Kenapa Iklan "Quran Sobek" & Pesantren Reyot Menghantui YouTube Kita?

Pernah tergugah iklan pesantren di YouTube tapi merasa ada yang janggal? Yuk bongkar fakta di balik iklan sedih “Quran sobek.”

Oleh Roman Adiwijaya

Pernah nggak sih lagi asyik nonton YouTube, tiba-tiba kena interrupt iklan yang isinya bikin hati teriris? Visualnya selalu sama: mushaf Al-Qur'an yang sobek-sobek sampai nggak layak baca, bangunan pesantren yang mau roboh, dan backsound suara nangis atau nasyid sedih. Anehnya, iklan ini muncul terus-terusan, seolah-olah mengejar kita ke mana pun kita scroll.

Kenapa Iklan Quran Sobek

Banyak yang bertanya-tanya, "Ini beneran atau tipu-tipu? Kok pesantren ngemis begini caranya?"

Jawabannya nggak sesederhana "iya" atau "tidak". Di balik air mata yang kita lihat di layar, ada mesin bisnis digital yang bekerja sangat rapi. Mari kita bedah "dapur"-nya tanpa bahasa akademis yang njelimet.

1. "Poverty Porn": Karena Kesedihan Itu Laku Keras

Jujur aja, kalau iklannya nampilin santri yang ketawa-ketiwi bahagia di gedung bagus, kamu bakal klik tombol donasi nggak? Kemungkinan besar enggak.

Di dunia marketing, ini namanya "Poverty Porn" atau jualan kemiskinan. Para pengiklan tahu betul psikologi kita. Visual Al-Qur'an yang rusak parah itu dipilih secara sadar untuk memancing rasa bersalah (guilt) kita.

"Masa kita baca Quran di AC nyaman, mereka baca kertas lecek?"

Rasa bersalah ini adalah "tombol" paling ampuh untuk bikin orang transfer uang detik itu juga.

Algoritma YouTube itu simpel: dia bakal nyodorin konten yang paling banyak diklik. Karena video sedih ini engagement-nya tinggi (banyak yang nge-klik karena kasihan), biaya iklannya jadi murah. Makanya mereka bisa ngebom iklan terus-terusan.

2. Siapa di Balik Layar?

Ini bagian yang sering bikin kaget. Jangan bayangkan yang setting iklan itu Pak Kyai di pelosok desa yang gaptek. Nggak, Bro.

Di balik kampanye masif ini, sering kali ada tim Digital Marketer profesional atau agensi iklan.

  • Tentara Bayaran Digital: Ada lowongan kerja nyata untuk posisi "Advertiser Lembaga Sosial" yang syaratnya harus jago Facebook/Google Ads dan biasa bakar duit iklan ratusan juta rupiah. Mereka ini kerja target, bos.
  • Bisnis Afiliasi (Makelar): Pernah lihat link donasi yang disebar influencer atau akun-akun medsos? Banyak dari mereka itu "Afiliator Donasi". Mereka bisa dapet komisi sampai 20% dari uang yang kamu sumbangin.

Jadi, kalau kamu nyumbang Rp100.000, bisa jadi Rp20.000-nya masuk kantong si penyebar link, bukan ke pesantrennya. Ini sah secara sistem marketing, tapi secara etika? Silakan nilai sendiri.

3. Realita vs. Modus Tipu-Tipu

"Berarti semua itu penipuan dong?" Eits, belum tentu. Kita harus pilah dulu.

  • Si Agresif tapi Resmi: Contoh yang paling sering muncul iklannya adalah Wahdah Inspirasi Zakat (WIZ). Riset nunjukin mereka ini lembaga resmi (LAZNAS) yang punya izin Kemenag. Mereka beneran nyalurin bantuan Qur'an. Cuma ya itu, strategi marketing-nya super agresif (pakai banyak rekening beda-beda buat tracking iklan) yang bikin orang awam jadi curiga dan risih.
  • Si Maling Konten: Nah, ini yang jahat. Ada sindikat yang kerjanya cuma download video sedih milik lembaga resmi, terus suaranya diganti pakai AI (robot), dan nomor rekeningnya ditimpa (di-edit) jadi rekening pribadi mereka. Mereka ini murni kriminal yang manfaatin rasa iba kita.

4. Kenapa "Quran Sobek"?

Kenapa nggak atap bocor atau baju lusuh? Kenapa harus Quran? Secara psikologis, bagi umat Islam, melihat Kitab Suci terhina (sobek/kotor) itu menyakitkan. Solusi yang ditawarkan iklan itu instan: "Donasi = Ganti Baru = Pahala Jariyah." Ini ngasih kepuasan batin instan buat donatur. Padahal, menurut para ulama, Quran yang rusak itu harusnya dimuliakan dengan cara dibakar atau dikubur, bukan di-video-in terus dipamerin demi konten.

Kesimpulan: Jangan Asal Klik!

Fenomena pesantren "mengemis online" ini adalah campuran antara kebutuhan nyata (memang banyak pesantren di pelosok yang butuh bantuan), strategi marketing modern (yang kadang kebablasan), dan penumpang gelap (penipu).

Tips buat kita:

  • Cek Legalitas: Jangan cuma liat videonya. Cek lembaganya terdaftar di Kemenag/Baznas nggak?
  • Hati-Hati Rekening Pribadi: Kalau minta transfer ke rekening atas nama perorangan (bukan Yayasan), 99% itu red flag.
  • Transfer Langsung: Kalau mau bantu, mending cari kontaknya, verifikasi, dan transfer langsung ke rekening yayasan resminya. Jangan lewat link pihak ketiga yang nggak jelas, biar sedekahmu utuh sampai ke santri, nggak kepotong komisi makelar.

Yuk, jadi donatur yang cerdas! Niat baik harus disalurkan dengan cara yang bener biar nggak dimanfaatin oknum.

Biodata Penulis:

Roman Adiwijaya saat ini aktif sebagai mahasiswa di Universitas Terbuka, Prodi Ilmu Hukum.

© Sepenuhnya. All rights reserved.