Puisi: Berlibur di Pantai (Karya Abdul Wahid Situmeang)

Puisi "Berlibur di Pantai" membawa pembaca ke dalam pengalaman lelaki yang berlibur di pantai, menyajikan gambaran indah tentang kealamian dan ...
Berlibur di Pantai

Pagi cerah usai musim hujan
lelaki dalam sisa usia
berlibur di pantai wisata
Di pasir putih di bawah cemara
ia menghampar
Tersenyum pada laut tergenang

Ia terkesiap. Jantungnya tergetar
disambut angin pagi yang segar
Riak pun bercengkerama. Dan cemara
berbisik-bisik mempergunjingkannya

Dan dari kerumunan pengunjung
kawanan lebah pindah mendengung
Menyengatnya

Sumber: Horison (Oktober, 1989)

Analisis Puisi:

Puisi "Berlibur di Pantai" karya Abdul Wahid Situmeang menggambarkan gambaran keindahan alam dan momen-momen yang dialami oleh seorang lelaki dalam usia senja yang sedang berlibur di pantai. Dengan nuansa alam yang indah, puisi ini mengeksplorasi perasaan, pengalaman, dan refleksi kehidupan manusia dalam konteks keindahan alam.

Lelaki dalam Sisa Usia: Puisi dimulai dengan deskripsi tentang pagi yang cerah setelah musim hujan. Penyair membawa pembaca ke pengalaman seorang lelaki yang telah melewati sebagian besar hidupnya dan sekarang menikmati sisa-sisa usianya. Ini menciptakan atmosfer yang melibatkan pembaca dalam pengalaman pribadi karakter utama.

Berlibur di Pantai Wisata: Puisi menggambarkan bahwa lelaki ini memilih untuk berlibur di pantai wisata. Ini bisa diartikan sebagai upaya untuk menemukan kedamaian dan keindahan dalam suasana alam yang menenangkan. Pantai sering kali dianggap sebagai tempat pelarian yang sempurna untuk bersantai dan melepaskan diri dari kehidupan sehari-hari.

Di Pasir Putih di Bawah Cemara: Pantai yang dipilih oleh lelaki ini memiliki pasir putih di bawah cemara. Deskripsi ini menambahkan elemen estetika alam yang mempesona. Pemilihan cemara sebagai pohon yang memberikan bayangan dan keindahan melibatkan unsur kealamian dan kedamaian dalam pengalaman berlibur.

Tersenyum pada Laut yang Tergenang: Puisi menciptakan gambaran lelaki ini yang tersenyum sambil menatap laut yang tergenang. Senyumnya mungkin mencerminkan rasa puas, kebahagiaan, atau penghormatan terhadap keindahan alam yang dihadapinya. Laut yang tergenang menciptakan kesan ketenangan dan keharmonisan dengan alam.

Terkesiap dan Jantung yang Tergetar: Kemudian, penyair mengeksplorasi perasaan lelaki tersebut saat terkesiap oleh angin pagi yang segar. Jantungnya yang tergetar mungkin mencerminkan kekaguman dan keterhubungan emosionalnya dengan keindahan alam. Ini menciptakan momen intim dan pribadi dalam pengalaman berliburnya.

Riak dan Cemara yang Berbisik-bisik: Puisi melibatkan elemen alam seperti riak dan bisikan cemara untuk menambahkan dimensi kealamian. Riak yang bercengkerama dan bisikan cemara menciptakan suasana hidup di sekitar lelaki tersebut, seolah-olah alam ikut berpartisipasi dalam momen berliburnya.

Kawanan Lebah yang Menyengat: Puisi diakhiri dengan kehadiran kawanan lebah yang menyengat. Ini bisa diartikan sebagai pengingat bahwa kehidupan tidak selalu indah, dan bahkan dalam momen-momen yang penuh keindahan, tantangan dan ketidaksempurnaan tetap ada.

Puisi "Berlibur di Pantai" membawa pembaca ke dalam pengalaman lelaki yang berlibur di pantai, menyajikan gambaran indah tentang kealamian dan momen-momen yang melibatkan perasaan, pengamatan, dan refleksi. Dengan menggunakan bahasa yang indah dan imajinatif, Abdul Wahid Situmeang berhasil menciptakan sebuah karya yang mengajak pembaca merenung tentang hubungan manusia dengan alam dan kompleksitas kehidupan.

Puisi Abdul Wahid Situmeang
Puisi: Berlibur di Pantai
Karya: Abdul Wahid Situmeang

Biodata Abdul Wahid Situmeang:
  • Abdul Wahid Situmeang lahir pada tanggal 22 Juni 1936 di Sibolga, Tapanuli Selatan.
  • Abdul Wahid Situmeang adalah salah satu sastrawan angkatan 66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.