Analisis Puisi:
Puisi "Genderang" adalah puisi yang berdenyut keras, berirama mars, dan sarat semangat perlawanan. Judulnya sendiri—Genderang—sudah menandai panggilan perang, tanda berkumpul, dan isyarat kebangkitan kolektif. Melalui bahasa yang retoris, repetitif, dan penuh metafora unsur alam, S.M. Ardan menampilkan suara generasi muda yang siap mengguncang tatanan lama, meskipun menyadari keterbatasan dan kefanaan perjuangan mereka.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pemberontakan dan semangat revolusioner kaum muda. Tema tersebut berpadu dengan gagasan keberanian, pengorbanan, dan kesadaran akan singkatnya kekuasaan atau kemenangan.
Puisi ini bercerita tentang sekelompok “kami”—anak-anak muda yang menyebut diri mereka “anak sonder ibu”, tumbuh tanpa perlindungan, tetapi ditempa oleh api dan batu. Mereka menyerukan kebangkitan (“Bangunlah tengkorak”), penghancuran penjara simbolik, dan pendirian “kerajaan seratus hari”, yakni kekuasaan yang singkat namun penuh makna perjuangan, sebagaimana Pemerintahan Seratus Hari Napoleon. Mereka sadar bahwa kemenangan mungkin sementara, tetapi tetap memilih maju dengan panji di tangan.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa perjuangan sejati tidak selalu diukur dari lamanya kekuasaan, melainkan dari intensitas keberanian dan kesediaan berkorban. Rujukan pada “kerajaan seratus hari” menyiratkan kesadaran historis: revolusi bisa gemilang sekaligus rapuh. Puisi ini juga menyiratkan sikap kritis terhadap ilusi kemegahan (“Jangan percaya biru-laut”) dan romantisasi kemenangan.
Suasana dalam puisi
Puisi ini menghadirkan suasana heroik, membara, dan penuh ketegangan. Ada energi kolektif yang berdesak-desakan antara keberanian, tekad, dan kesadaran akan kemungkinan kehancuran.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah ajakan untuk berani melawan ketidakadilan dan penindasan, meskipun hasilnya tidak abadi. Puisi ini menegaskan bahwa keberanian, solidaritas, dan kesetiaan pada idealisme lebih bermakna daripada kekuasaan yang panjang namun hampa.
Majas
Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini meliputi:
- Metafora, seperti “kami ini api” dan “kami ini batu” untuk melambangkan semangat dan keteguhan.
- Personifikasi, pada malam yang “memergap”.
- Repetisi, pada frasa “kami sedia selalu” dan “kami anak sonder ibu” untuk menegaskan identitas kolektif.
- Simbolisme, pada “kerajaan seratus hari” sebagai lambang kekuasaan revolusioner yang singkat namun bersejarah.
Puisi "Genderang" karya S.M. Ardan merupakan puisi perlawanan yang sadar sejarah dan sadar risiko. Dengan merujuk secara simbolik pada Pemerintahan Seratus Hari Napoleon, puisi ini menegaskan bahwa perjuangan, betapapun singkatnya, tetap layak dijalani jika dilakukan dengan keyakinan, keberanian, dan kesetiaan pada api yang dinyalakan sendiri.