Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Dalang (Karya F. Rahardi)

Puisi "Dalang" karya F. Rahardi menggambarkan pola pikir yang sering muncul di masyarakat terhadap bencana alam dan peristiwa tidak terduga lainnya.
Dalang

(Seorang menteri menganggap bahwa
banjir besar
yang menghanyutkan warung bakso,
jembatan gantung
serta menenggelamkan pos kamling
dan SD Inpres itu
sebenarnya sudah tidak murni lagi)

Banjir besar itu sebenarnya masih berada dalam
batas-batas kewajaran
dan terbukti memang sangat positif
misalnya saja
dia bisa membantu membersihkan selokan
yang mampet
dan menghanyutkan tahi dan bangkai tikus
tapi kalau jembatan itu jebol,
rumah penduduk ambruk
dan SD Inpres, warung bakso, pos kamling
sampai berminggu-minggu
terendam air comberan
itu sungguh sangat kelewatan
itu sudah merupakan sebuah indikasi
bahwa banjir besar itu sebenarnya sudah
tidak murni lagi
diduga sudah ada pihak-pihak tertentu
yang mencoba menungganginya
dan memanfaatkan kesempatan
dalam kesempitan
untuk itu departemennya sedang giat meneliti
masalah ini
dan masyarakat diharapkan agar tetap tenang
tetapi waspada

(Seorang Bupati menduga bahwa
letusan gunung berapi baru-baru ini
sebenarnya memang disengaja oleh beberapa
kalangan
dengan maksud-maksud tertentu)

Letusan gunung berapi itu jelas tidak normal
mengapa tidak ada tanda-tanda awal
yang bisa dibaca semua pihak?
mengapa dengan tiba-tiba saja ada
suara gemuruh
ada asap tebal, ada percikan api dan lava pijar
meleleh
dari kepundan
lalu menerjang kandang kambing,
membakar kebun jengkol
dan memusnahkan sarang nyamuk
kejadian ini pasti sudah lama direncanakan
saat ini aparat Kabupaten sedang melakukan
pengusutan
agar permasalahannya bisa segera menjadi jelas
dan ketahuan siapa sebenarnya
yang menjadi dalang
alias aktor intelektual dari peristiwa alam ini
dan nantinya siapa pun yang terbukti ikut
bertanggungjawab
akan ditindak dengan tegas tanpa pandang bulu

(Seorang jenderal purnawirawan
telah mencurigai
gempa bumi dahsyat
yang menggoyangkan tiang bendera
kantor kecamatan
merobohkan rumah sakit bersalin dan
membuat terjerembab
seorang pensiunan kopral yang sedang
lari-lari pagi
di kompleks transmigrasi)

Gempa dahsyat ini pasti sudah berhasil disusupi
ekstrim kiri maupun kanan dan
sudah merupakan sebuah
tindakan subversif
Angkatan Bersenjata berjanji akan segera
mengambil langkah-langkah tegas
untuk memulihkan keamanan dan ketertiban

tukang becak yang sedang makan malam
di warung tegal
keselamatannya dijamin oleh Undang-undang
sekretaris yang sedang digandeng pacarnya
di bawah pohon asam
keamanannya dilindungi oleh hukum
monyet yang dikurung di kebun binatang
dan jadi tontonan
kedudukannya diakui oleh pemerintah
dan seluruh jajaran Angkatan Bersenjata
siap untuk melaksanakan tugas pengamanan itu
secara murni dan konsekuen

(Seorang wartawan menulis bahwa
gunung meletus, banjir
dan gempa bumi yang sering terjadi
akhir-akhir ini
sebenarnya tak ada yang mendalangi atau
menunggangi
semuanya jelas masih sangat murni dan penting
sekali)

Bencana alam itu memang penting sekali
untuk koran
semakin dahsyat dan seram bencana itu
semakin didalangi dan ditunggangi
semakin menarik buat dimuat di koran
dan kalau koran-koran ini laris
anak-anak yang biasa menjajakannya di sekitar
lampu lalulintas
akan dapat membeli baju untuk adiknya
yang kedinginan
dan akan bisa pula menabung
agar kalau sewaktu-waktu jatuh sakit
tak kerepotan
untuk berobat di Puskesmas.

Jakarta, 1989

Analisis Puisi:

Puisi "Dalang" karya F. Rahardi adalah sebuah kritik sosial yang menggambarkan pola pikir yang sering muncul di masyarakat terhadap bencana alam dan peristiwa tidak terduga lainnya. Dengan menggambarkan sudut pandang berbeda dari berbagai tokoh dalam masyarakat, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan bagaimana persepsi dan reaksi terhadap kejadian-kejadian tersebut dapat dipengaruhi oleh narasi yang dibangun oleh pihak-pihak tertentu.

Manipulasi Opini: Puisi ini mencerminkan bagaimana opini publik dapat dimanipulasi oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu. Para tokoh dalam puisi, seperti menteri, bupati, dan jenderal, secara implisit menyalahkan pihak lain atas bencana alam yang terjadi. Mereka menciptakan narasi bahwa ada "dalang" atau aktor intelektual yang sengaja menyebabkan peristiwa-peristiwa tersebut untuk kepentingan mereka sendiri.

Kritik Terhadap Pemimpin dan Otoritas: Puisi ini juga mencakup kritik terhadap pemimpin dan otoritas yang cenderung mencari kambing hitam untuk menyalahkan atas masalah-masalah yang terjadi. Menteri, bupati, dan jenderal dalam puisi ini secara tidak langsung menyalahkan kelompok-kelompok tertentu atau menyimpulkan bahwa ada pihak-pihak tertentu yang bertanggung jawab atas bencana alam tersebut, tanpa bukti yang cukup.

Narasi Media dan Opini Publik: Puisi ini juga menggambarkan bagaimana narasi media massa dapat memengaruhi opini publik. Penyair menyoroti bagaimana media massa cenderung memperbesar dan memanfaatkan tragedi untuk mendapatkan keuntungan finansial, tanpa memperhatikan konsekuensi sosial dan psikologisnya.

Ironi dan Penolakan Klise: Di bagian terakhir puisi, seorang wartawan menulis bahwa semua peristiwa alam itu sebenarnya tidak didalangi oleh siapa pun, tetapi hanya merupakan bencana alam yang murni. Hal ini menunjukkan ironi dari semua tuduhan dan spekulasi yang dibuat oleh tokoh-tokoh sebelumnya, serta menolak klise bahwa ada "dalang" di balik setiap peristiwa tidak terduga.

Kesimpulan dan Tantangan bagi Pembaca: Puisi ini mengundang pembaca untuk mempertanyakan narasi yang disajikan oleh pihak-pihak berwenang dan media massa, serta untuk berpikir secara kritis tentang bagaimana mereka merespons dan menginterpretasikan berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar mereka.

Secara keseluruhan, puisi "Dalang" adalah sebuah kritik sosial yang kuat terhadap cara manusia merespons dan mengatasi peristiwa-peristiwa tidak terduga, serta bagaimana opini publik dapat dipengaruhi oleh narasi yang dibangun oleh berbagai pihak.

Floribertus Rahardi
Puisi: Dalang
Karya: F. Rahardi

Biodata F. Rahardi:
  • F. Rahardi (Floribertus Rahardi) lahir pada tanggal 10 Juni 1950 di Ambarawa, Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.