Pantun Nasihat
Perahu berlayar menuju pulau
Angin mendorong arah buritan
Hilangkan rasa jemu dan galau
Belajarlah untuk terampil dan cekatan
Sumber: Aku, Kau dan Rembulan (2015)
Analisis Puisi:
Puisi “Pantun Nasihat” karya Tri Astoto Kodarie merupakan puisi berlarik empat yang mengikuti pola pantun tradisional. Kesederhanaan diksi dan struktur berfungsi sebagai medium penyampai pesan moral yang lugas namun tetap puitis. Puisi ini menunjukkan bagaimana tradisi pantun masih relevan sebagai sarana pendidikan karakter dan perenungan hidup.
Tema
Tema puisi ini adalah nasihat tentang pengembangan diri dan sikap menghadapi kehidupan. Melalui simbol perjalanan dan gerak, penyair menekankan pentingnya keterampilan, kesiapan, dan keaktifan dalam menjalani hidup.
Puisi ini bercerita tentang sebuah perahu yang berlayar menuju pulau, didorong oleh angin yang mengarahkan buritan. Dua larik awal berfungsi sebagai sampiran dengan gambaran alam dan perjalanan. Dua larik berikutnya menjadi isi pantun yang menyampaikan ajakan untuk menghilangkan kejenuhan dan kegelisahan dengan cara belajar menjadi pribadi yang terampil dan cekatan.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini mengandung ajaran bahwa kehidupan adalah sebuah perjalanan yang memerlukan arah, tenaga pendorong, dan kesiapan diri. Rasa jemu dan galau tidak seharusnya dibiarkan berlarut, melainkan diatasi melalui usaha nyata, yakni belajar, mengasah keterampilan, dan bersikap tanggap terhadap tantangan.
Suasana dalam puisi
Puisi ini menghadirkan suasana optimistis dan membangkitkan semangat. Gambaran perahu yang berlayar memberi kesan gerak maju, sementara isi pantun menumbuhkan dorongan positif untuk bertindak dan berkembang.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang disampaikan adalah pentingnya membekali diri dengan keterampilan dan ketangkasan agar mampu mengatasi kejenuhan dan kegelisahan hidup. Penyair mengajak pembaca untuk tidak pasif, melainkan aktif belajar dan berusaha agar perjalanan hidup berjalan lebih terarah.
Puisi “Pantun Nasihat” karya Tri Astoto Kodarie menunjukkan kekuatan pantun sebagai bentuk puisi lama yang tetap kontekstual. Dengan bahasa sederhana dan struktur ringkas, puisi ini menyampaikan pesan moral yang jelas: kehidupan menuntut keterampilan, kesiapan, dan sikap proaktif. Melalui simbol perjalanan, penyair mengingatkan bahwa rasa jemu dan galau dapat diatasi dengan belajar dan bergerak maju.
Puisi: Pantun Nasihat
Karya: Tri Astoto Kodarie
Biodata Tri Astoto Kodarie:
- Tri Astoto Kodarie lahir di Jakarta, pada tanggal 29 Maret 1961.
