Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Dunia Leluhur (Karya Sitor Situmorang)

Puisi "Dunia Leluhur" karya Sitor Situmorang menggambarkan hubungan yang dalam antara manusia dengan alam dan leluhur mereka.
Dunia Leluhur

Hutan jadi bayang-bayang
roh leluhur
merasuki tubuh.

Kutanam bambu
biar hangat kampung halaman.

Daunnya hijau
lebih hijau kala rimbun.

Ditenun angin
roh bertengger di ubun-ubun.

Mata tombak
tertancap di dataran.

Kurajut benang hidup
waktu yang kulalui.

Jejak pemburu
di pegunungan.

Burung
di malam berbulan.

Hidup dari sepi
minum dari daun ilalang.

Jadi jin
jadi ijuk
jadi tanah liat
jadi batu
jadi danau
jadi angin
tali dipintal
titianku ke dunia sana.

Sumber: Angin Danau (1982)

Analisis Puisi:

Puisi "Dunia Leluhur" karya Sitor Situmorang menggambarkan hubungan yang dalam antara manusia dengan alam dan leluhur mereka. Sitor Situmorang menggunakan gambaran alam yang kuat dan simbolisme yang kaya untuk membangun sebuah narasi tentang identitas, warisan, dan hubungan spiritual dengan lingkungan sekitar.

Tema Sentral

Tema utama dari puisi ini adalah hubungan manusia dengan alam dan warisan budaya leluhur. Puisi ini mengeksplorasi bagaimana alam dan lingkungan sekitar dapat menjadi sumber inspirasi dan kekuatan spiritual yang menghubungkan manusia dengan akar budaya mereka.

Gambaran Alam dan Simbolisme

Sitor Situmorang menggunakan gambaran hutan, bambu, daun hijau, angin, dan elemen alam lainnya untuk menciptakan suasana yang kuat dan mendalam. Setiap gambaran alam ini tidak hanya menggambarkan keindahan alam, tetapi juga mengandung makna simbolis yang dalam tentang kehidupan, pertumbuhan, dan transformasi.

Spiritualitas dan Warisan Budaya

Puisi ini menyoroti kehadiran roh leluhur yang merasuki alam dan tubuh manusia. Hal ini mengisyaratkan pentingnya menjaga warisan budaya dan spiritualitas sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas manusia.

Perjalanan Hidup dan Keterhubungan

Dengan menekankan "jejak pemburu di pegunungan" dan "hidup dari sepi," puisi ini menggambarkan perjalanan hidup manusia yang terhubung erat dengan alam dan lingkungan sekitar. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak terpisahkan dari alam dan warisan leluhur mereka.

Akhir yang Menggugah

Dengan kata-kata terakhir "tali dipintal, titianku ke dunia sana," Sitor Situmorang menegaskan perjalanan spiritual dan eksistensial manusia yang terhubung dengan alam dan dunia roh. Hal ini mengundang pembaca untuk merenungkan tentang peran alam dalam kehidupan manusia dan hubungan yang mendalam dengan leluhur mereka.

Puisi "Dunia Leluhur" karya Sitor Situmorang dengan indahnya menggambarkan kekuatan alam, warisan budaya, dan spiritualitas dalam kehidupan manusia, menjadikannya karya yang penuh makna dan menginspirasi.

"Puisi Sitor Situmorang"
Puisi: Dunia Leluhur
Karya: Sitor Situmorang

Biodata Sitor Situmorang:
  • Sitor Situmorang lahir pada tanggal 2 Oktober 1923 di Harianboho, Tapanuli Utara, Sumatra Utara.
  • Sitor Situmorang meninggal dunia pada tanggal 21 Desember 2014 di Apeldoorn, Belanda.
  • Sitor Situmorang adalah salah satu Sastrawan Angkatan 45; yang juga menggeluti profesi sebagai wartawan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.