Oleh Serly Lexyana
Perkembangan teknologi yang begitu pesat membuat cara hidup kita berubah jauh dibanding beberapa waktu lalu. Hampir semua aktivitas mulai dari belajar, bekerja, berbelanja sampai bersosialisasi banyak dilakukan melalui dunia digital. Di satu sisi, era digital membuka peluang besar bagi kemajuan bangsa. Namun di sisi lain, muncul berbagai tantangan baru yang bisa memengaruhi ketahanan nasional. Di tengah perubahan ini, generasi muda memegang peran penting karena generasi muda yang paling dekat dengan teknologi dan media digital.
Ketahanan nasional tidak lagi hanya berkaitan dengan ancaman fisik atau militer. Saat ini ancamannya juga datang dari dunia maya. Salah satu yang paling menonjol adalah maraknya penyebaran informasi palsu atau hoaks, yang dapat memicu keresahan, memecah belah masyarakat, dan menurunkan kepercayaan publik terhadap pemerintah.
Selain itu, kejahatan siber seperti penipuan online, pencurian data, dan peretasan juga semakin marak terjadi dan sangat berpotensi mengganggu keamanan ekonomi serta kenyamanan warga negara. Tantangan lainnya adalah derasnya arus budaya asing yang masuk melalui digital, yang tanpa disadari dapat memengaruhi cara berpikir dan gaya hidup generasi muda hingga mengikis identitas dan nilai kebangsaan.
Generasi muda punya kelebihan berupa kemampuan beradaptasi cepat dengan teknologi. Kemampuan ini dapat menjadi modal besar untuk menjaga ketahanan nasional melalui literasi digital. Literasi digital bukan hanya dapat menggunakan handphone atau aplikasi, tetapi juga kemampuan memahami informasi dengan kritis, mengecek kebenarannya, dan tidak mudah terprovokasi. Ketika generasi muda mampu memilah informasi dengan bijak, otomatis penyebaran hoaks dapat diminimalisir.
Banyak anak muda juga yang sudah mulai membuat konten edukatif di media sosial, seperti klarifikasi hoaks, informasi sejarah, dan kampanye anti ujaran kebencian. Hal-hal seperti ini dapat membantu menciptakan ruang digital yang lebih sehat dan aman.
Salah satu keuntungan era digital adalah mudahnya berinteraksi dengan orang dari berbagai daerah. Generasi muda dapat membangun jaringan, komunitas, dan kerja sama tanpa harus bertemu secara langsung. Hal ini biasa menjadi kekuatan besar untuk memperkuat persatuan rasa kebangsaan.
Melalui diskusi terbuka, kegiatan sosial, atau gerakan online, generasi muda dapat saling bertukar ide dan menghilangkan stereotip antar daerah. Selain itu, mereka juga dapat mempromosikan budaya lokal lewat konten kreatif.
Ketahanan nasional juga dipengaruhi oleh karakter bangsa. Di dunia digital, karakter tercermin dari cara seseorang berkomunikasi dan bersikap. Generasi muda perlu memahami bahwa setiap unggahan, komentar, atau opini di media sosial dapat berdampak bagi kehidupan nyata.
Sikap sopan, tidak menyebarkan kebencian, menghargai perbedaan, dan bertanggung jawab terhadap apa yang dibagikan adalah bagian dari etika bermedia. Nilai-nilai tersebut penting untuk menjaga keharmonisan masyarakat, sekaligus mencegah konflik yang dapat mengganggu stabilitas nasional.
Selain menjadi pengguna teknologi, generasi muda memiliki peluang untuk menciptakan teknologi. Banyak inovasi digital lahir dari ide-ide kreatif anak muda, seperti aplikasi keamanan data, platform pembelajaran, hingga sistem pelaporan berita palsu.
Di bidang keamanan siber, peran generasi muda juga sangat dibutuhkan. Keahlian yang dimiliki generasi muda di bidang teknologi dapat membantu negara menghadapi ancaman peretasan dan kejahatan digital. Bahkan tidak sedikit anak muda Indonesia terlibat dalam kompetisi keamanan siber di tingkat internasional.
Ketahanan nasional di era digital bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama. Generasi muda dengan kreativitas dan kedekatannya terhadap teknologi, memiliki peran besar dalam menjaga stabilitas bangsa.
Biodata Penulis:
Serly Lexyana, lahir pada tanggal 30 April 2007 di Jakarta, saat ini aktif sebagai mahasiswa di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.