Puisi: Cerita Belum Selesai (Karya Ahmad Yani AZ)

Puisi "Cerita Belum Selesai" karya Ahmad Yani AZ merupakan potret kegelisahan kolektif manusia di tengah situasi krisis yang berkepanjangan.
Cerita Belum Selesai

Sebuah cerita telah hembuskan ketidaknyamanan
mengguncang segala jiwa di antara menghapus duka
tanah kematian semakin mencangkul air mata
dan tanpa henti dihebohkan, disibukkan yang menggerogoti sekujur tubuh
sejenak merasakan keterpurukan
tersengal jatuh ke dalam bilik vaksinasi, isolasi dan beragam peraturan, larangan ini dan itu penuhi kepala, sesakkan dada
lalu perut dan kantong pun menjerit lapar dan kering
meski sejenak di rumah saja di antara korban-korban PHK dan korban corona segala usia dalam keranda
di  antara antrian vaksin dan bantuan sosial
tapi cerita belum selesai
kembali melahirkan anak-anak cerita ngeri dengan corona versi baru
meski ranjang kehidupan sejenak patah
bibir terkunci masker
kebersamaan berjarak
rupiah pun terimbas
tapi tak lelah menancapkan belati agar segera selesai meski bagai bom waktu
dan cerita pun masih belum selesai..???

Kuala Tungkal, Jambi
30 Januari 2022/02. 29 WIB

Analisis Puisi:

Puisi "Cerita Belum Selesai" karya Ahmad Yani AZ merupakan potret kegelisahan kolektif manusia di tengah situasi krisis yang berkepanjangan. Puisi ini merekam pengalaman sosial yang penuh tekanan, terutama pada masa pandemi, dengan bahasa yang padat, panjang, dan berlapis. Penyair tidak hanya menghadirkan peristiwa, tetapi juga perasaan terhimpit yang dialami manusia dalam pusaran ketidakpastian.

Tema

Tema utama puisi ini adalah krisis kemanusiaan dan penderitaan sosial akibat pandemi. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema ketidakpastian hidup, ketahanan manusia, dan cerita penderitaan yang terus berulang tanpa kejelasan akhir.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman kolektif masyarakat yang diguncang pandemi, mulai dari rasa takut, aturan yang mengekang, isolasi, kehilangan pekerjaan, kematian, hingga ketidakpastian ekonomi. Penyair menggambarkan bagaimana kehidupan manusia terjebak dalam rutinitas krisis: vaksinasi, isolasi, masker, bantuan sosial, PHK, dan kematian yang terus berulang.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap situasi krisis yang seolah tidak pernah benar-benar selesai, meskipun berbagai upaya telah dilakukan. “Cerita belum selesai” menandakan bahwa penderitaan manusia tidak berhenti pada satu fase, tetapi terus melahirkan “anak-anak cerita ngeri” dalam bentuk krisis baru. Puisi ini juga menyiratkan kelelahan batin manusia yang terus dipaksa bertahan di tengah ancaman yang terasa seperti “bom waktu”.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi ini terasa menekan, muram, dan penuh kecemasan. Pembaca diajak merasakan sesaknya dada, kepanikan, rasa lapar, dan keputusasaan yang menyelimuti kehidupan sehari-hari. Nuansa gelisah dan lelah terasa dominan dari awal hingga akhir puisi.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk menyadari beratnya penderitaan manusia dalam krisis berkepanjangan, sekaligus refleksi bahwa solidaritas, kesadaran, dan kewaspadaan tetap diperlukan meskipun kelelahan telah mencapai batasnya. Puisi ini juga mengingatkan bahwa krisis tidak boleh dianggap selesai hanya karena manusia mulai terbiasa dengannya.

Puisi "Cerita Belum Selesai" adalah puisi sosial yang kuat dan relevan. Ahmad Yani AZ berhasil merekam denyut penderitaan manusia dalam bahasa yang lugas sekaligus simbolik, menjadikan puisi ini sebagai catatan getir tentang sebuah masa yang belum menemukan titik akhir.

Puisi Ahmad Yani AZ
Puisi: Cerita Belum Selesai
Karya: Ahmad Yani AZ

Biodata Ahmad Yani AZ:

Ahmad Yani AZ lahir di Kuala Tungkal (Bungsu dari 9 bersaudara, 11 Februari 1969. Sejak kelas 4 SD sudah mulai mencoba untuk terjun ke dunia kepenulisan dan sampai SLTA maupun saat melanjutkan studi pada Akademi Komunikasi Jurnalistik Yogyakarta sampai sekarang ini. Yang pada waktu itu mengikuti test pada Universitas Jambi, IKIP Karang Malang dan Institut Seni Indonesia Jurusan Tari, justru lulus pada Akademi Komunikasi Jurnalistik Yogyakarta (tahun 1993).

Di samping menekuni dunia kepenulisan, juga sambil aktif mengisi waktu masuk di sanggar Natya Lakshita Yogyakarta pimpinan Didik Nini Thowok (3 bulan) dan LPK. Kepenyiaran Radio & TV (Jurusan Kepenulisan Naskah 1994).

Selesai di Akademi Komunikasi Yogyakarta dan kembali ke kampung halaman, kemudian menjadi Freelance Journalist (dan magang) di Harian Independent (yang sekarang Jambi Independent) kemudian aktif menulis di rubrik opini dan budaya di Pos Metro, Jambi Ekspres dan sempat menjadi Kabiro/Reporter Mingguan Jambi Post (1998-2000), Pimred Bulletin Poltik KIN RADIO (2004), kemudian diminta menjadi staf redaksi Mingguan Media Pos Medan (lebih kurang 1,5 tahun: 2002), Wakil Sekretaris Pincab. Pemuda Panca Marga (2001–2014), Bagian Seni Budaya/Pariwisata Pemuda Panca Marga Tanjab Barat 2014-2018 dan 2009-2012 Freelance Journalist: Harian Radar Tanjab, Pos Metro, Jambi Eks, Jambi Independent, Infojambi, Tipikor Meda, Harian Jambi, Tribun, Staf Disporabudpar Tanjab Barat (November 2014 sampai sekarang Wartawan/Pengasuh Rubrik Seni dan Sastra Harian Tungkal Post). Putra bungsu H. Ahmad Zaini (Tokoh Pejuang/Anggota Veteran, Anggota Laskar Hisbullah, Barisan Selempang Merah & Saksi/Pelaku Sejarah).
© Sepenuhnya. All rights reserved.