Celana
Cinta kini sering dipercepat seolah sabar itu kuno dan memalukan
Etika ditawar demi pengakuan
asal terlihat mesra di layar kecil
lengan saling melingkar tanpa arah
lupa bahwa batas bukan musuh rasa
Anak muda belajar mencintai dari tontonan
bukan dari nilai, apalagi tangung jawab
Nafsu disamarkan sebagai bukti sayang
padahal sayang tak pernah menuntut tubuh
Ada celana yang terlalu cepat dilepas
sebelum akal diajak bicara
Ciuman dijadikan janji palsu
padahal janji perlu waktu dan keberanian
Emosi dipamerkan, privasi diobral
demi kata" relationship goals"
Lupa bahwa cinta sejati menjaga bukan menguasai atau menghabiskan
Antara genggaman dan kehormatan
banyak yang salah memilih
Norma disebut penghalang kebebasan
padahal ia pagar agar tidak jatuh
Akhirnya yang tersisa hanya sesal
Kupang, Rabu 7 Januari 2025
Analisis Puisi:
Puisi "Celana" hadir sebagai refleksi kritis terhadap cara generasi masa kini memaknai cinta, kebebasan, dan relasi. Dengan bahasa lugas dan langsung, penyair menyoroti pergeseran nilai yang terjadi akibat pengaruh tontonan, media sosial, serta budaya pamer emosi dan kemesraan. Judul yang sederhana justru menjadi pintu masuk bagi pembacaan yang lebih dalam tentang batas, etika, dan tanggung jawab dalam relasi manusia.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kritik terhadap banalitas cinta dan degradasi nilai etika dalam hubungan, khususnya di kalangan anak muda. Puisi ini juga menyinggung tema kebebasan semu, tanggung jawab moral, serta konflik antara nafsu dan akal sehat.
Puisi ini bercerita tentang fenomena cinta yang dipercepat dan dipertontonkan. Anak muda digambarkan belajar mencintai dari layar, bukan dari nilai dan tanggung jawab. Relasi direduksi menjadi simbol-simbol visual—pelukan, ciuman, dan status—hingga batas dan kehormatan kerap diabaikan. “Celana” menjadi metafora momen ketika keputusan diambil terlalu cepat, sebelum akal dan kesadaran etis diajak berdialog.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menegaskan bahwa cinta sejati tidak menuntut pengorbanan tubuh atau privasi demi pengakuan. Penyair mengkritik normalisasi nafsu yang disamarkan sebagai kasih sayang, serta kecenderungan menjadikan norma sebagai musuh kebebasan. Padahal, norma diposisikan sebagai pagar—bukan penjara—yang melindungi manusia dari penyesalan.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi cenderung reflektif dan kritis, dengan nada peringatan yang tegas. Di bagian akhir, suasana mengarah pada kegetiran, ketika yang tersisa hanyalah sesal akibat salah memilih antara genggaman dan kehormatan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Puisi ini menyampaikan amanat agar pembaca—terutama generasi muda—menimbang kembali makna cinta, kebebasan, dan batas. Cinta sejati adalah yang menjaga, memberi waktu, dan bertanggung jawab, bukan yang menguasai, menghabiskan, atau sekadar memuaskan dorongan sesaat.
Puisi "Celana" merupakan puisi kritik sosial yang tajam dan aktual. Dengan bahasa yang lugas serta simbol yang kuat, Aprianus Gregorian Bahtera mengajak pembaca untuk berhenti sejenak, berpikir ulang, dan mengembalikan cinta pada makna yang lebih manusiawi: bertanggung jawab, beretika, dan berkesadaran.