Dalam Perjalanan
Kuturutkan pohon-pohon asam: di siang mencuci musim
Bergalau debu dan keringat yang mulai pijar
Kuturutkan lakon-lakon burung: meninggalkan sarang
Tiada bekal setalen. Hanya ketekunan sayap menahan angin
Dan mata mendera sang surya
Menurut cerita: Manusia mulanya piatu sengsara
Seperti halnya hujan mencium tanaman. Tiada jalan pulang
Seperti halnya laut menyatu sungai-sungai. Tiada dendam hutang-piutang
Manusia ialah lambang cidera, seperti halnya Adam serta Hawa
Demikianlah diriku lambang segala lambang
Pagi berangkat entah senja kapan kepulangan menghantui harapan
Pekajangun, Media Juni 1971
Sumber: Horison (Maret, 1974)
Analisis Puisi:
Puisi “Dalam Perjalanan” karya Yunus Mukri Adi menghadirkan pengalaman eksistensial manusia sebagai peziarah kehidupan. Dengan bahasa metaforis dan citraan alam yang kuat, puisi ini menggambarkan perjalanan bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan proses batin yang sarat kelelahan, ketekunan, dan kesadaran akan asal-usul manusia.
Puisi ini mengalir perlahan, seperti langkah panjang seseorang yang terus berjalan meski tidak sepenuhnya tahu ke mana dan kapan akan pulang.
Tema
Tema utama dalam puisi ini adalah perjalanan hidup manusia sebagai proses pencarian makna yang tak pernah selesai. Manusia digambarkan sebagai makhluk yang selalu bergerak, meninggalkan “sarang”, tanpa bekal pasti selain ketekunan dan daya tahan.
Tema lain yang menyertai adalah keterasingan, kesendirian, dan kesadaran akan luka asal (cidera eksistensial) yang melekat pada diri manusia sejak awal penciptaannya.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang sedang menempuh perjalanan, menyatu dengan irama alam: pohon asam, burung, angin, matahari, hujan, laut, dan sungai. Perjalanan tersebut berlangsung tanpa bekal material, tanpa kepastian tujuan, dan tanpa jaminan kepulangan.
Puisi ini juga bercerita tentang refleksi asal-usul manusia yang “mulanya piatu sengsara”, disandingkan dengan kisah Adam dan Hawa sebagai simbol luka dan keterasingan pertama manusia di dunia.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa manusia sejatinya adalah makhluk yang terluka dan terus berjalan untuk memahami luka itu. Tidak ada “jalan pulang” yang pasti, karena kehidupan sendiri adalah proses pencarian yang berlangsung terus-menerus.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa ketekunan dan kesadaran batin lebih penting daripada bekal materi, sebab yang menopang perjalanan hidup bukanlah kepemilikan, melainkan daya tahan dan harapan.
Suasana dalam Puisi
Puisi ini menghadirkan suasana kontemplatif, sunyi, dan reflektif. Ada kelelahan, tetapi tidak putus asa. Nada puisi terasa tenang, seolah menerima kenyataan bahwa perjalanan dan ketidakpastian adalah bagian dari kodrat manusia.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk menerima kehidupan sebagai perjalanan panjang yang penuh ketidakpastian, namun tetap dijalani dengan ketekunan dan kesadaran diri. Puisi ini juga mengingatkan bahwa setiap manusia membawa luka asal, dan perjalanan hidup adalah upaya memahami serta berdamai dengan luka tersebut.
Puisi “Dalam Perjalanan” karya Yunus Mukri Adi adalah puisi reflektif yang memandang hidup sebagai lintasan panjang tanpa kepastian akhir. Dengan memadukan citraan alam, kisah asal-usul manusia, dan suara batin yang jujur, puisi ini mengajak pembaca untuk memahami bahwa menjadi manusia berarti terus berjalan—meski tak selalu tahu ke mana dan kapan akan pulang.
Puisi ini menegaskan bahwa dalam ketidakpastian itulah, makna hidup perlahan dibentuk.
Puisi: Dalam Perjalanan
Karya: Yunus Mukri Adi
Biodata Yunus Mukri Adi:
- Yunus Mukri Adi lahir pada tanggal 26 Januari 1941.