Kembara Ba
Di setiap sudut-sudut halamanmu aku ada antara
baris-baris dan titik-titik
Yang lainpun
Sementara geletar tangan yang renta mulai
membawaku ke ujung rindunya
Di pucuk lidi tersandar aku
Di bibir yang tak lagi fasih dan sepasang mata
rabun pasti melahapku habis-habis dalam sekelip
tak pasti di mana
Tangan kecil mungil dingin menyentuh
wajahku ke wajah-wajah lain
Sungguh dari sekedar jeling matanya yang bulat
dan beningnya
Betapa asing ku di sini
Biarpun angin yang menggantung pada sepi
membawa hawa panas tubuh berbarel minyak
Di sini berbisik lewat desisnya pada lembar
pertama
Jembalang tanah tuk kedayan datang
Pekiknya setengah berlari
Sesaat entah wajah siapa lagi
Hidmat menciumi halamanmu
Lalu terucap aku
Kemudian Sin Mim Lam Lam Ha
Betapa aku damai dalam keseluruhan ini ya Tuhan
Dia tengah mengejaku
Rindu sebutlah seperti yang kau kasih
Biar aku benar benar lumat dalam bibir dalam batin
Antara baris dan titik
Pun lainnya
Bismillah dalam geletar bibir yang renta
Di sana aku berangkai makna
Pekanbaru, Januari 1999
Analisis Puisi:
Puisi “Kembara Ba” karya Kunni Masrohanti adalah puisi yang bergerak dalam ruang batin, bahasa, dan spiritualitas. Puisi ini tidak bercerita secara linear, melainkan mengalir sebagai pengalaman eksistensial: tentang huruf, bacaan, tubuh, ingatan, dan doa. Dengan bahasa yang simbolik dan lirih, penyair menghadirkan perjalanan (“kembara”) sebuah makna yang hidup di antara halaman, bibir, dan kesadaran manusia.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjalanan makna dan spiritualitas dalam bahasa dan bacaan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kehadiran diri dalam teks, ingatan lintas usia, serta relasi antara manusia, huruf, dan Tuhan. Huruf dan kata tidak diperlakukan sebagai benda mati, melainkan sebagai pengalaman hidup yang terus berpindah dan bermakna.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang hadir di antara baris dan titik sebuah halaman. Penyair menjelma sebagai sesuatu yang dibaca, diucapkan, diraba, dan dirasakan oleh berbagai sosok: tangan renta dengan mata rabun, tangan kecil yang mungil, hingga bibir yang mengeja huruf demi huruf. Puisi ini menggambarkan proses membaca dan mengeja sebagai perjalanan batin, dari ketidakpastian, keterasingan, hingga kedamaian spiritual.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa makna sejati tidak berdiri sendiri, melainkan lahir dari perjumpaan antara teks, manusia, dan keyakinan. Huruf-huruf (“Ba”, “Sin Mim Lam Lam Ha”) bukan sekadar simbol linguistik, tetapi menjadi jalan menuju penghayatan iman dan rasa damai. Puisi ini juga menyiratkan bahwa keterbatasan fisik—usia renta, mata rabun, tangan gemetar—tidak menghalangi kedalaman makna, justru memperkaya pengalaman spiritual.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi ini hening, kontemplatif, dan sakral. Ada nuansa sunyi, pelan, dan intim yang terasa kuat, terutama melalui gambaran bisikan, geletar bibir, dan doa. Di bagian akhir, suasana mengarah pada ketenangan dan kepasrahan, ketika penyair merasa “damai dalam keseluruhan ini”.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah ajakan untuk memaknai bahasa dan bacaan sebagai jalan penghayatan batin dan spiritual, bukan sekadar aktivitas intelektual. Puisi ini menegaskan bahwa keikhlasan, kesabaran, dan kekhusyukan dapat menumbuhkan makna yang utuh, bahkan dalam keterbatasan manusia.
Puisi “Kembara Ba” adalah sajak yang mengajak pembaca merenungi kembali hubungan antara bahasa, tubuh, dan iman. Kunni Masrohanti menghadirkan puisi sebagai ruang perjalanan makna—di mana huruf bukan hanya dibaca, tetapi dirasakan, dihayati, dan akhirnya menjadi doa. Puisi ini menegaskan bahwa di antara baris dan titik, manusia dapat menemukan dirinya, dan juga Tuhannya.
Karya: Kunni Masrohanti
Biodata Kunni Masrohanti:
- Kunni Masrohanti lahir pada tanggal 11 April 1974 di Siak Sri Indrapura, Riau, Indonesia Indonesia.