Analisis Puisi:
Puisi “Devosi” karya Anthony Sutanto Atmaja merupakan puisi pendek dengan daya gugah yang kuat. Hanya melalui satu kalimat tanya, penyair berhasil menghadirkan kritik moral, kegelisahan spiritual, sekaligus refleksi tentang relasi manusia dengan Tuhan. Kepadatan makna dalam puisi ini menjadikannya terbuka untuk berbagai penafsiran, terutama dalam konteks religius dan sosial.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kritik spiritual dan moral dalam praktik keberagamaan. Puisi ini menyinggung persoalan devosi (pengabdian kepada Tuhan) yang tercemar oleh kepentingan duniawi, perantara tidak sah, dan praktik manipulatif atas nama agama.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mempertanyakan kondisi perjalanan manusia menuju Tuhan. “Terminal terakhir menuju-Mu” dapat dipahami sebagai simbol kematian, akhir hidup, atau titik puncak penghambaan. Kehadiran “para calo” di terminal tersebut menggambarkan adanya pihak-pihak yang mengambil keuntungan, mengatur, atau memanipulasi jalan spiritual manusia.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik tajam terhadap komersialisasi iman dan penyalahgunaan otoritas religius. Penyair menyiratkan kegelisahan: mengapa jalan menuju Tuhan—yang seharusnya murni dan personal—justru dipenuhi oleh calo, yakni simbol orang atau sistem yang menjual keselamatan, pahala, atau surga demi keuntungan tertentu.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa resah dan getir. Nada tanya yang diarahkan langsung kepada Tuhan menciptakan kesan kegelisahan batin, kekecewaan, sekaligus kejujuran spiritual. Tidak ada kemarahan yang meledak, melainkan kritik yang dingin dan menohok.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk kembali pada spiritualitas yang jujur dan langsung. Penyair seolah mengingatkan bahwa hubungan manusia dengan Tuhan tidak semestinya dikuasai oleh perantara-perantara yang menyimpang, serta mengajak pembaca bersikap kritis terhadap praktik keagamaan yang telah kehilangan ketulusan.
Puisi "Devosi" adalah puisi singkat namun tajam, yang memadukan spiritualitas dengan kritik sosial. Anthony Sutanto Atmaja menunjukkan bahwa devosi sejati bukan sekadar ritual atau jalur yang diatur oleh pihak tertentu, melainkan hubungan personal yang jujur antara manusia dan Tuhan. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan kembali: sejauh mana iman telah menjadi perjalanan batin, dan sejauh mana ia telah berubah menjadi urusan “terminal” yang dikuasai para calo.
Karya: Anthony Sutanto Atmaja
Biodata Anthony Sutanto Atmaja:
- Anthony Sutanto Atmaja lahir pada tanggal 10 Juli 1980 di Gamping, Sleman.
