Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Baju (Karya Aprianus Gregorian Bahtera)

Puisi “Baju” bercerita tentang seseorang yang merawat kebohongan layaknya merawat penampilan: disisir, disemprot parfum, dan dirapikan sebelum ...

Baju

Bohong yang kau rawat setiap pagi 
Kau sisir rapi sebelum berangkat
Kau semprot dengan parfum pembenaran dan perlindungan diri
lalu kau bilang pada diri sendiri
"ini bukan salahku, hanya kebetulan rasa."
Padahal kebetulan tidak pernah berulang
dengan orang yang sama
di waktu yang dirahasiakan
dengan pesan yang dihapus tergesa

Akal sehatmu tidak hilang
ia hanya kau kunci dari dalam
Kau tahu betul batas antara setia dan khianat
namun kau melangkah sambil pura-pura buta
mengira cinta adalah alasan yang cukup
untuk melukai orang yang percaya
Kesadaran tidak pernah jauh darimu
Ia hanya kau tekan sampai
suaranya serak

Jangan berteduh di balik kata "manusiawi"
seolah luka bisa ditawar dengan filsafat murahan
Manusiawi adalah bertanggung jawab
Bukan bersembunyi di balik gelap
lalu menuntut pengertian dari terang
setiap pilihan punya konsekuensi
dan setiap pengkhianatan
selalu lebih kejam dari yang kau akui
Untuk apa kau pakai baju
kesalehan
Jika nurani kau telanjangi diam-diam?
kesetiaan bukan simbol
bukan status, bukan janji yang dibacakan lantang
Ia adalah tindakan sunyi
saat tak ada yang melihat
saat godaan memanggil
namamu pelan
Sadarilah, sebelum luka menjadi kebiasaan
dan kebiasaan berubah menjadi watak

Kupang, Senin 5 Januari 2026

Analisis Puisi:

Puisi “Baju” tampil sebagai teguran moral yang keras, jujur, dan langsung menyasar wilayah batin manusia. Aprianus Gregorian Bahtera menggunakan bahasa sehari-hari yang tajam dan argumentatif untuk membongkar mekanisme pembenaran diri, kemunafikan, serta pengkhianatan yang sering disamarkan atas nama cinta, manusiawi, atau keadaan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kemunafikan moral dan pengkhianatan dalam relasi personal. Puisi ini juga menyoroti tema tanggung jawab, kesadaran etis, serta perbedaan antara simbol kesalehan dan tindakan nyata.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang merawat kebohongan layaknya merawat penampilan: disisir, disemprot parfum, dan dirapikan sebelum berangkat menjalani hari. Penyair menegur sosok “kau” yang sadar betul batas antara setia dan khianat, tetapi memilih menutup mata dan mengunci akal sehatnya sendiri. Baju—yang merujuk pada kesalehan atau moralitas—dipakai sebagai pelindung luar, sementara nurani justru ditelanjangi secara diam-diam.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menegaskan bahwa pengkhianatan bukanlah akibat ketidaktahuan, melainkan hasil pilihan sadar yang dibungkus pembenaran. Kebohongan yang “dirawat setiap pagi” menunjukkan bahwa kesalahan dilakukan secara terencana, bukan kebetulan. Puisi ini juga mengkritik penggunaan dalih “manusiawi” sebagai tameng untuk menghindari tanggung jawab atas luka yang ditimbulkan pada orang lain.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa tegang, menohok, dan penuh desakan moral. Nada puisi seperti suara hati yang tidak lagi lembut, tetapi menuntut kejujuran dan pertanggungjawaban.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini adalah ajakan untuk berani jujur pada diri sendiri dan bertanggung jawab atas setiap pilihan. Kesetiaan, sebagaimana ditekankan penyair, bukanlah simbol, status, atau kata-kata lantang, melainkan tindakan sunyi yang konsisten, terutama ketika tidak ada yang mengawasi.

Puisi “Baju” adalah puisi kritik moral yang tajam dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Aprianus Gregorian Bahtera tidak menawarkan penghiburan, melainkan cermin yang memaksa pembaca bercermin: sejauh mana kesalehan yang dikenakan benar-benar sejalan dengan nurani yang dijaga.

Aprianus Gregorian Bahtera
Puisi: Baju
Karya: Aprianus Gregorian Bahtera

Biodata Aprianus Gregorian Bahtera:
  • Aprianus Gregorian Bahtera saat ini aktif sebagai mahasiswa, Fakultas Filsafat, di UNWIRA, Kupang.
© Sepenuhnya. All rights reserved.