Ke Mana Perginya Alam Lestari
Dulu sering ku lihat hamparan hijau sawah beratapkan langit biru
Kiri kanan sawah, tengahnya sungai
Di antara gunung matahari terbit malu-malu
Namun sekarang kemana?
Lapisan tanah becek berwarna coklat setiap habis hujan
Kini tanahku berwarna abu
Lama kucari tanah becekku
Tapi kenapa sekarang tak nampak?
Cemara kehidupan tinggi menjulang
Menjadi rumah bagi banyak hewan ciptaan Tuhan
Sekarang cemaranya tidak berwarna hijau dan teduh
Tetap tinggi tapi banyak jendela, banyak lampu
Mengapa bisa begitu?
Sering banjir, sering longsor
Di barat ada asap bikin marah tetangga
Padahal dahulu tidak begitu
Ibu pertiwi cuma tersedu tapi tidak malu
Sayang sekali ibu pertiwi kini tidak hanya sedih
Menanggung pilu sambil tertatih
Anak-anaknya nakal semua
Biar dimarahi tapi tak pernah jera
Kupang, 26 Januari 2026
Analisis Puisi:
Puisi "Ke Mana Perginya Alam Lestari" karya Aprianus Gregorian Bahtera merupakan puisi kritik ekologis yang kuat dan lugas. Melalui perbandingan masa lalu dan masa kini, penyair menghadirkan potret perubahan alam yang kian rusak akibat ulah manusia. Nada pertanyaan yang berulang memperlihatkan kegelisahan, sekaligus keprihatinan mendalam terhadap nasib lingkungan hidup.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kerusakan lingkungan dan hilangnya alam lestari akibat keserakahan manusia. Puisi ini juga mengangkat tema tanggung jawab manusia terhadap alam serta hubungan emosional antara manusia dan bumi sebagai ibu pertiwi.
Puisi ini bercerita tentang kenangan akan alam yang dahulu hijau, subur, dan seimbang, lalu dibandingkan dengan kondisi alam saat ini yang rusak. Sawah, sungai, gunung, cemara, dan hewan-hewan menjadi saksi perubahan tersebut. Alam yang dulu hidup dan menenangkan kini berubah menjadi kawasan abu-abu, penuh bangunan, banjir, longsor, dan asap.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik tajam terhadap perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan. Penyair menyiratkan bahwa bencana alam seperti banjir, longsor, dan polusi bukanlah kejadian alamiah semata, melainkan akibat langsung dari eksploitasi dan pengabaian manusia. Personifikasi “ibu pertiwi” menegaskan bahwa alam bukan objek mati, melainkan entitas yang terluka oleh perbuatan anak-anaknya sendiri.
Puisi ini juga menyiratkan rasa bersalah kolektif yang sering diabaikan, meski dampaknya semakin nyata.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi ini terasa prihatin, muram, dan penuh kegelisahan. Kerinduan terhadap masa lalu berpadu dengan kemarahan dan kesedihan atas kerusakan yang terjadi saat ini.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah ajakan untuk menyadari kesalahan dan memperbaiki hubungan manusia dengan alam. Puisi ini mengingatkan bahwa alam tidak pernah membalas dengan dendam, tetapi kerusakan yang ditimbulkan manusia akan kembali kepada manusia sendiri. Kesadaran dan perubahan sikap menjadi keharusan sebelum “ibu pertiwi” benar-benar runtuh.
Puisi "Ke Mana Perginya Alam Lestari" karya Aprianus Gregorian Bahtera adalah suara kegelisahan ekologis yang jujur dan menyentuh. Dengan bahasa yang sederhana namun tegas, puisi ini menjadi pengingat bahwa kehancuran alam bukan sekadar kehilangan estetika, melainkan luka mendalam bagi ibu pertiwi yang terus menanggung pilu akibat ulah manusia sendiri.