Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Individualisme dalam Kolektivisme (Karya Remy Sylado)

Puisi “Individualisme dalam Kolektivisme” karya Remy Sylado bercerita tentang keberadaan individu (“AKU”) yang hidup di tengah banyak “kau”, yakni ...
Individualisme dalam Kolektivisme

kau kau kau kau kau kau kau
kau kau kau kau kau kau kau
kau kau kau kau kau kau kau
kau kau kau AKU kau kau kau
kau kau kau kau kau kau kau
kau kau kau kau kau kau kau
kau kau kau kau kau kau kau

Sumber: Puisi Mbeling (2004)

Analisis Puisi:

Puisi “Individualisme dalam Kolektivisme” karya Remy Sylado merupakan salah satu contoh puisi eksperimental yang menekankan kekuatan visual, tipografi, dan pengulangan bunyi. Puisi ini tidak menghadirkan narasi panjang, melainkan memanfaatkan susunan kata dan posisi tipografis untuk menyampaikan gagasan yang bersifat reflektif dan filosofis tentang hubungan individu dengan lingkungan sosialnya.

Bentuk dan Struktur Puisi

Isi puisi ini hanya terdiri atas dua kata, yaitu “kau” dan “AKU”, yang disusun dalam bentuk menyerupai bidang persegi. Kata “kau” diulang secara dominan dan mengelilingi satu kata “AKU” yang diletakkan di bagian tengah. Susunan ini mengajak pembaca untuk menggunakan imaji visual, sebab makna puisi tidak hanya terletak pada kata, tetapi juga pada posisi dan jarak antarunsur di dalam teks.

Majas dan Gaya Bahasa

Puisi ini menggunakan majas aliterasi, yaitu perulangan bunyi yang sama pada kata “kau” di setiap barisnya. Pengulangan ini menciptakan ritme yang monoton sekaligus menekan, seolah-olah keberadaan “kau” begitu dominan dan tidak terhindarkan. Selain itu, puisi ini juga memanfaatkan simbolisme, di mana kata “kau” dan “AKU” tidak sekadar menjadi kata ganti orang, tetapi lambang relasi sosial.

Tema

Tema utama puisi ini adalah individualisme dalam ruang kolektivisme. Puisi ini bercerita tentang keberadaan individu (“AKU”) yang hidup di tengah banyak “kau”, yakni orang lain, masyarakat, atau lingkungan sosial. Tokoh “AKU” menjadi pusat, sementara “kau” berada di setiap sisi, mengelilingi dan mengitari keberadaan dirinya.

Kedudukan “kau” yang mengitari “AKU” dapat dimaknai sebagai pengikut, pengawas, atau bahkan pelindung, tergantung sudut pandang pembaca. Dengan demikian, puisi ini membuka ruang interpretasi yang luas tentang relasi antara diri dan orang lain.

Makna Tersirat dalam Puisi

Makna tersirat dari puisi ini menunjukkan bahwa individu tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Meskipun “AKU” berada di pusat, keberadaannya tetap dikelilingi oleh “kau” yang jumlahnya jauh lebih banyak. Hal ini menggambarkan kondisi manusia yang selalu berada dalam tekanan, pengaruh, atau dukungan kolektif, meskipun ia berusaha mempertahankan jati dirinya sebagai individu.

Puisi ini juga dapat dimaknai sebagai kritik atau refleksi sosial, bahwa dalam masyarakat kolektif, individu sering kali tenggelam, terkurung, atau justru dibentuk oleh lingkungannya.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung reflektif dan kontemplatif. Pembaca diajak merenungkan posisi diri sendiri di tengah keramaian sosial, apakah sebagai pusat yang disadari atau sekadar bagian kecil dari kumpulan “kau” yang seragam.

Amanat atau Pesan Puisi

Amanat / pesan yang disampaikan puisi ini adalah ajakan untuk memahami dan mencari jati diri di tengah kehidupan sosial yang penuh tekanan kolektivitas. Remy Sylado seolah mengingatkan bahwa individu perlu menyadari keberadaannya sebagai “AKU” tanpa mengabaikan peran “kau” yang mengelilinginya.

Puisi “Individualisme dalam Kolektivisme” menunjukkan bahwa kesederhanaan kata dapat menyimpan makna yang dalam. Melalui pengulangan, tipografi, dan simbol kata ganti, Remy Sylado berhasil menghadirkan puisi yang tidak hanya dibaca, tetapi juga dilihat dan direnungkan. Puisi ini menegaskan bahwa identitas individu selalu terbentuk, diuji, dan dipertanyakan dalam ruang kolektif tempat ia hidup.

Remy Sylado
Puisi: Individualisme dalam Kolektivisme
Karya: Remy Sylado
© Sepenuhnya. All rights reserved.