Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Gerimis dan Dirimu (Karya Fitri Yani)

Puisi "Gerimis dan Dirimu" karya Fitri Yani melibatkan elemen alam, seperti gerimis, angin, dan debu, sebagai metafora untuk mengekspresikan ...
Gerimis dan Dirimu

gerimis kerap begitu pasrah tergores dari langit
sementara angin yang menerbangkan butiran debu
bagaikan bisikan-bisikan pasir
yang memanggil sukmaku dalam kegamangan

"seharusnya engkau berdoa" katamu
"menunggu musim rindu tiba?" tanyaku
sambil menepis gerimis di pelipismu

"kita harus luruh bersama angin
dan seolah lenyap dalam angan cuaca
biarkan debu-debu itu melarut dalam gerimis
sebab tak ada yang pasti dalam perjalanan ini"

setiap jejak telah kita insyafi sebagai keheningan
yang memanjang entah ke mana
dan akan kubiarkan tangan-tangan musim 
menguburnya.

Mei-Juni 2007

Analisis Puisi:

Puisi "Gerimis dan Dirimu" karya Fitri Yani adalah karya yang melibatkan elemen alam, seperti gerimis, angin, dan debu, sebagai metafora untuk mengekspresikan kompleksitas hubungan dan perjalanan hidup.

Metafora Alam

  • Gerimis: Digambarkan sebagai sesuatu yang pasrah dan tergores dari langit. Ini bisa diartikan sebagai simbol ketidakpastian atau keadaan yang tidak dapat diubah dalam hubungan atau kehidupan.
  • Angin: Menerbangkan butiran debu, seolah-olah memberikan suara atau pesan-pesan yang memanggil sukmaku dalam kegamangan. Angin bisa mewakili perubahan atau suara batin yang terdengar namun sulit dipahami.
  • Debu: Bisikan-bisikan pasir, seperti panggilan dalam kegamangan. Debu mungkin mencerminkan kenangan atau jejak-jejak masa lalu yang mengikuti.

Dialog Antara Penutur dan Lawan Bicara

  • Dialog Pertama: Penutur menyuarakan pertanyaan tentang menunggu musim rindu dan mendapatkan respons yang menyarankan untuk berdoa. Ini mungkin mencerminkan kebutuhan untuk berharap dan berdoa dalam menghadapi ketidakpastian dan kegamangan.
  • Dialog Kedua: Penutur dan lawan bicara membahas perluasan diri ke dalam alam, menjadi bagian dari angin, dan mengizinkan diri lenyap dalam angan cuaca. Ini menunjukkan konsep relasi manusia dengan alam dan bagaimana keduanya dapat saling memengaruhi.

Ketidakpastian dan Penguburan Jejak

  • Kata-kata seperti "tak ada yang pasti dalam perjalanan ini" dan "tak ada yang pasti dalam musim rindu" menciptakan rasa ketidakpastian dan keheningan yang melibatkan jejak-jejak yang terkubur.
  • Pemilihan kata "luruh" dan "menguburnya" merujuk pada ide penghentian atau penguburan sesuatu yang mungkin telah berakhir atau perlu ditinggalkan.

Kesimpulan Bersama Alam

  • "Setiap jejak telah kita insyafi sebagai keheningan" menyiratkan pemahaman bersama tentang keheningan atau ketidakpastian dalam hubungan atau perjalanan hidup.
  • Pemilihan kata "menguburnya" menunjukkan suatu bentuk penerimaan dan kesediaan untuk melepaskan atau mengubur sesuatu yang mungkin telah menjadi beban.
Puisi "Gerimis dan Dirimu" menciptakan gambaran puitis yang intens dan mendalam tentang hubungan dan perjalanan hidup, memanfaatkan elemen alam sebagai simbol dan metafora. Melalui dialog dan deskripsi alam, Fitri Yani berhasil mengekspresikan kompleksitas dan ketidakpastian dalam hubungan, sambil menawarkan kesadaran dan penerimaan terhadap keheningan dan perubahan.

Fitri Yani
Puisi: Gerimis dan Dirimu
Karya: Fitri Yani

Biodata Fitri Yani:
  • Fitri Yani lahir pada tanggal 28 Februari 1986 di Liwa, Lampung Barat, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.