edukatif, terutama bagi generasi muda. Melalui makanan tradisional, generasi muda dapat mengenal sejarah, kebiasaan, dan nilai hidup masyarakatnya. Tradisi makan bersama seruit, misalnya, mengajarkan pentingnya kebersamaan, kesederhanaan, dan rasa saling menghargai. Nilai-nilai tersebut menjadi semakin relevan di tengah kehidupan modern yang cenderung individualistis.
Oleh karena itu, pelestarian kuliner tradisional tidak hanya berkaitan dengan rasa, tetapi juga dengan pembentukan karakter dan identitas budaya. Pada akhirnya, makanan khas Lampung merupakan bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya Nusantara. Seruit, gulai taboh, dan berbagai hidangan tradisional lainnya menjadi bukti bahwa kuliner mampu merekam perjalanan hidup suatu masyarakat. Melalui cita rasa yang autentik dan tradisi yang terus dijaga, kuliner Lampung tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang sebagai warisan budaya yang patut dibanggakan. Menjaga dan memperkenalkan kuliner khas Lampung berarti turut menjaga identitas dan kearifan lokal agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.