Puisi: Genderang (Karya S.M. Ardan)

Puisi "Genderang" karya S.M. Ardan adalah ajakan untuk berani melawan ketidakadilan dan penindasan, meskipun hasilnya tidak abadi.
Genderang

Bangunlah tengkorak
Kami sedia selalu
Pecahkan dinding penjara
Mari dirikan kerajaan seratus hari
Untuk luluh dengan panji di tangan

Kami anak sonder ibu
Telah lama remaja, akan tetap remaja
Kami datang dengan kederasan lari
Bikin laut kehabisan ombak
Bikin bintang-bintang kehilangan kerdip
Ombak mengalah pasir pantai bukan kemegahan
Malam berat memergap
Tahan kuat tegap
Malam pekat singkat
Beri nikmat
Jangan percaya biru-laut

Kami anak sonder ibu
Diremajai api yang kami nyalakan
Kami ini api
Api dari segala api
Sedia selalu
Juga kami ini batu
Batu dari segala batu

Bangunlah tengkorak
Kami lahir
bawa lumpur, bawa cahaya
bawa detik, bawa jam
bawa warna, bawa dara
bawa udara, bawa darah
Kami telah lama remaja, akan tetap remaja
Diremajai api yang kami nyalakan

Pecahkan dinding penjara
Kami sedia selalu
Mari dirikan kerajaan seratus hari
Sebelum punah dengan panji di tangan

Catatan:
Kerajaan seratus hari = Pemerintahan seratus hari Napoleon.

Analisis Puisi:

Puisi "Genderang" adalah puisi yang berdenyut keras, berirama mars, dan sarat semangat perlawanan. Judulnya sendiri—Genderang—sudah menandai panggilan perang, tanda berkumpul, dan isyarat kebangkitan kolektif. Melalui bahasa yang retoris, repetitif, dan penuh metafora unsur alam, S.M. Ardan menampilkan suara generasi muda yang siap mengguncang tatanan lama, meskipun menyadari keterbatasan dan kefanaan perjuangan mereka.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pemberontakan dan semangat revolusioner kaum muda. Tema tersebut berpadu dengan gagasan keberanian, pengorbanan, dan kesadaran akan singkatnya kekuasaan atau kemenangan.

Puisi ini bercerita tentang sekelompok “kami”—anak-anak muda yang menyebut diri mereka “anak sonder ibu”, tumbuh tanpa perlindungan, tetapi ditempa oleh api dan batu. Mereka menyerukan kebangkitan (“Bangunlah tengkorak”), penghancuran penjara simbolik, dan pendirian “kerajaan seratus hari”, yakni kekuasaan yang singkat namun penuh makna perjuangan, sebagaimana Pemerintahan Seratus Hari Napoleon. Mereka sadar bahwa kemenangan mungkin sementara, tetapi tetap memilih maju dengan panji di tangan.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa perjuangan sejati tidak selalu diukur dari lamanya kekuasaan, melainkan dari intensitas keberanian dan kesediaan berkorban. Rujukan pada “kerajaan seratus hari” menyiratkan kesadaran historis: revolusi bisa gemilang sekaligus rapuh. Puisi ini juga menyiratkan sikap kritis terhadap ilusi kemegahan (“Jangan percaya biru-laut”) dan romantisasi kemenangan.

Suasana dalam puisi

Puisi ini menghadirkan suasana heroik, membara, dan penuh ketegangan. Ada energi kolektif yang berdesak-desakan antara keberanian, tekad, dan kesadaran akan kemungkinan kehancuran.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini adalah ajakan untuk berani melawan ketidakadilan dan penindasan, meskipun hasilnya tidak abadi. Puisi ini menegaskan bahwa keberanian, solidaritas, dan kesetiaan pada idealisme lebih bermakna daripada kekuasaan yang panjang namun hampa.

Majas

Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini meliputi:
  • Metafora, seperti “kami ini api” dan “kami ini batu” untuk melambangkan semangat dan keteguhan.
  • Personifikasi, pada malam yang “memergap”.
  • Repetisi, pada frasa “kami sedia selalu” dan “kami anak sonder ibu” untuk menegaskan identitas kolektif.
  • Simbolisme, pada “kerajaan seratus hari” sebagai lambang kekuasaan revolusioner yang singkat namun bersejarah.
Puisi "Genderang" karya S.M. Ardan merupakan puisi perlawanan yang sadar sejarah dan sadar risiko. Dengan merujuk secara simbolik pada Pemerintahan Seratus Hari Napoleon, puisi ini menegaskan bahwa perjuangan, betapapun singkatnya, tetap layak dijalani jika dilakukan dengan keyakinan, keberanian, dan kesetiaan pada api yang dinyalakan sendiri.

S.M. Ardan
Puisi: Genderang
Karya: S.M. Ardan

Biodata S.M. Ardan:
  • S.M. Ardan lahir pada tanggal 2 Februari 1932 di Medan, Sumatra Utara.
  • S.M. Ardan meninggal dunia pada tanggal 26 November 2006.
© Sepenuhnya. All rights reserved.