Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Dogmatika (Karya Remy Sylado)

Puisi “Dogmatika” karya Remy Sylado bercerita tentang perenungan manusia terhadap hakikat Tuhan dan kasih-Nya. Manusia digambarkan berada dalam ...
Dogmatika

Puisi Dogmatika

Sumber: Puisi Mbeling (2004)
Catatan:
Huruf Ibrani di tengah dibaca ehyeh esher ehyeh, harfiahnya berarti 'aku adalah aku', pernyataan Elohim kepada Musa.

Analisis Puisi:

Puisi “Dogmatika” karya Remy Sylado merupakan salah satu contoh puisi tipografi yang memadukan teks, simbol, dan tata letak visual sebagai bagian penting dari makna. Dalam puisi ini, bentuk visual tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, melainkan menjadi medium utama untuk menyampaikan gagasan ketuhanan yang bersifat reflektif dan kontemplatif.

Bentuk dan Isi Puisi

Isi puisi "Dogmatika" memperlihatkan susunan melingkar dengan teks berbahasa Latin dan Indonesia yang mengitari tulisan Ibrani di bagian tengah. Di pusat puisi terdapat frasa Ibrani “Ehyeh Asher Ehyeh”, yang dibaca ehyeh esher ehyeh, harfiahnya berarti “Aku adalah Aku”. Ungkapan ini dikenal sebagai pernyataan Elohim kepada Musa, yang menegaskan eksistensi dan kemahakuasaan Tuhan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah ketuhanan, khususnya hubungan antara manusia dengan Tuhan. Puisi ini menyoroti keberadaan Tuhan yang absolut dan kasih ilahi yang tidak terbatas, sebagaimana tersirat dalam ungkapan Ehyeh Asher Ehyeh.

Puisi ini bercerita tentang perenungan manusia terhadap hakikat Tuhan dan kasih-Nya. Manusia digambarkan berada dalam posisi mempertaruhkan diri secara batiniah di hadapan Tuhan, menyadari keterbatasannya, sekaligus mengagumi kasih ilahi yang melampaui nalar manusia.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kesadaran spiritual bahwa Tuhan hadir sebagai Zat yang tidak dapat dibatasi oleh bahasa, konsep, maupun dogma semata. Bentuk tipografi melingkar menegaskan gagasan ketakterhinggaan Tuhan dan kasih-Nya, sekaligus menggambarkan siklus ibadah manusia yang terus berulang.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini adalah ajakan untuk mengagumi dan mensyukuri kasih sayang Tuhan kepada umat-Nya. Puisi ini juga mengingatkan manusia agar menyadari bahwa kasih Tuhan tidak memiliki batas dan tidak dapat diukur dengan logika manusia semata.

Latar Waktu

Latar waktu puisi ini berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan ketika melakukan peribadatan, yakni saat manusia berada dalam kondisi reflektif, pasrah, dan penuh kekaguman terhadap kehadiran Ilahi.

Melalui puisi "Dogmatika", Remy Sylado berhasil menghadirkan puisi yang tidak hanya dibaca, tetapi juga “dilihat” dan direnungkan. Perpaduan simbol bahasa Ibrani, teks reflektif, dan tipografi melingkar memperkuat pesan ketuhanan yang mendalam. Puisi ini menegaskan bahwa sastra mampu menjadi ruang perjumpaan antara estetika, spiritualitas, dan pemaknaan hidup manusia.

Remy Sylado
Puisi: Dogmatika
Karya: Remy Sylado
© Sepenuhnya. All rights reserved.