Jaring Batu
Ia menjaring asin, dari uap laut yang bau langu, di
rumah terumbu
Aku tak percaya pada batu, seperti
ketidakpercayaanmu pada rindu.
Pecah ranah, oleh kubu waktu, katamu.
Ia hidupi malam, mengulum garam di tiang
tongkang di risau dingin yang beranak di
dadanya yang telanjang.
Tak ada kisah, selain yang punah. Dikau pasti
malu memecah batu, di saat yang lain memukat
cemburu.
Tapi di Pambang atau di rangsang, orang-orang
menyimpan pekung ikan dalam sarung,
membumbui lidah dengan serapah.
Dan parang itu, menarik petang, merobohkan
perahu, untuk tidak pulang.
Di mana aku, perantau yang tersangkut di bakau
mendedah melayu di negeri yang tengah
mengigau.
Ia bangun. Para perempuan menisik rumbia pada
kopiahnya. Atap dari asap yang kau hisap, rumah
dari musim yang pengap.
Aku terbantun, merangkai pantun di atas pasir.
Kukira inilah pesisir, tempat angin mencipta
desir. Tapi mereka melempar jala, di tengah
kobaran mimpi yang dilahap api.
Dan parang itu, kembali menakik petang
merobohkan perahu, untuk tidak pulang.
Aku di mana, saat jaring insang, melilit tubuhku
dari belakang.
Saat cemburu yang lain memukat batu dari masa lalu
yang berkarat di nafasmu.
Riau, 2001
Analisis Puisi:
Puisi “Jaring Batu” karya Marhalim Zaini merupakan sajak yang padat, simbolik, dan bergerak dalam lanskap pesisir Melayu. Puisi ini tidak hanya menghadirkan ruang geografis laut dan pantai, tetapi juga ruang batin yang dipenuhi kegelisahan, keterasingan, serta luka ingatan. Dengan diksi yang keras dan citraan yang gelap, penyair membangun dunia puitik yang rapuh, asin, dan penuh pertarungan antara rindu, waktu, dan identitas.
Tema
Tema utama puisi ini adalah keterasingan dan konflik batin dalam kehidupan pesisir dan perantauan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kerapuhan ingatan, cemburu sebagai luka sosial, serta ketidakmungkinan pulang, baik secara fisik maupun emosional. Laut dan pesisir menjadi metafora kehidupan yang keras dan tidak ramah.
Puisi ini bercerita tentang seseorang sebagai perantau yang terjebak di wilayah pesisir—di antara bakau, pasir, dan laut—serta sosok “ia” yang hidup dari kerasnya malam dan asin laut. Ada gambaran aktivitas nelayan, kehidupan rumah terumbu, tongkang, jala, dan parang, yang semuanya berkelindan dengan perasaan tidak percaya, cemburu, dan kehilangan. Penyair mempertanyakan posisinya sendiri: di mana ia berada saat jaring—baik jaring insang maupun jaring batin—melilit dan menahannya.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap romantisasi kehidupan pesisir dan mitos pulang. “Jaring batu” menjadi simbol sesuatu yang mustahil namun tetap memerangkap: kenangan, rindu, cemburu, dan masa lalu yang membatu. Puisi ini juga menyiratkan bahwa kehidupan sosial dan budaya bisa menjadi jerat yang menahan individu, membuatnya terperangkap dalam siklus luka yang terus berulang.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi ini muram, gelap, dan pengap. Nuansa asin, bau langu, dingin, dan malam menciptakan kesan tertekan dan tidak nyaman. Ada pula suasana gelisah dan terancam, terutama ketika perahu diruntuhkan “untuk tidak pulang” dan jaring melilit tubuh penyair dari belakang.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah peringatan bahwa manusia bisa terperangkap oleh masa lalu, cemburu, dan ingatan kolektif jika tidak berani menyadarinya. Puisi ini juga menyiratkan bahwa perjalanan—baik merantau maupun pulang—tidak selalu membawa keselamatan, sebab luka batin sering kali ikut terbawa dan menjelma jerat baru.
Puisi “Jaring Batu” adalah puisi yang menggugat rasa aman dan romantika kampung halaman. Marhalim Zaini menghadirkan pesisir sebagai ruang yang sarat luka, tempat manusia bergulat dengan rindu, cemburu, dan masa lalu yang membatu. Puisi ini menegaskan bahwa tidak semua jaring menangkap ikan—sebagian justru menangkap manusia itu sendiri.
Karya: Marhalim Zaini
Biodata Marhalim Zaini:
- Marhalim Zaini, S.Sn, M.A., lahir pada tanggal 15 Januari 1976 di desa Teluk Pambang, Bengkalis, Riau.