Oleh Pipin Windriani
John Dewey merupakan kelahiran di Burlington, Vermont pada tanggal 20 Oktober 1859. Nama orang tuanya adalah Archibald Sprague Dewey dan Lucina Artemesia Rich. John Dewey merupakan anak ketiga dari empat saudara. Keluarga John Dewey berasal dari New England. Dewey juga menulis sangat banyak tentang psikologi dan filsafat menurut pandangan Dewey, filsafat adalah mengungkapkan terus menerus perjuangan manusia.
Dewey mengembangkan tentang jenis logika yang tidak termasuk logika formal atau tidak benar (nonformal) dan logika proses perantara yang kita sebut atau umumnya (instrumentalisme). Logika ini untuk meneliti tentang kebenaran inheren dalam susunan benda-benda. Pada tahun 1884, Dewey dapat meraih gelar doktor dan bekerja di instruktur Universitas Michigan. Dewey juga menjadi profesor di Universitas Minnesota. Pada tahun 1889, Dewey kembali ke Michigan dan menjabat sebagai Kepala Departemen Filsafat Universitas Michigan sampai tahun 1894. Dan selama itu juga Dewey mempelajari tentang logika, psikologi dan etika.
Dan pada tahun 1894, Dewey mengusulkan juga tentang pedagogi dimasukkan sebagai salah satu program studi dalam Departemen Filsafat dan Psikologi. Alasannya karena Dewey ingin mempelajari tentang proses dalam belajar dan kaitannya dengan psikologi juga pendidikan. Universitas Chicago pun menerima usulan tersebut. Dari pemikiran-pemikiran John Dewey yang berpengaruh besar bagi pragmatisme. Pemikiran pragmatisme juga disebut pemikiran eksperiensialisme karena menjadi pertumbuhan bagi manusia sebagai tujuan pendidikan. Dewey meyakini menjadi pemikiran yang pragmatismenya menjadi salah satu landasan yang berpikiran melalui pendidikan massal. Dewey juga mengembangkan pemikiran dari tokoh lain seperti Charles Sanders Peirce dan William James. Dari hasil pengembangannya disebut dengan teori instrumentalisme. Teori ini juga menyatakan bahwa penyelesaian masalah sosial harus menjadi fungsi dari kognisi.
Teori John Dewey
John Dewey (1859–1952) dikenal sebagai pelopor psikologi pendidikan (progressive education). John Dewey juga menekankan pentingnya pengalaman langsung dalam pembelajaran (learning by doing). Dalam pandangan Dewey, guru bukan hanya salah satu atau satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan fasilitator yang memungkinkan siswa mengintegrasikan pengalaman konkret dengan teori. Proses pembelajaran ini bersifat transaksional, di mana pengalaman dan refleksi akan saling berkaitan dengan lainnya, dan menghasilkan pemikiran yang mendalam. Anak juga akan belajar melalui interaksi dengan lingkungan, mencoba, dan menarik kesimpulan untuk menjadi pengalamannya atau bisa disebut dengan (eksperiensial dan reflektif).
Hasil dari berbagai penelitian lain menunjukkan (experiential learning) relevan terhadap aspek psikologis anak. Meningkatkan kepercayaan diri, komunikasi, dan keterampilan pemecahan masalah siswa. Peningkatan motivasi belajar melalui pengalaman, meskipun aspek refleksi belum dikaji mendalam.
Dengan analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa teori konstruktivisme Dewey menempatkan pengalaman, refleksi, dan interaksi sosial sebagai kunci pembentukan pengetahuan dan karakter peserta didik secara psikologis, pendekatan ini memperkuat kemampuan berpikir kritis, motivasi intrinsik, dan empati sosial siswa. Oleh karena itu guru perlu mengintegrasikan pengalaman nyata ke dalam proses pembelajaran agar siswa dapat membangun pemahaman yang lebih bermakna, relevan, dan kontekstual dengan kehidupan mereka.
Contoh dari Teori John Dewey
Ketika ada guru Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) sedang menjelaskan matematika kepada anak tapi anak kelihatan susah dan membuat si anak nangis, guru pun mendatanginya dan bertanya kepada anak kecilnya "kenapa menangis?" Anak kecil pun menjawab "ibu, matematikanya susah. Aku nggak bisa." Akhirnya guru memutuskan mengajari anak matematika dengan menggunakan apel untuk menghitung.
1. Mengidentifikasi Masalah
Guru melihat ada beberapa siswa yang menangis karena belum paham dengan materi menghitung karena kesulitan dalam belajar materinya.
2. Mendefinisikan Masalah
Guru pun mengambil apel dan memotongnya menjadi 5 bagian dan meletakkannya menjadi 2 kelompok yang satu berisi 3 potong yang satunya berisi 2 potong.
3. Mengembangkan Solusi
Guru mengajak anak-anak untuk menghitung jumlah apel yang sudah dikelompokkan itu.
4. Menguji Solusi atau Gagasan
Anak mencoba menghitung kembali dengan menyatukan apel yang sudah dipotong itu. Di proses ini anak sudah memahami bahwa menggabungkan 3 potong ditambah 2 potong akan menghasilkan 5 potongan apel.
5. Membuat Kesimpulan
Anak telah bisa menghitung dengan sebuah apel dan anak menyimpulkan bahwa 3+2=5. Dan pembelajaran ini bermakna bagi Anak Usia Dini.
Pembelajaran matematika di PIAUD akan menyenangkan jika sesuai dengan tahap perkembangan. John Dewey juga menjelaskan bahwa anak belajar dari pengalaman langsung dan permasalahan yang nyata dan dengan menerapkan 5 tahap pemecahan masalah menurut Dewey bisa membantu guru agar anak lebih paham tentang konsep matematika tanpa tekanan.
Biodata Penulis:
Pipin Windriani saat ini aktif sebagai mahasiwa di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.